Travelling

Exploring Indonesian's magnificent places is my passion

Mountain Bike

The most exercise I did during my free time

Photography

To capture the beauty of the places I've visited

Culinary

The other reason why I love to go traveling

Engineering

Because big dreams never come so easy

Moto-Adventure

Graze the road and enjoy the adventure from each and every miles

Showing posts with label Beach and Sea. Show all posts
Showing posts with label Beach and Sea. Show all posts

Eksotisme Flobamora, Jelajah Flores, Kembali Ke Masa Kecil (Part 3/7)

Akhirnya kami sampai di Kepulauan Komodo. Satu kata : EPIC. Ini benar-benar indah, menakjubkan. Hari pertama kami di Kepulauan Komodo, kami mengunjungi Gili Laba dan Pink Beach. Kali ini kami mengakhiri perjalanan hari pertama di tempat yang menurut saya paling Epic paling Eksotis dari semua lokasi yang kami kunjungi selama di Kepulauan Komodo... Pulau Padar!!. Selain itu kami juga akan bertemu satwa ikon di kawasan ini, yaitu Komodo, serta tempat mengunjungi sunset terindah dan snorkeling di taman laut yang cantik di Pulau Kanawa. Sayangnya pada hari ini adalah hari terakhir penjelajahan laut kami yang rencananya akan berakhir malam ini di Labuan Bajo, yang totalnya memakan waktu 4 hari 4 malam.

Golden hour Pulau Padar, pemandangan mahal bro!

3. Pulau Padar, Pulau Eksotis dengan tiga pantai berbeda warna.

Sore itu saya sudah bersiap dengan ransel kamera dan menjadi tim pertama yang menepi di pulau itu. Di dekat pantai, sudah merapat sebuah kapal yang ada bendera putih bertuliskan "My Trip My Adventure", sebuah program televisi lokal yang menceritakan pengalaman perjalanan di Indonesia. Entah memang kru program tersebut atau hanya fans, tapi dari fanpage di instagram, MTMA memang sedang syuting disini, di Kepulauan Komodo, di waktu yang sama. Hal ini membuat si Budi yang norak memanggil-manggil Nadine di kapal tersebut.. ah bikin malu saja. Sampai merapat di pantai, saya kaget betapa banyak sampah di pantai ini, pantai memang didominasi kerikil karang dibandingkan pasir. Mungkin terbawa arus laut ke tepian pantai sini.

Ayo mendaki Pulau Padar, masih setengah jalan nih.

Mendaki sedikit bukit di depan kami, akhirnya ada pertigaan. Ke kiri adalah tebing yang lumayan harus mendaki, ke kanan bukit-bukit terjal yang harus pakai alat-alat pendakian. Ya kami ke kiri lah. Saya berjalan lebih lambat dari yang lain karena sambil mengambil gambar keindahan disini. Belum lagi saya belok dulu ke kiri lagi sampai ke tebing dimana di bawah saya adalah jurang langsung ke laut, dan terlihat kapal-kapal yang parkir di lokasi labuh. Saya langsung menggelar lapak dengan membuka tripod dan mengambil gambar dari atas tebing itu, terutama beberapa ekor elang laut yang terbang bermanuver di dekat posisi saya duduk. Tim dari kapal yang ada bendera MTMA pun datang dan menerbangkan drone dji phantom. Saya takut mengganggu kalau ini beneran syuting sehingga saya balik arah dan lanjut mendaki lagi ke posisi teman-teman yang sudah sampai atas. Kami di atas sampai sunset dimana tinggal tersisa rombongan fotografer yang tripodnya berbaris rapi termasuk tripod saya. Sayangnya saya tidak membawa filter apapun untuk mendapat gambar optimal sunset disini. Belum lagi hanya saya yang membawa headlamp, dan kami berlima (saya, Rima, Hendra, Rico, dan Zhafir) akan turun kembali ke pantai dengan gelap-gelapan. Ya sudah, saya memutuskan pulang, eh Rima malah panik katanya iphone nya dia tidak ada, mungkin jatuh.. wah, akhirnya saya meminjamkan headlamp saya dan kami mulai mencari. Hingga malam datang, iphone nya masih belum ketemu, sehingga diputuskan besok pagi kami akan kembali kesini sekaligus melihat sunrise. Kami lalu turun pelan-pelan dan terlihat beberapa kru kapal rombongan fotografer tadi menyusul dan bertemu kami di tengah jalan dan menyarankan kami tidak bermalam di Pulau Padar karena punya sejarah ditinggali Komodo meskipun sudah tidak terlihat lagi, dan ULAR DERIK aka rattlesnake yang berbisa. Wah.. makin semangat kami turun hahahaha.

