Travelling

Exploring Indonesian's magnificent places is my passion

Mountain Bike

The most exercise I did during my free time

Photography

To capture the beauty of the places I've visited

Culinary

The other reason why I love to go traveling

Engineering

Because big dreams never come so easy

Moto-Adventure

Graze the road and enjoy the adventure from each and every miles

Showing posts with label Bogor. Show all posts
Showing posts with label Bogor. Show all posts

Istana Bogor Open 2014 : Istana Untuk Rakyat (ISTURA)

Agenda open house Istana Kepresidenan Bogor memang dilaksanakan setiap tahun, yaitu saat hari jadi Kota/Kabupaten Bogor yang jatuh setiap tanggal 4 Juni. Tahun ini, Kota/Kabupaten Bogor merayakan hari jadi Bogor yang ke 532. Awal mulanya tanggal 4 Juni sebagai hari jadi Bogor adalah saat Prabu Siliwangi diangkat sebagai raja Kerajaan Pajajaran, yaitu di tahun 1482 silam. Acara open house Istana Bogor kali ini bertema ISTURA, yaitu Istana Untuk Rakyat, yang diadakan pada 9 Juni - 12 Juni 2014, dilanjutkan tanggal 14 Juni 2014. Pada periode ini, masyarakat bisa datang mengunjungi Istana Bogor dengan gratis dan tanpa mengurus perizinan apapun. Cukup mendaftar di panitia Istura yang tersebar di beberapa tempat atau melalui harian lokal di Bogor. Namun untuk lebih praktis, sebaiknya langsung mendatangi panitia pusat di Kantor DPRD Kota Bogor di depan Gereja Katedral atau belakang Bank Mandiri Juanda. Sebenarnya di hari lain pun masyarakat bisa mengunjungi Istana Bogor dengan gratis atau tanpa biaya, namun perlu mengurus izin kepada Kantor Istana Kepresidenan terlebih dahulu.
Suasana Istana Bogor Open/Istura 2014
Tiket yang saya dapat
Saya mendaftar di hari pertama pembukaan, senin 9 Juni 2014. Saya terlalu muluk berharap begitu datang bisa langsung berangkat. Sebenarnya bisa saja, namun ketika saya datang, rombongan terakhir sudah diberangkatkan. Untuk informasi saja, keberangkatan terakhir adalah pukul 12:00 siang, saya datang terlalu sore, berharap supaya tidak kena terik panas bogor akhir-akhir ini. Jadinya saya mendaftar untuk hari ini (10 Juni 2014), pada pukul 10:00. Mayoritas pengunjung adalah pelajar dan guru, namun juga tidak sedikit mahasiswa dan masyarakat umum yang ikut hadir. Pegawai-pegawai kantor juga ada yang ikut, entah bolos atau entah izin dulu. Rombongan diberangkatkan tiap 30 menit. Saat itu di rombongan saya kebanyakan anak-anak SD berseragam lengkap (memakai topi dan dasi) serta guru-gurunya. Rombongan anak-anak tersebut dipersilakan berangkat duluan, disusul masyarakat umum. Oya, untuk bisa ikut, tiket pendaftaran harus ditukar dengan tiket masuk (istilahnya daftar ulang). Karena itu, harus tiba maksimal 30 menit sebelum jam yang dipilih, gunanya untuk daftar ulang dan mendengarkan arahan panitia.
Masuk lewat sini ya..
Terdapat peraturan jika ingin mengikuti program Istana Open ini, yaitu harus berpakaian rapi dan sopan. Dalam hal ini, penggunaan sendal tidak diperbolehkan, begitu juga kaos oblong dan celana jeans. Dianjurkan memakai kemeja dan menurut saya paling sesuai tema ya pakai batik. Namun aturan ini tidak ketat-ketat banget kok, buktinya tadi ada saja yang memakai kaos oblong plus jaket hoodie, bahkan cuma kaos saja. Tapi untuk memakai sepatu, jangan coba-coba, lebih baik memakainya.
Bagian depan Istana Bogor yang sering terlihat saat Car Free Day di Sempur
Masalah kamera, sebenarnya kamera dilarang dibawa ke dalam kompleks istana, baik kamera pocket maupun DSLR. Namun aturan ini masih kurang ketat pengawasannya karena ada saja yang berhasil menyusupkan kamera pocket ke dalam. Kalau kamera DSLR, jangan coba-coba dibawa karena pasti kena razia bagaimanapun anda menyembunyikannya, hahahaha (true story). Aturan ini masih longgar karena masih boleh membawa handphone. Saya sendiri membawa handphone dan saat masuk gerbang deteksi logam, handphone boleh lewat, namun kamera digital tidak boleh (makanya pinjam handphone yang kameranya bagus kalau mau kesini). Di dalam istana sendiri, hanya di bagian luar Istana kita boleh mengambil gambar menggunakan handphone. Di dalam Istana adalah zona dilarang keras memotret. Tadi ada saja orang yang nekat memotret dan menggunakan flash, lalu ketahuan dan handphonenya diambil beserta orangnya (nah lho), tidak tahu mau diapain. Khawatir kalau pakai kamera handphone hasilnya jelek, padahal jarang-jarang ke istana? jangan khawatir, di Istana ada panitia yang menyediakan voucher pemotretan baik keluarga maupun group. Terjangkau kok harganya, pakai fotografer profesional lagi.
Berpakaian batik lebih direkomendasikan, panitia pun segan karena kita sopan (seperti slogan di pangkas rambut, hehehe)
Mengenai tas, hanya tas kecil yang boleh dibawa. Tas ransel dan tas besar lainnya tidak boleh dibawa. Bisa disimpan di dalam mobil (kalau bawa mobil), atau bisa dititipkan di panitia. Batasan ukuran ini juga tidak jelas karena banyak ibu-ibu yang membawa tas selempang. Sebaiknya bawa yang kecil saja, misalnya tas selempang yang biasa dipakai menyimpan dompet dan handphone saja. Namun saat pemeriksaan, isi tas kita akan diperiksa, jadi jangan membawa yang aneh-aneh ya (termasuk spidol, saya lihat banyak spidol yang ditahan, mungkin menghindari aksi vandalisme anak-anak alay?). 
Bukti kalau hari-hari selain Istana Open, masyarakat juga bisa mengunjungi Istana Bogor dengan gratis
Mengenai makanan dan minuman, jelas-jelas panitia melarang membawa makanan dan minuman, mungkin karena menghindari masyarakat yang buang sampah sembarangan, atau ruang istana kebanjiran semut? Ya sebaiknya diikuti saja, toh nanti dibelakang istana ada kantin dan toko suvenir yang menjual makanan dan minuman serta suvenir-suvenir khas Istana Bogor. Hanya di area ini (dan area dekat kantor/pintu keluar) diperbolehkan makan dan minum, karena ada tempat sampahnya. Pintu keluar ini akan melewati bangunan museum dan perpustakaan istana yang sedang dibangun serta gereja Zebaoth di Jalan juanda.
Gaya arsitektur era kolonialisme pas untuk gaya fotografi b/w
Apalagi kalau ada keterangan tahunnya, siapa sangka foto ini diambil tahun 2014