Menikmati sunset Pulau Padar

Sampai di pantai, saya mengarahkan headlamp dilambai-lambaikan untuk memanggil kapal jemputan. Akhirnya kapal jemputan datang dan kami sampai di kapal untuk makan malam yang sudah terlambat. Yang lain sudah makan malam dan khawatir kami hilang. Saya menceritakan bahwa ada musibah iphone Rima jatuh dan besok pagi kami akan kembali kesana. Pagi buta keesokan harinya, rombongan kemarin malam plus Melda dan Wuki berangkat kembali ke Pulau Padar diantar kru kapal. Sampai di Pulau tidak berapa lama terdengar suara ringtone, ternyata dari alarm iphone Rima!!! Dicari-cari ternyata selama ini iphone tersebut ada di saku tersembunyi di tas tangannya. Ya Elah!. Diputuskan meskipun sudah ketemu kami lanjut semua untuk melihat sunrise. Akhirnya spot yang sama, namun di pagi hari, keindahan Pulau Padar yang sebenarnya terlihat. Jujur, Pulau Padar sangat sangat sangat indah jika sunrise, bukan sunset. Momen optimalnya adalah saat golden hour, dimana cahaya keemasan dari matahari pagi menyinari Pulau Padar dengan sangat sempurna, bahkan jika ada yang mau berfoto dengan latar tersebut, arah cahaya jatuh dari sudut yang pas menyinari objek yang mau difoto.

Golden hour Pulau Padar

Jiwa narsis memanggil, kami bergantian berfoto. Tripod saya pasangkan ke TG3 untuk timelapse ke arah laut (matahari terbit) sedangkan Zhafir menggunakan iphone dan aplikasi Lapse-it membantu untuk ke arah bukit-bukitnya. Di pagi hari jelas terlihat bahwa Pulau Padar memiliki tiga pantai berbentuk bulan sabit di ketiga sisi pulaunya, di kiri berwarna hitam, ditengah berwarna merah dan di kanan berwarna putih. Ini pemandangan mahal Bung!! Teman-teman yang lain yang malas mendaki kesini memilih jalur kanan di pertigaan bawah tadi ke arah perbukitan terjal. Sedangkan mayoritas masih leyeh-leyeh di kapal, tidak ikut turun ke Padar lagi. Mereka kelihatannya sedang menghemat tenaga karena tidak lama setelahnya, kami rencananya akan trekking Komodo di Pulau Rinca.

Sunrise dari atas Pulau Padar
4. Pulau Rinca, Kota nya komodo. 

Begitu kami sampai di kapal dan mengabarkan bahwa iphone Rima tidak pernah kemana-mana, Rima langsung disoraki teman-teman yang lain. Pagi itu kami langsung sarapan lagi dengan menu yang sama dengan hari-hari sebelumnya, yaitu pancake pisang yang ditaburi gula pasir dan disiram susu kental manis coklat. Saya memperlihatkan keindahan sunrise di Padar, sunrise terbaik selama perjalanan laut ini, lewat foto-foto saya. Hasil timelapse Zhafir di Padar pagi itu pun sangat indah sehingga saya memintanya untuk dipakai di video dokumentari pendek saya. Kru kapal meminta kami bersiap untuk trekking, dan saya sih pakai baju yang saya pakai dari pagi saja, toh sudah kepalang kena keringat. Sambil sarapan saya melihat burung-burung laut yang terbang menukik vertikal dan menghujam ke laut, mirip rudal tomahawk atau javelin.

Gerbang tunggu ranger di Loh Buaya
Resort Loh Buaya, Konservasi Komodo Pulau Rinca