Nyoblos!, Sampaikan Aspirasimu

Tanda tinta untuk identitas pemilih yang sudah melaksanakan hak pilihnya

Hari ini adalah hari yang menentukan masa depan Indonesia, yaitu pemilihan umum untuk memilih wakil rakyat (fungsi legislatif), yaitu DPR, DPRD tk.I, DPRD tk.2, dan DPD. Orang-orang ini yang mengesahkan peraturan yang berupa UU dan Perda, serta menetapkan anggaran negara dan daerah.

Saya mencoblos sekitar pukul 11:00. Sudah tidak mengular antriannya, namun terik matahari cukup membuat keringat deras mengucur. Saya tidak masalah dengan terik ini, justru ini yang saya cari daripada beberapa minggu ke belakang yang diguyur hujan. Besoknya pun saya akan memulai perjalanan laut seminggu ke Pulau Derawan memanfaarkan mileage Garuda Indonesia, jadi terik sekarang hitung-hitung latihan. 

Terdapat insiden yang membuat saya cukup kesal kepada panitia. Dengan dalih lipatan kertas suara saya tidak rapi, dengan seenaknya dia membuka kertas suara saya di depan umum lalu kemudian melipatnya kembali. Padahal kertas2 itu terlihat untuk ke kotak mana dari tulisannya, jadi sebenarnya tidak perlu dilipat serapi seperti awalnya. Saya merasa privasi saya dilanggar, terutama hak saya untuk merahasiakan pilihan saya. Tapi ya sudah terjadi ya bagaimana lagi. Mudah-mudahan panitia tersebut bukan fanatik partai tertentu yang menyasar orang tidak penting seperti saya untuk mengetahui pilihan politik saya. Tipikal kader/simpatisan yang tidak menghargai prinsip Pemilu yang LUBER, yaitu Langsung, Umum, Bebas dan Rahasia. Jangan-jangan anti-simpatisan partai tertentu (ups !!).

Ya sudah, hak pilih saya sudah saya gunakan. Tanggung jawab saya sebagai warga negara yang ikut berperan aktif di politik sudah saya tunaikan. Sekarang saatnya saya menikmati makan siang saya di Restoran Sunda yang asri disini, Sup Ikan Nila Kelapa Muda..

Menghindari Car Free Day Bogor - Part 1 (Kebun Raya Bogor)

Car Free Day yang seharusnya menjadi ajang yang "hijau" di Bogor, malah lebih cenderung kepada Pasar Kaget. Seharusnya ruas jalan yang ditutup ini dinikmati warga dengan berolah raga atau jalan pagi menikmati udara pagi yang bersih. Namun yang terjadi adalah orang berjualan dimana-mana, meninggalkan sampah sembarangan dan terkesan kumuh, jauh dari kesan "hijau". Apakah hal ini salah? Menurut saya sah-sah saja, karena akhirnya terdapat ruang publik yang sementara bisa dipakai untuk warga bersosialisasi. Lantas, jika warga menginginkan ruang terbuka hijau untuk beraktivitas, kemana harus mencari? Santai... ini Bogor Masbro, bukan Jakarta yang dimana-mana adalah hutan beton dan mall. Untuk tujuan itulah serial tulisan ini saya buat.

Pemandangan pagi danau Kebun Raya Bogor

Pada seri tulisan kali ini saya mau memberi alternatif zona Car Free Day alias ruang terbuka hijau untuk beraktivitas, terutama berolahraga pagi. Untuk kali ini bersiaplah menambah kocek Rp. 14,000 untuk tiket masuk ke Kebun Raya Bogor. Jika mau bersepeda, silakan bawa sepeda dan ada tiket masuk tambahan untuk sepeda sebesar Rp. 5,000. Apakah sepadan? Sangat sepadan lho, buktinya sekarang semakin ramai Kebun Raya Bogor di pagi hari pada saat akhir pekan.

Lewat mana masuknya? Kan masih pagi? Memang loketnya sudah buka? Eits pertanyaan cerdas. Sekilas memang loket utama Kebun Raya baru buka mulai pukul 08:00 pagi, kadang jam 09:00, loket umum yang dimaksud adalah loket Kantor Pos Jl. Juanda, Pintu Utama Ramayana, dan loket Jl. Pajajaran. Di luar itu, ada satu loket bayangan, yang buka lebih pagi, yaitu tepat di sebelah pintu utama di kantor Etno-Botani Bogor. Di belakangnya terdapat tempat parkir motor untuk masuk Kebun Raya Bogor. Lewat sini, kalau pagi ada staff yang menjual tiket masuk ke dalam, atau kalau bawa motor sekalian parkir di sini. Tidak banyak orang luar Bogor yang tahu pintu masuk ini, mungkin warga Bogor juga cuma sedikit yang tahu.

Sebenarnya ada satu pintu lagi yang di depan Sempur, namun khusus pengunjung Cafe Dedaunan. Pintu ini sering saya pakai untuk akses keluar Kebun Raya, karena lebih cepat untuk menuju arah Air Mancur. Pintu di dekat Gereja Katedral kadang-kadang tidak boleh dilewati umum, padahal untuk keluar.