Tidak berapa lama, kapal melambat dan di depan seperti memasuki kawasan hutan mangrove. Kapal kami menyusuri pantai mangrove tersebut sampai di suatu dermaga yang bernama Loh Buaya. Loh artinya teluk, buaya artinya ya buaya, tepatnya Komodo dianggap sebagai buaya di darat sedangkan di pantai mangrove nya ada buaya muara. Untung tidak ada buaya terbang hahahaha. Di Loh Buaya, kami diminta menunggu di depan gerbang karena untuk masuk ke area Loh Liang, kami harus ditemani ranger, sebab si buaya darat alias komodo tadi bebas berkeliaran di kawasan ini. Akhirnya ranger penjemput datang dan memandu kami ke kantor ranger di dalam kawasan konservasi. Sepanjang jalan melewati hutan mangrove yang berlumpur dan berbau khas, banyak terlihat monyet abu-abu ekor panjang dan babi hutan. Di antara lumpur, terlihat banyak lubang-lubang kepiting dan kepiting-kepiting kecil yang sedang makan. Beberapa meter di depannya sudah sampai di jalan pelataran kayu dan gerbang yang ada patung komodo nya. Dibanding gerbang yang ada di pulau komodo, di Pulau Rinca ini gerbangnya lebih sederhana. Di ujung jalan pelataran kayu, sampai di daratan kantor Loh Liang dan ada komodo ukuran sedang yang nangkring di depan kantor tersebut. Turis-turis asing malah mengerumuni komodo tersebut tanpa didampingi pemandu, bahkan belum sempat dibriefing. Bahkan teman satu rombongan kami nekat melompati komodo tersebut.. dasar sinting. Untung tidak digigit. Akhirnya ranger datang dan membubarkan kerumunan itu. Kedatangan ranger tepat waktu karena si komodo tersebut kelihatannya sangat terganggu lalu berjalan meninggalkan tempat itu. Di padang rumput tidak jauh dari sana, di bawah pohon kom, ada seekor komodo kecil yang berjalan sendirian. Inilah kelebihan Pulau Rinca dibandingkan Pulau Komodo. Di Pulau Rinca, jumlah komodonya lebih sedikit, namun menempati area yang sangat jauh lebih kecil dibandingkan Pulau Komodo. Jadi lebih padat penduduk komodo disini sehingga kemungkinan bisa melihatnya lebih besar. Ibaratnya disini adalah kota komodo yang padat sedangkan di Pulau Komodo adalah kampungnya hahahaha. Namun ukuran rata-rata komodo disini tidak sebesar di Pulau Komodo nya.

Membawa tongkat bercabang untuk menghalau komodo yang menyerang

Rombongan kami lalu diarahkan ke salah satu lapangan dan dipecah menjadi empat grup yang masing-masing grup ditemani dua ranger. Disana ada suatu pagar yang dipenuhi tengkorak kepala rusa dan kerbau, yang kata rangernya adalah mangsanya komodo disini. Memang disekitar sini banyak kerbau liar dan rusa, dan mungkin monyet pun dimakan juga oleh si komodo ini. Pertanyaan pertama yang dilontarkan oleh ranger adalah apakah ada yang sedang haid?, dan ternyata ada. Maka teman saya yang saat itu haid harus dekat-dekat dengan ranger yang membawa tongkat panjang bercabang. Katanya tongkat ini paling efektif untuk menghalau komodo, yaitu untuk menahan leher atau ketiak komodo. Kenapa harus bercabang? Karena kalau tongkatnya tidak bercabang, nanti komodonya luka tertusuk dong, hahahaha kidding. Petunjuk ranger lainnya adalah jangan membuat gerakan tiba-tiba, tidak ada pakaian/aksesoris yang terjuntai, tidak berisik, serta tidak menggunakan flash kamera.Trekking sebentar, kami sudah menemukan komodo lainnya di dekat dapur suatu rumah. Secara insting, mereka akan mencari sumber makanan yang bisa mereka dapat dengan mudah, maka mereka menunggu di dapur. Mereka seperti sedang tiduran namun dalam sikap waspada, maka kami pun harus waspada juga. Air liur komodo yang beracun terlihat selalu menjuntai dari mulutnya. Kami melanjutkan trekking dan sang pemandu berhenti di beberapa tempat untuk memerlihatkan lubang sarang komodo, dimana mereka menggali lubang-lubang tipuan agar telur mereka aman dari predator telur komodo seperti biawak dan babi hutan. Namun ketika telur menetas, ancaman terbesar komodo kecil adalah induknya dan komodo dewasa lainnya yang kanibal. Karenanya begitu menetas, mereka harus memanjat pohon dan tumbuh besar hingga remaja di atas pohon. Mereka akan memangsa burung dan telur burung. Komodo kecil dipersenjatai racun namun seiring beranjak dewasa, racun tersebut digantikan oleh bakteri karena kebiasaannya memakan bangkai hewan mangsanya yang sudah membusuk. Bakteri ini menyebabkan sakit pada area luka tergigit dan menyebabkan infeksi parah. Setelah mangsa lemas atau kadang sudah mati membusuk, maka bangkai tersebut akan dimakan dengan dicabik-cabik dan ditelan utuh. Karena itu di kotoran komodo, yang tersisa adalah kotoran yang mayoritas adalah tulang dan bulu. Meskipun terlihat bergerak lambat, komodo dapat berlari cepat dalam jarak pendek, karena itu kita harus mengambil jarak yang cukup ketika ada komodo.