Berikut beberapa obyek yang pantang dilewatkan kalau kesini pagi-pagi.

1. Danau Kebun Raya Bogor.

Dari danau ini langsung terlihat Istana Bogor. Banyak bangku taman untuk melepas lelah sambil melihat matahari yang perlahan meninggi. Segarnya udara disini benar-benar nikmat.

Track melewati pinggiran danau Kebun Raya Bogor
Pemandangan langsung ke Istana Bogor

2. Jembatan Gantung

Rute ini sangat sepi di pagi hari, kadang masih berkabut. Terdapat mitos tentang hubungan pacaran yang bisa putus bila sepasang lewat sini. Saya tidak terlalu percaya pada mitos seperti itu, namun keajaiban jembatan ini menurut saya terdapat pada tanaman benalu yang bisa tumbuh di baja struktural jembatan ini tanpa akar yang menuju ke tanah. Artinya baja atau karat baja bisa menopang hidup satu tumbuhan. Ini baru wow.

Jembatan gantung
Tanaman benalu yang tumbuh dari baja dan karat

3. Taman Pancasila

Di taman ini terdapat air mancur dan jalinan tanaman yang ditanam dan dipangkas sehingga menjadi lambang garuda pancasila jika dilihat dari atas. Taman ini langsung menghadap ke lapangan Sempur. Saya sering menggunakan tempat ini untuk beristirahat sambil menikmati bekal sarapan.

Kupu-kupu yang tertarik bau pancake durian

4. Pohon Kalong

Pohon ini bukan tanaman khusus, namun hanya pohon tinggi yang dijadikan tempat istirahat kawanan kalong di siang hari. Kawanan ini suka berpindah-pindah pohon. Tidak setiap saat kita dapat melihat kawanan ini. Kebetulan akhir pekan ini, saya dapat melihat kawanan ini lagi.

Pohon kalong

(Update 6 Mei 2014)

5. Bunga Bangkai

Inilah ikon Kebun Raya Bogor. Bunga langka berbau tidak sedap saat mekar ini tidak setiap saat bisa dilihat disini. Minggu ini adalah masa mekarnya bunga yang berasal dari Pulau Sumatera itu. Selain Amorphopallus, bunga bangkai Raflessia arnoldi juga ada di sini dan mekar pada awal tahun silam. Sayang sekali saya melewatkannya karena masih bertugas di Kalimantan. Bunga yang menurut wikipedia sangat misterius pertumbuhan bunganya, mungkin setiap 3 tahun sekali, dan ketika mekar, bunganya hanya bertahan 3 hari sebelum akhirnya layu (terjadi penyerbukan). Ketika kesana (mungkin hari ketiga setelah mekar), sudah ada tanda sayatan kecil di dekat dasar bunganya. Mungkin sengaja dibuat oleh ahli botani disini untuk membantu penyerbukan.

Bunga bangkai Amorphopallus titanium Mei 2014

6. Kolam Teratai

Kolam teratai terletak di sebelah Cafe Dedaunan. Kolam teratai lainnya terdapat di Taman Pancasila, Danau Kebun Raya, Kolam kecil di antara Danau Kebun Raya dan Jembatan Gantung.

Capung merah di kolam teratai Kebun Raya Bogor
Kolam teratai yang sangat cocok untuk penghobi fotografi close-up atau makro

Sebenarnya masih banyak tempat menarik lain di Kebun Raya Bogor. Oleh karena itu, tulisan ini akan terus di-update.