Seekor komodo yang mengawasi gerak-gerik rombongan kami
Trekking mendaki jalan tanah karang, melintasi sungai, dan akhirnya savana, tanjakan yang tidak nanjak amat bisa membuat stamina sangat terkuras akibat panas terik cuaca pagi itu. Namun semua terbayar setelah mencapai puncak bukit dan terlihat pemandangan Loh Buaya dari atas. Setelah itu kami menuruni bukit kembali ke kantor. Di kantin terdapat penjualan minuman ringan yang cukup mahal. Patung pahatan kayu komodo yang saya beli di Pink Beach dari penduduk setempat seharga Rp.50 ribu disini dijual Rp. 250 ribu. Saya disini membeli emblem untuk melengkapi emblem-emblem taman nasional yang saya jahit di tas carrier saya. Harganya lumayan, Rp.50 ribu. Setelah beristirahat sejenak, kami kembali ke kapal untuk menuju spot Manta Run.

Loh Buaya atau Teluk Buaya

5. Manta dimana dan sunset terindah Kanawa

Selesai dari Pulau Rinca yang memberikan oleh-oleh celana pendek yang robek parah akibat terjatuh, saya langsung bergegas menuju kapal untuk berganti baju snorkeling. Tujuan kami berikutnya adalah Manta Run, sesuai namanya, kami akan ke lokasi dimana banyak terdapat pari Manta. Disebut run karena lokasi Manta tersebut berarus deras, sehingga kru kapal membatasi yang boleh turun hanya yang mahir berenang/snorkeling saja. Sampai di lokasi sudah ada banyak kapal yang berkeliling. Kami menanyakan apakah kapal tersebut melihat manta disini, namun mereka menjawab sudah tidak ada. Kami terlambat, karena hari sudah terik, para manta pasti sudah berteduh ke cleaning station nya. Andai kami datang lebih pagi, pasti ketemu. Sayang sekali. Setelah kapal berputar-putar di sekitar lokasi, memang tidak ditemukan manta di sini. Dasar laut terlihat jelas, air laut begitu jernih dan dasar laut pasir dengan sedikit karang, jadi mustahil manta sebesar itu bisa luput dari pengamatan kami. Memang tidak ada satu pun, teman-teman semua kecewa, termasuk rombongan freediver asal Malaysia yang sudah menggebu-gebu ingin turun ke laut. Maka kami menyerah dan memutuskan melanjutkan ke Pulau Kanawa dan snorkeling disana yang katanya taman lautnya cantik dan terdapat hiu karang yang berpatroli di sekitar pantai.

Menyelam bebas di Kanawa
Memeriksa karang, mencari lobster
Saat itu masih siang dan kami sudah sampai di dermaga Kanawa. Kapal tidak sandar di dermaga, jadi kami menggunakan kapal sampan bermotor untuk menuju dermaga. Kami menuju dermaga dengan melompati kapal-kapal yang sedang parkir. Saya memakai baju snorkeling dan membawa ransel kamera. Saya dan beberapa teman-teman dari Malaysia sampai duluan di dermaga dan langsung menuju restoran di resort Pulau Kanawa. Saya langsung memesan jus wortel. Begitu minuman sampai, saya langsung minum dan menyusul teman-teman freediver dari Malaysia yang sudah turun dari tadi. Sambil berjalan di dermaga, saya melihat hiu karang bersirip ujung hitam (black tip shark), berukuran kecil. Sayangnya hiu itu berenang di bagian pantai yang dangkal jadi tidak biaa berinteraksi dengan hiu tersebut. Saya turun di ujung dermaga dan terlihat teman-teman freediver sudah ada di sisi jauh pantai ke bagian yang dalam.