Curug Lontar (Cilontar), Keindahan Air Terjun Tersembunyi Di Bogor

Seperti kebiasaan tahun-tahun sebelumnya, sehabis shalat Iedul Fitri di kediaman Ayah-Ibu saya di Kota Bogor, kami akan mengunjungi sanak saudara kami. Biasanya, dimulai dari yang dekat-dekat dahulu, dan sesuai kebiasaan sebelum-sebelumnya, seluruh keluarga besar akan berkumpul di daerah Leuwiliang, karena sebagian besar sanak saudara dan mendiang Kakek dan Nenek tinggal. Salah satunya, tinggal di daerah Curug Lebak Kaum, dekat PLTA Kracak, desa Kracak. Tulisan ini tidak akan menceritakan lebih jauh mengenai keluarga saya, melainkan mengenai tempat yang cukup indah di daerah tersebut, namun tidak pernah/kurang terpublikasikan, sehingga hanya dinikmati oleh warga dan keluarga sekitar saja. Kali ini saya akan mengupas mengenai Curug Lontar atau Cilontar. Curug adalah kata dalam Bahasa Sunda yang artinya “Air Terjun”. Jika berbicara wisata Air Terjun di Bogor, umumnya akan disebut Curug Luhur, Curug Seribu, Curug Nangka, Curug Cilember, Curug Bidadari, dll, namun nama Curug Lontar jarang sekali disebutkan. Cobalah untuk browsing mengenai Curug ini dan hasilnya sangat sedikit. Curug Lontar, merupakan satu dari banyak air terjun indah tersembunyi yang berada di sekitar Bogor.
It was my family's tradition, whenever after Ied al Fitr pray at my parents town in Bogor, we will visit our relatives. The sequence was the nearest first, and as usual, our family and relatives will be gathering at Leuwiliang, where our most relatives and family live including were my grand family. One of them lives at Curug Lebak Kaum, near Kracak hydro-power generation unit, Kracak village. This blog will not further explaining my family's tradition, instead, a place that is quietly beautiful but most people didn't know about, so only nearby people and their family who enjoy this place. The place is Curug Lontar or Curug Cilontar. Curug in Sundanese means waterfall. If we recalled waterfall in Bogor, most people will refer to Curug Luhur, Curug Seribu, Curug Nangka, Curug Cilember, Curug Bidadari, and other famous waterfall nearby. But Curug Lontar was rarely been recalled. Try to search this waterfall in web and you will find less results. But, as a local, Curug Cilontar is one of the most beautiful waterfalls in Bogor
Curug Cilontar // Cilontar waterfall
Curug Cilontar merupakan bagian dari sungai Cianten yang berasal dari Pegunungan Halimun-Salak. Sungai ini akan bersatu dengan cabang aliran sungai Cikaniki dan bersatu dengan aliran sungai besar Cisadane, yang terkenal setiap bulan Januari-Februari setiap tahunnya karena dimonitor status ketinggian airnya melalui pintu air Cisadane karena menyebabkan banjir di daerah Tangerang. Air terjun dengan ketinggian 35 meter ini selalu dialiri debit air yang cukup deras sepanjang tahun, sehingga sungai pembentuk air terjun ini digunakan untuk sumber pembangkit listrik tenaga air (PLTA) Kracak sejak Zaman Penjajahan Belanda sekitar tahun 1926. Jika dilihat dari foto udara/satelit, dua pipa besar berwarna kuning akan terlihat tergeletak memanjang di sekitar daerah ini menuju Gunung Bubut, bendungan yang digunakan untuk PLTA tersebut.
Curug Cilontar was a part of Cianten river which came from springs in Halimun-Salak Mountain. This river will unite with other small rivers and Cikaniki river as Cisadane river system, which is well known as the cause of flood in Tangerang city during January-February. This 35m height waterfall is regularly supplied by high flow of river water along the year, so the river is used as the power source of hydro power generation unit (PLTA) since the Dutch colonial era, exactly around 1926. In satellite/birdeye view, two large yellow pipes will be seen laid along the area toward Gunung Bubut, the dam used for the power generation unit
Pipa kuning besar mengalirkan air untuk pembangkit listrik // Large yellow pipes transporting water for power generation

Air terjun yang indah ini sayangnya sangat berbahaya jika digunakan untuk berenang. Air terjun ini jatuh ke kubangan luas, yang luasnya kira-kira 7,000 meter persegi dan memiliki kedalaman yang konon mencapai lebih dari 26 meter. Kubangan ini sudah menelan banyak korban pengunjung yang nekat berenang di dalamnya. Bahaya lainnya adalah banjir bandang yang dalam Bahasa Sunda disebut “Caah”. Air terjun yang cukup jernih sehingga berwarna hijau-biru tosca ini secara tiba-tiba akan berwarna coklat gelap karena adanya lumpur yang terbawa debit air yang jauh lebih besar dari normalnya. Pijakan-pijakan batu sungai  di sekitar air terjun akan tenggelam dan pengunjung yang kurang waspada bisa tersapu arus banjir tersebut. Banjir bandang ini disebabkan oleh kenaikan debit air di daerah hulu (Pegunungan Halimun-Salak) akibat hujan. Oleh karena itu, meskipun cuaca di sekitar air terjun sedang cerah, namun jika di daerah hulu terlihat mendung, sebaiknya segera kembali ke tepian dan kembali ke perkampungan di atasnya. 
This beautiful waterfall, unfortunately is dangerous for swimming. The water falls into large pool, which around 7,000 sq.m. large and has the depth more than 26 meters. This calm pool has strong turbulent current in the pool bed, which already took some unfortunate victims by pulling them into the depth. The other danger is sudden flood which local called it Caah. This greenish tosca waterfall will suddenly change color to dark brown and followed by huge larger amount of flood carrying mud, rocks, and trees. All big stone where we took our step will be drowned by this flood, and unfortunate victim usually has no chance to escape and swept away. So, for safety reason, if the upstream (Halimun-Salak Mountain) is seen to be rain/dark even very bright sunny at the waterfall, we shall imediately leave the waterfall and return to nearby villages

Akses menuju Curug Cilontar jika menggunakan mobil pribadi, dari pintu tol Bogor menuju arah Kampus IPB Dramaga, lalu ke arah Leuwiliang. Sekitar 500 meter setelah jembatan besar Sungai Cianten di Leuwiliang, belok kiri dan ikuti jalan utama pedesaan menuju daerah Curug. Mobil bisa diparkir di sekitar pangkalan “mobil odong-odong” Curug. Jika menggunakan GPS, koordinat Curug Lontar adalah 06°38’13” LS dan 106°38’18” BT. Jika menggunakan kendaraan umum, dari Stasiun Bogor, naik angkot 02/03 hijau ke Terminal Bubulak/Laladon, dilanjutkan naik angkot 05 biru Jurusan Leuwiliang/Jasinga, turun di pertigaan Kracak, lalu dilanjutkan naik mobil Odong-Odong jurusan Puraseda, turun di pangkalan desa Curug. Dari jalan desa, cukup bertanya pada penduduk sekitar jalan masuk ke arah Curug Cilontar, umumnya merupakan jalan pekarangan belakang rumah warga. Jalan turunan berupa tanah yang sangat licin bila turun hujan dan rawan longsor. Jarak jalan tanah menuju curug hanya sekitar 200 meter, namun kemiringan jalannya cukup menyulitkan. Sebaiknya membawa bekal makanan ringan dan air minum dari jalan desa karena tidak ada penjual makanan/minuman di sekitar air terjun. Di musim kemarau, kawanan monyet abu-abu dari hutan sekitar akan banyak berada di sekitar Curug Lontar. Jadi, jika sedang berkunjung ke daerah wisata Perkebunan teh Cianten, jangan lupa menepi sebentar untuk menikmati keindahan Curug Lontar/Cilontar.
Access to Curug Cilontar, if using own transport/rent, from Bogor exit Jagorawi highway, heading west to IPB Dramaga University, straight the main road to Leuwiliang. 500 meters after Cianten Bridge, turn left and follow main road to Curug. The car can be parked at nearby village. If using GPS, the coordinate of this waterfall is 06°38’13” S dan 106°38’18” E. In the case of using public transport, from Bogor train station, pick minivan no 02/03 green, to Bubulak/Laladon Terminal, then 05 blue to Leuwiliang/Jasinga. Ask to be dropped at Kracak junction, then followed by an Isuzu Elf to Puraseda/Cianten tea plantation fields, ask to be dropped at Curug. From village main road, we can ask the way to the waterfall to locals. The entry is the backyard of local's house. The path is slippery and has potential of landslide during rainy season. The distance to waterfall is just about 200 meters, but the slope will make a big challenge. It is recommended to bring own meals and drinks from above, because there will be no any stalls nearby the waterfall. Just a natural waterfall. In drought season, there will be many grey macaque monkeys from nearby forest. So if you are visiting Cianten tea plantation field, don't forget to pull over and enjoy the natural beauty of this waterfall