Ikan chromish yang senang mendiami terumbu karang seperti ini

Perlahan saya turun dan bermain dengan sekumpulan ikan teri yang berenang berkelompok sangat banyak sehingga membuat schooling ikan yang seperti pusaran. Selain itu di sekitar dermaga terdapat beberapa lion fish yang pemalu. Sambil berpegangan di tiang dermaga satu kru kapal mendekati saya dan mengajak saya ke tengah bersama rombongan freediver itu. Kami berenang berdampingan lalu sesekali dia menyelam dan saya mengikutinya. Dari karang yang biasa saja di pinggir dermaga saya perlahan menuju lokasi dimana karang dan koral mulai menjadi rapat dan beragam dan inilah taman laut di Kanawa. Ikannya sangat beragam, dan banyak sekali kima atau kerang tiram besar disini. Saya mengikuti kelompok batfish, lalu mengikuti kawanan angelfish, lalu ke moorish idol, lalu bluefin trevally. Sayangnya tidak ada hiu disini, namun saya melihat ikan todak atau needlefish ukuran besar yang tidak malu-malu. Saya bahkan bisa merekam video ikan itu dalam jarak dekat. Saya lihat matahari mulai rendah, dan saya tidak mau melewatkan sunset yang indah disini. Saya pun pamit dan berenang kembali ke dermaga sendiri.

Ray of light dari langit Kanawa
Sampai di restoran tadi, saya langsung mengambil tas ransel saya dan bergegas mendaki bukit Kanawa. Saya mendapat spot yang bagus untuk memotret sunset, minimal Golden sunset nya. Langit yang mendung membuat kadang terlihat ray of light atau garis cahaya yang menembus awan dan menghujam ke laut. Saat hampir sunset saya mengambil gambar terakhir dari atas bukit dan bergegas turun untuk memotret momen sunset dari pantai. Berhasil, saya tiba sesaat sebelum matabari terbenam dan dengan tripod yang sudah terpasang dan kamera sudah saya set, saya tinggal jepret saja lewat smartphone saya via wifi. Sambil menunggu momen yang tepat, saya ikut foto-foto narsis bersama teman-teman. Sungguh sunset saat itu sangat romantis, andai ada pasangan saya disini, mungkin ini akan menjadi momen yang sangat indah.

Pulau Kanawa terlihat dari atas bukit
Langit sudah semakin malam dan saatnya kami kembali ke kapal. Di kapal kami sibuk mempacking tas ransel carrier kami masing-masing karena kapal bergerak menuju Labuan Bajo. Sebagian teman-teman akan menginap di Labuan Bajo termasuk saya karena akan mengambil penerbangan pagi atau melanjutkan perjalanan dengan overland. Sebagian yang lebih santai akan menginap di kapal yang bersandar di dermaga, dimana nanti malam sudah direncanakan kapal akan ke tengah laut dan buang jangkar lalu diadakan pesta di kapal. Saya termasuk sebagian yang akan melanjutkan perjalanan dengan overland pada pagi harinya sehingga tidak bisa ikut menginap di kapal. Besok saya dan teman-teman yang lain akan melakukan hiking, jadi stamina yang habis selama aktivitas jelajah pulau dan laut harus cepat-cepat dipulihkan. Kami akhirnya berpisah di dermaga Labuan Bajo dan makan malam bersama terakhir di foodcourt seafood di Labuan Bajo bersama kru kapal sambil mengucapkan salam perpisahan.

Sunset terindah dari Pulau Kanawa
-bersambung-

Gallery :












Eksotisme Flobamora, Jelajah Flores, Kembali Ke Masa Kecil (Part 2/7)

Setelah dua hari melakukan pelayaran di perairan Lombok Timur dan Bima, dimana Pulau Satonda menjadi titik perpisahan kami dengan daratan Nusa Tenggara Barat dan kapal pinisi kami terus melaju ke arah timur. Seolah melepaskan kepergian kami, Pulau Tambora yang memiliki gunung yang megah, memunculkan pelangi yang indah hingga sempurna setengah lingkaran, yang kedua ujungnya sempurna juga menghujam ke laut. Di balik mendung, Puncak Tambora yang gagah disinari oleh cahaya sunset sore itu hingga akhirnya pemandangan sunset yang sempurna di tengah lautan sebelah barat dari buritan belakang kapal, seolah juga mengucapkan selamat jalan.

Gili Lawa Darat (Gili Laba) sebelah Timur

2. Akhirnya Kepulauan Komodo : Pulau Gili Lawa Darat (Gili Laba) dan Pink Beach.

Malam hari ketika kapal melewati Selat Sape, saya terbangun. Cipratan air laut mengenai wajah saya ketika sedang tidur. Saya lihat teman-teman yang lain masih terlelap, dan ketika perlahan saya tersadar, saya pun merasa kapal ini oleng ke kanan dan ke kiri. Sambil mengintip di terpal yang sengaja ditutup agar kami tidak diterpa cipratan ombak atau hujan, tidak terlihat apa-apa karena hari masih gelap, masih pukul 03:00 pagi. Ya saya pun memutuskan bangun dan sambil melangkah hati-hati di lorong yang penuh dengan teman-teman yang tidur di posisi lorong, serta goyangan kapal yang membuat keseimbangan badan terganggu, saya akhirnya sampai di ruang kemudi kapal. Di depan tidak terlihat apa-apa, namun dari posisi GPS kapal, kami saat ini sudah berada di perairan Selat Sape, yang terkenal karena ombaknya yang liar dan arusnya yang deras. Nahkoda kapal yang ternyata terkantuk-kantuk mengatakan bahwa kemungkinan kita akan on-time sampai ke Gili Lawa Darat atau juga dikenal sebagai Gili Laba, pada saat sunrise. Setelah mengobrol sebentar saya melanjutkan tidur dan set alarm di jam 05:00 pagi.

Matahari terbit di Pulau Gili Lawa, dari Selat Sape

Pagi itu, saya adalah orang pertama yang bangun, karena saya punya kebiasaan untuk "nyetor" ketika bangun tidur. Kalau bangun agak siang, tentu saja akan mengantri sebab kamar mandi cuma ada 2, sedangkan jumlah kami begitu banyak. Setelah cuci muka dan sarapan bekal yang saya bawa, saya langsung menuju ke anjungan kapal dan minum teh hangat sambil menunggu sunrise. Kamera olympus TG3 sudah berada di atas tripod, dan saya mencoba membuat video timelapse. Ternyata sunrise berada di sisi kiri kapal berarti kami sudah mengarah ke selatan. Di depan samar-samar terlihat pulau-pulau dan ya memang kami sudah memasuki perairan Pulau Komodo. Kapal pun sudah tidak ngebut seperti semalam, dan setelah saya tanya Wuki, rencana berubah, targetnya memang bukan sunrise di atas bukit, jadi santai saja. Sarapan pun disiapkan, seperti biasa, pancake pisang yang ditaburi gula pasir dan dilumuri susu kental manis coklat. Saya pun siap-siap juga dengan mempacking semua peralatan kamera saya di tas ransel kamera Consina berwarna camo, cocok untuk aktivitas wildlife. Di perjalanan memasuki perairan Kepulauan Komodo ini, kapal kami disambut sekawanan besar lumba-lumba hidung botol, yang suara cicitannya terdengar dari atas anjungan kapal.

Trekking Gili Laba

Kapal pun buang jangkar dan saatnya kami bersiap turun dan menggunakan boat untuk menuju Pulau Gili Laba. Sudah ada Kapal yang merapat disini dan saya yakin itu kapal dari Labuan Bajo. Kapal sebesar kami isinya cuma satu keluarga bule sekitar sepuluh orang, enak betul. Saya yang sudah siap dari tadi mengambil posisi agar turun pertama kali. Saat itu rombongan pertama adalah saya, Atar, Zhafir, Melda, Hendra, Rico, dan Rima. Atar yang maniak lari melaju kencang di jalur tanjakan curam menuju puncak bukit Gili Laba, diikuti saya, Zhafir dan Rico. Kami melaju menyalip rombongan keluarga bule itu dan sampailah kami di atas pada timing yang tepat, saat masih golden hour. Tidak pakai lama, tripod yang saya pakai sebagai trekking pole yang sudah tertancap kamera olympus mulai mengambil video selfie hehehe. Kamera 70d dan 24-105L pun sudah siap mengalungi leher. Benar kata orang-orang kalau Kepulauan Komodo itu surganya bagi pecinta fotografi. Kemana mata memandang, ini surga bung!.

Gili Laba (Gili Lawa Darat) dari puncak bukitnya, lumayan terjal kan?

Rombongan bule dan teman-teman yang lain pun datang, rata-rata membawa tongsis dan go pro dan mulai bernarsis ria di atas bukit itu. Mereka sepertinya sudah cukup puas untuk sampai puncak bukit itu, namun saya masih penasaran dengan jalur trekking yang jelas terlihat ini. Saya tanya Wuki, kita disini sampai jam berapa? Katanya jam 09:00, maka saya rasa cukup waktu bagi saya untuk menjelajahi jalur trekking itu dan sampai di pantai lagi sebelum jam 09:00. Saya pamit ke Wuki dan menjelajahi jalur trekking sementara yang lain masih riuh narsis dengan tongsis dan gopro masing-masing. Kali ini di kepala tripod terpasang kamera dslr, dan tripod masih menjadi trekking pole.