Pura Parahyangan Agung Jagatkarta, Pura Terbesar Kedua di Indonesia

Saat itu adalah hari perayaan Seren Taun Guru Bumi. Grup backpacker melalui chatting blackberry mengusulkan untuk menghadiri perayaan tersebut sekaligus menjelajah Bogor dalam satu hari. Rute yang kami rencanakan saat itu adalah Perayaan Seren Taun atau yang dikenal sebagai Sedekah Bumi, lalu ke Pura Jagatkarta, terakhir basah-basahan di Curug Nangka. Semua itu akan dilakukan dengan full transportasi umum, tidak boleh ada yang menggunakan kendaraan pribadi. Saya yang kebetulan berdomisili di Bogor, datang dengan sepeda motor, terpaksa mengikuti peraturan mereka dengan memarkirkan kendaraan saya di KFC Stasiun Bogor.
It was the day of Seren Taun Guru Bumi festival. My backpacker group had initiate a trip via blackberry messenger to attend the festival and also exploring Bogor in one day. The selected route was Seren Taun Festival that also known as Sedekah Bumi, then to Jagatkarta Temple, then enjoying waterfall at Curug Nangka. The rule is we had to use public transportation at all cost. I lived in Bogor, so I came to station using motorcycle, that I had to leave my motorcycle at KFC Bogor Station parking lot.
Tangga menuju bangunan Pura // The stairs to temple's building
Bangunan Pura terlihat dari taman // The Temple building seen from the garden
 
Tulisan kali ini akan menceritakan mengenai salah satu tempat yang kami datangi saat itu, yaitu Pura Jagatkarta. Pura ini bernama lengkap Pura Parahyangan Agung Jagatkarta, terletak di desa Taman Sari, Ciapus merupakan pura terbesar kedua di Indonesia setelah Pura Besakih di Bali (menurut Wikipedia). Pura ini terletak di kaki Gunung Salak, dan letaknya cukup jauh dari tepi jalan utama. Karena kebetulan kami carter angkot dari Kampung Budaya Sindang Barang, kami minta diantar ke dalam lokasi Pura. Begitu keluar dari jalan utama dan mengikuti jalan menuju Pura, jalan yang sedikit mendaki dengan pemandangan padang rumput di kiri-kanan menyambut kami. Namun sejauh jalan ini pulalah kami harus berjalan kaki kembali ke jalan utama. Begitu sampai lokasi pura, wangi dupa terasa pekat. Benar-benar suasana Bali. Kami menaiki anak tangga hingga ke bagian dimana tamu wajib melapor. Disini ada peraturan, wanita yang sedang datang bulan tidak boleh masuk. Pakaian pun harus sopan, sehingga celana pendek atau rok pendek dilarang. Disediakan kain sarung untuk dipinjam jika ingin masuk. Selain itu, wajib memakai kain ikat yang disediakan, dimana laki-laki memakai kain ikat berwarna kuning sedangkan wanita memakai kain ikat berwarna putih. Mirip-mirip jika mau memasuki Candi Borobudur, tapi kain ikatnya berupa kain batik.
This writing will tell one place we visited that time, which is Pura Jagatkarta. This Temple has full name Pura Parahyangan Agung Jagatkarta, located at Tamansari village in Ciapus. It was the second largest temple in Indonesia after Besakih in Bali (according to wikipedia). This temple lied in the Gunung Salak area and a bit far from public road. Fortunately, we rent a public transport from Cultural Kampong Sindang Barang to picked us up to the temple. As we move into the road to temple, the open field scenery lies along the road. It was beauty but it also the route we have to walked back to public road. As we arrived, the smell of burnt incenses fill the air, just like Balinese air. We walked up through the steps and reached the reception area. There were rules for visitors; Women in period shall not enter and passed the sacred zone, so waiting here at the reception will be a consequence. The visitor shall also dressed modestly, no shorts no mini-skirt. The sheath were available to be borrowed. On top of that, we shall wear traditional belt, where yellow belt for Men and the white for Women. Just like the rules at Borobudur temple, but there was Batik.