Gili Lawa Darat (Gili Laba) ke arah Barat, terlihat laguna tersembunyi disana

Keputusan saya tepat. Banyak sisi indah lainnya di Pulau Gili Laba kalau kita mau menjelajahinya. Mirip dengan Indonesia, banyak sisi indah yang hanya bisa kita alami kalau kita mau menjelajahinya. Di balik bukit ada laguna dan ada kapal pinisi yang bersandar disana. Tampaknya kapal itu penghobi night diving, karena kalau saya jadi mereka, laguna adalah tempat terbaik untuk aktivitas itu. Berjalan terus terlihat dua elang laut besar yang terbang sangat rendah mengelilingi bukit dimana saya berada yang ditumbuhi ilalang setinggi leher. Peduli setan kalau ada komodo disini, karena yang saya baca, disini tidak pernah ada riwayat komodo. Saya berjalan terus menjejak jalur dan sempat hampir salah jalur ketika dihadapkan dengan jalur yang terjal. Saya balik arah dan mencoba jalur lain. Trekking lumayan jauh dan hambatan lainnya adalah terik panas matahari NTT yang serasa 3 kali lebih panas dari pulau Jawa, bahkan masih pagi seperti ini sudah terasa mambakar. Saya pernah tinggal di lingkungan seperti ini dulu, malah merasa kegirangan dan seperti kembali ke masa kecil saat masih SD dan insting menjelajah saya sangat kuat. Sekitar pukul 08:45 saya sudah sampai kembali di pantai, bahkan orang pertama yang sampai di pantai. Teman-teman yang lain yang tidak mengambil jalur trekking kelihatan kesusahan menuruni bukit jalur kita naik pagi tadi karena cukup terjal. Beberapa teman yang lain kelihatannya ada yang mengikuti jejak saya, bahkan Zhafir yang tiba-tiba ada di belakang saya bilang kalau saya adalah trendsetter, karena gara-gara saya, yang lain yang tadinya ragu-ragu ke jalur trekking, jadi percaya kalau mereka tidak akan tersesat, karena buktinya saya bisa dan sampai di pantai dengan selamat. Saya sendiri juga bilang kalau saya juga tidak tahu jalannya kok, nekat saja lol. Terbukti rombongan Budi sepertinya juga menemukan jalur yang menuju tebing terjal seperti saya, bedanya mereka sempat turun sebelum putus asa karena memang tebingnya terlalu terjal. Wuki sebagai tour leader juga bingung menanyakan apakah saya pernah kemari (hehehe).


Dua elang laut besar yang kelihatannya bersarang di Pulau ini

Setelah terkumpul beberapa orang, kami memanggil kapal jemputan supaya mengantarkan kami kembali ke Kapal Pinisi. Setelah terkumpul semua, saya menunjukkan kepada mereka hasil foto saya selama trekking dan mereka akhirnya menyesal tidak mengambil jalur trekking tadi, karena mereka hanya dapat view di puncak Gili Laba saja, yaa bisa datang lain kali lah. Kapal pun menuju selatan ke arah Pulau Komodo, namun tujuan kami adalah ke Pink Beach. Di perjalanan menuju Pink Beach, pulau-pulau di kiri kanan sama seperti sewaktu dulu, hanya berupa pulau bebatuan yang ditumbuhi savana dan sangat sedikit pohon. Adanya pohon pun hanya sekedar pohon buah kom. Benar-benar pemandangan yang khas dari daerah timur. Belum lagi banyak penyu yang berenang di permukaan dan ketika kapal kami lewat, langsung menyelam menghilang ke dasar laut. Mirip sekali sewaktu saya di Derawan.
Pink Beach dari atas bukit

Tidak lama kami sampai di dekat Pantai Pink (Pink Beach). Saya sudah siap dengan setelan rushguad, celana pendek, booties, mask, snorkel dan fin Cressi Pro-light series, namun karena panggilan alam, saya baru keluar ketika sudah angkutan perahu ketiga. Tiba-tiba anak-anak penduduk Pulau Komodo merapatkan sampannya ke kapal kami, memanjatnya dan menjajakan kalung mutiara, pahatan patung kayu komodo, dan kerajinan dari kulit kerang. Karena kasihan, saya membeli patung pahatan Komodo seharga Rp. 50 ribu, yang ternyata di pusat penjualan suvenir nanti, patung tersebut dihargai sekitar Rp. 250rb.