Batas suci // The sacred demarcation zone
Setelah semua pakaian siap, kami harus meninggalkan alas kaki disini. Di bagian depan Pura, terdapat lapangan luas yang diberi tikar untuk penganut Hindu bersembahyang. Di sekeliling lapangan ada bangunan luas mirip pendopo yang mengarah langsung ke pemandangan perbukitan di bawahnya. Tidak jauh dari sana, ada patung Ganesha, yaitu Dewa Hindu berbadan manusia berkepala gajah. Setelah berkeliling, maka kami tadinya akan melanjutkan lebih dalam lagi. Dari lapangan ada tangga menuju pintu masuk bangunan Pura, namun terdapat peringatan bahwa daerah tersebut hanya boleh dimasuki oleh penganut yang akan bersembahyang. Kami menghormati peraturan tersebut, sehingga kami berpikir kami akan menyudahi kunjungan disini. Namun tidak disangka, pemuka agama disana, yaitu Pak Made menyapa kami berkenalan. Beliau mulai menceritakan sejarah Pura tersebut dan mengajak kami berkeliling. Saat itu kami tidak menyadari bahwa akhirnya kami diizinkan masuk ke dalam bangunan Pura tersebut.
After all attire ready, we shall leave our shoes/sandals here, beyond sacred zone, we shall bare footed. In front of the temple, there was a large garden where Hindunese did the pray.  Around the garden, there was a building facing the scenery of the hills below. Not far from there, lies a Ganesha statue, Hindu's God has human body and elephant's head. After that we decided to went further. From the garden, there was stairs to the Temple's building, but there was a warning stated only hindunese pilgrim that allowed to enter the temple. Respecting the rules so we canceled our intention, so we returned to the garden area. Fortunately, the religious counselor, Pak Made welcomed us open handed.  He tell the story of this temple and invited us to come inside the temple.

Berfoto di depan Patung Ganesha // Taking photos in front of Ganesha statue

Di dalam bangunan pura terdapat lapangan yang diberi tikar. Setelah itu Pak Made mengajak kami duduk dan mengajak kami melakukan meditasi. Beliau menyuruh kami berdoa dalam hati,  dalam agama kami masing-masing dan menikmati kesunyian di dalam Pura ini. Setelah meditasi, beliau berdiskusi mengenai manfaat meditasi dan arti daerah-daerah lainnya di dalam Pura ini, termasuk patung macan hitam dan macan putih yang melambangkan kerajaan Pajajaran, tepatnya Prabu Siliwangi. Terdapat beberapa pondokan kecil yang hanya boleh dimasuki oleh pemuka agama hindu untuk memimpin doa. Setelah menjelaskan beberapa hal tersebut, Pak Made pamit untuk ke dalam Pura dan mengizinkan kami untuk tetap berada disana namun tetap mengikuti peraturan yang sudah dijelaskan. Karena sudah semakin sore sedangkan kami masih harus ke Curug Nangka, maka kami memutuskan untuk pamit juga. Terima kasih Pak Made.
Inside the temple, there was a larger ground for praying. Pak Made invited us to do meditation. Despite of spelling chants, he tell us to pray silently according to self's religion and enjoying the serenity in this temple. Finished meditation, he discussed about the benefit of meditation and also the rules and history of the areas inside the temple, including the statue of black panther and white panther symbolizing Pajajaran Kingdom, especially Prabu Siliwangi. There were small building that very forbidden that only religious leader that can sit in the building and leading the chants. After explaining the information, Pak Made say his permit to leave us inside the temple for praying and let us stay inside if we want but still following the rule. But the day getting late and we still had to go to Curug Nangka waterfall. So we say goodbye to him as well. Thanks Pak Made.

Mendengarkan arahan dari Pak Made // Listening the direction from Pak Made

Catatan : sebagian foto diambil dari album teman saya, Mbak Fitri Rosdiani, saya ditag juga kok
Notes : some photos taken from my friend's album, Mbak Fitri Rosdiani, I get tagged too.
Foto bersama di dalam kompleks Pura // Taking photos inside the temple