Anak-anak pulau yang mendatangi kapal kami di tengah laut menggunakan sampan, lalu menjajakan dagangan pahatan kayu berbentuk komodo, kalung mutiara, dan kerajinan kulit kerang

Saya rupanya telat, rombongan freediver Malaysia dan Wuki sudah turun dari kapal dan ke sisi kiri pantai. Tadinya saya ingin menyusul kalau tidak dicegah oleh kru kapal karena arus disini bisa kencang dan yang paling aman di pantai Pink karena secara teknis, pantai Pink adalah cekungan dari perairan deras. Kru kapal menyarankan saya ikut kapal motor saja ke pantai. Di pantai saya langsung snorkeling di sekitar Pink Beach dan saya kecewa karena meskipun ikannya besar-besar dan koralnya lebih kaya dari Pulau Satonda, namun airnya dangkal sehingga dengan berdiri pun sudah bisa keluar dari permukaan air. Akhirnya teman-teman yang belum lancar berenang dengan fin, berdiri di karang dan mengibas-ngibaskan finnya ke pasir sehingga air laut menjadi keruh. Karena tidak menyenangkan lagi snorkeling disini, saya kembali ke pantai dan ngobrol dengan kru kapal dan penduduk lokal yang menjajakan mutiara. Sedikit tawar menawar, saya berhasil menawar kalung mutiara besar-besar berwarna pink untuk adik perempuan saya di rumah, seharga Rp.100rb. Mereka menjamin keaslian mutiaranya dengan membakar mutiara tersebut dan tidak gosong atau meleleh. Wah great deal nih, karena nanti di pusat suvenir di Labuan Bajo atau di Pulau Komodo/Rinca nanti harganya bisa mencapai Rp. 400-500rb bahkan jutaan.

Ikan badut (clownfish) di anemon sekitar Pantai Pink (Pink Beach)

Saya pun mendaki bukit Pink Beach dan mengambil foto view Pink Beach dari atas bukit itu. Ada stasiun meteorologi di atas. Dan di belakang bukit, terlihat bahwa pantai ini berada di Pulau Komodo, Pulau terbesar di Kepulauan Komodo ini yang berpenghuni komodo. Sayangnya tidak ada larangan bagi pengunjung untuk melangkah lebih jauh ke dalam pulau Komodo, namun dari kesadaran sendiri, sepertinya tidak akan ada yang nekat menuju kesana. Sekedar tips, kalau mau naik kesini sebaiknya membawa sendal, karena saya yang menggunakan booties, akhirnya jadi licin dan sering kepleset dan ketika bertelanjang kaki, panasnya sudah seperti menempel ke penggorengan (ini beneran).

Lampu sinyal reflektor penanda daratan

Siangnya kami kembali ke kapal untuk makan siang sambil menuju ke Pulau Padar. Kami mengitari perairan Kepulauan Komodo karena sebenarnya kapten kapal belum familiar dengan arah menuju Pulau Padar. Pengalaman kesini sebelumnya, sang nahkoda salah parkir kapal di sisi Pulau Padar yang belum pernah dibuka jalurnya untuk ke puncak Pulau Padar. Kali ini dicari arah ke sisi pulau sebaliknya dari titik labuh yang dulu itu. Di tengah perjalanan, terlihat seekor paus menyemburkan air dari lubang napasnya. PAUS!! Ya, ini benar-benar dejavu perjalanan saya waktu kecil, saya melihat PAUS!!!. Kapal pun diarahkan menuju lokasi semburan tadi, namun pausnya sepertinya sudah menyelam jauh ke kedalaman lautan. Saya jadi terpikir suatu waktu nanti saya akan datang lagi ke NTT khusus ke perairan Lamalera Lembata yang terkenal dengan budaya penangkapan pausnya itu (yang kini hanya berupa perayaan simbolik, namun populasi paus bungkuk masih banyak lewat disana). Atau ke Teluk Cenderawasih Papua Barat atau Biduk-Biduk di Kalimantan Timur, dimana bisa bertemu dengan hiu paus.

Seekor paus bungkuk muncul ke permukaan dan menghembuskan air dari lubang napasnya

Tidak memakan waktu lama, akhirnya kami menemukan beberapa kapal yang parkir di Pulau Padar, artinya kami sampai di titik labuh yang tepat. Rencananya kami akan menikmati sunset disini sekaligus bermalam di titik labuh.
-bersambung-

Gallery :