Travelling

Exploring Indonesian's magnificent places is my passion

Mountain Bike

The most exercise I did during my free time

Photography

To capture the beauty of the places I've visited

Culinary

The other reason why I love to go traveling

Engineering

Because big dreams never come so easy

Moto-Adventure

Graze the road and enjoy the adventure from each and every miles

Showing posts with label muara badak. Show all posts
Showing posts with label muara badak. Show all posts

Tips Memotret Bulan


Hari ini bukan hanya malam purnama biasa, namun terdapat fenomena astronomi yang populer dengan sebutan Supermoon. Supermoon sebenarnya adalah penampakan bulan yang secara visual lebih besar dari biasanya karena berada di jarak terdekat di lintasannya terhadap bumi, yang disebut perigee. Fenomena ini berulang hampir setiap tahun, atau tepatnya setiap 14 kali purnama. Supermoon berikutnya diprediksi akan jatuh pada tanggal 10 Agustus 2014. Momen ini adalah saat yang sangat tepat untuk memotret bulan. Memotret bulan sangat tricky dan membutuhkan pemahaman tentang segitiga eksposur, yaitu kombinasi sensitivitas (ISO), bukaan rana (Aperture), dan kecepatan rana (Shutter speed). Hal ini disebabkan metering, atau sistem pintar kamera untuk mengukur cahaya dan mengatur segitiga eksposur secara otomatis kebingungan akibat kontras yang tinggi antara bulan dan langit gelap sebagai latarnya.
That night was not the ordinary full moon, but the astro phenomenon that popularly called supermoon will take place. Supermoon actually is the day where the moon is visually larger than its usual size because it is in its nearest distance to earth, that scientifically called perigee. This phenomenon repeats every 14 moon cycle. The next supermoon is predicted to take place in August 10, 2014. This is the perfect moment for astro-photographers interesting to make the moon as their object. Photographing full moon is actually very tricky and requires the knowledge of manipulating exposure triangle, which are sensitivity (ISO), aperture, and shutter speed. It is basically because metering system, the one programming in most digital camera to measure the light and compared it with normal exposure, is fouled because the high contrast between the bright moon and the dark sky as the background.
Menggunakan mode metering spot pun tidak akan berguna dalam hal ini karena akan menyebabkan bulan terlihat datar (putih terang). Padahal permukaan bulan yang dipenuhi kawah-kawah dan gunung-gunung memberikan identitas tersendiri dalam hasil foto kita. Karena itu, pada kamera model otomatis atau biasa disebut point-and-shoot biasanya tidak akan memberikan hasil yang bagus dalam memotret bulan. Mode manual sangat disarankan untuk mengambil foto bulan ini. Tantangan berikutnya adalah pergerakan bulan akibat rotasi bumi, akibatnya kecepatan rana yang terlalu lama malah menghasilkan foto bulan yang blur. Kecepatan gerak bulan juga berbeda-beda tergantung posisinya dari cakrawala. Seperti halnya sunrise dan sunset, moonrise dan moonset, gerakan bulan lebih cepat jika makin dekat dengan cakrawala. Hasil keluaran foto yang diinginkan adalah permukaan bulan yang fokus dan tajam, dengan eksposur yang pas dengan seminimal mungkin noise. Oleh karena itu, pengaturan manual adalah ISO serendah mungkin untuk mengeliminasi noise, bukaan sekecil mungkin yang pas untuk menghasilkan ketajaman maksimum tanpa menghasilkan distorsi, dan kompensasi kecepatan rana yang rendah tanpa menghasilkan gambar blur akibat pergerakan bulan. Umumnya, foto yang baik mudah didapatkan asal polusi cahaya akibat lampu, awan, dan cahaya kota bisa dihilangkan. Oleh karena itu, untuk gambar bulan yang baik, sebaiknya dilakukan dengan cara berikut.
Using spot metering will also useless because the exposure will be based on the moon surface, so the result will make the moon as a flat white. Instead the moon contour that filled by craters and mounts will make a unique identity of the moon photos. Because of that, point-and-shoot camera will not produce decent image of the moon. Manual mode is recommended. The other challenge is the earth-moon movement so that the long exposure time will make the moon photo to be blurred. This movement's relative speed is higher when the moon position near the horizon. The expected result is the moon surface to be captured in perfect focus and sharp, optimal exposure with minimum noise. The technique will involve the lowest ISO as possible, sharpest aperture without distortion, and sufficient exposure time that still produces images without blur due to moon movement. In general, good photo can be captured in condition of clear sky and no light polution from the city light. Here are the tips to create a good moon photograph:

1. Bebas polusi cahaya
Alam terbuka dan jauh dari kota sangat ideal untuk fotografi astronomi pada umumnya. Cari tempat yang agak jauh ke pedesaan, dan tempat yang tidak ada cahaya di sekitarnya.
 1. Free of light pollution  
Outdoor and far from the bright town is very ideal for most astro-photography. Find the place that free from light pollution.
2. Cuaca
Perhatikan cuaca setempat, karena perjalanan mencari titik pandang astronomi akan berantakan jika cuaca mendung atau berkabut.
2. Weather
Take precaution of the current weather, because long trip to find a good astro-photography will be messed if the weather will be cloudy or foggy.
3. Tripod
Meskipun tripod sangat dianjurkan, banyak foto bulan yang bisa diambil secara handheld. Ikuti saja aturan jika kecepatan rana lebih lama dari 1/panjang fokal*crop factor, maka harus menggunakan tripod, kecuali kamera/lensa dilengkapi dengan sistem stabilisasi, seperti IS di Canon dan
VR di Nikon, yang dapat mengantisipasi beberapa f-stop. Teknik memegang kamera pun sangat berperan disini, terutama karena obyek yang akan difoto berada di atas.
3. Tripod
Even tripod usage is very recommended, many moon photograph are taken handheld. Just follow the rule of thumb if shutter speed is longer than one divided by focal length multiplied by crop factor, it will be very recommended to use it. Unless the cameras/lenses that equipped with stabilization system, like IS in Canon, VR in Nikon, VC in Tamron, SS in Sony, OS in Sigma, etc, that can tolerance the longer shutter speed from calculation above a few f-stop. Nevertheless, if handheld, camera holding technique will be very useful, moreover the object to be captured is located overhead. 
4. Lensa Telephoto
Makin besar panjang fokal, maka makin baik. Panjang fokal yang efektif biasanya minimal 400mm (35mm format). Penggunaan sensor crop memiliki keunggulan dalam aplikasi teknik ini dibandingkan sensor full-frame atau medium format. Sensor crop memiliki faktor crop yang memperpanjang jarak efektif fokal. Pada Canon adalah 1.6 dan pada Nikon adalah 1.5. Penggunaan lens-extender bisa sangat membantu.
4. Telephoto lens
Longer the focal length, the better. The minimum effective focal length usually 400mm (35mm format). Crop sensor camera have advantages for this purpose if compared with full frame sensor or medium format. Crop sensor has crop factor that multiplies the effective focal length, which for Canon is 1.6 and 1.5 for Nikon. The use of lens extender will also be advantage.
5. Filter
Idenya adalah mengefektifkan cahaya yang masuk, maka semua filter termasuk UV Filter harus dilepas.
5. Filter
The idea is to make the light coming to sensor as effective as it can, so all filter including UV filter shall be removed.
6. Cable release/timer
Untuk meminimalisasi gerakan, sangat dianjurkan menggunakan cable release, remote atau timer. Fitur mirror lock up juga bisa sangat berguna untuk menghasilkan foto yang tajam dan detail.
6. Cable release/timer
To minimize the vibration, it is recommended to use cable relase if using tripod or using 2-sec delay shutter if handheld. Mirror lock up will be useful to enhance image sharpness and capturing the most details.
7. Eksposure
Untuk mendapatkan pencahayaan yang pas, maka gunakan setting memotret pada siang hari. Abaikan metering pada kamera karena memotret bulan tidak akan bisa langsung bagus jika dilihat pada viewfinder. Untuk mendapatkan detail kawah pada permukaan bulan, cara terbaik memang mengunakan teleskop yang akan memberikan perbesaran setara 1500mm. Namun detail tersebut bisa didapatkan dengan lensa tele dengan timing yang tepat. Pengaturan eksposure harus agak over namun tidak terjadi clipping, caranya lihat di preview & histogram. Area clipping ditandai dengan histogram yang mentok di kanan/kiri, atau mudahnya terlihat berkedip di display. Area clipping di luar bulan tidak apa-apa. Gunakan format RAW. White balance harus di-set ke "shade", dan mode capture nol kan semua (faithful), dan tingkatkan sharpness sampai maksimal. Untuk mendapatkan detail hingga ke tepi (memberi kesan dimensi), maka pengambilan gambar harus diambil sehari setelah full-moon atau sudah muncul sedikit bingkai bayangan di salah satu sisi bulan. Ambil banyak gambar dengan setting yang berbeda namun pastikan over-eksposure tanpa clipping terjaga. Mulai dari bukaan maksimal yang ada di lensa hingga bukaan tertajamnya (biasanya f8). 
7. Exposure
To get the right exposure, keep in mind to use daylight shooting setup. Ignore metering in camera display because taking moon pictures can't be straightforward completed in camera only, post processing is essential. To capture the best details, the proper way is using a telescope those might give you a equivalent focal length 1500mm. But similar result can be produced with tele lens with a lot of cropping and perfect timing. The image captured shall be over-exposure without losing detail (clipping). Check display and histogram to decide your setting is OK or not. Clipping outside moon surface is not a problem (it will be pitch black anyway). Always use RAW format, white balance to "shade", and adjust preset to 0, unless sharpness to be maximized. To capture most details such as craters from center to the edge, capture it one day after full moon when a little shadow had casted on one side of  the moon. Take a lot of pictures with different setting, but keep in mind of the over-exposure principle.
8. Post Processing
Gambar yang sudah didapat bisa diolah dengan post processing dari yang sederhana hingga yang rumit. Secara sederhana, satu gambar terbaik dipilih dan diedit dengan mengatur tonal, kontras, dan ketajamannya menggunakan PS atau LR. Untuk cara yang rumit, cara ini melibatkan banyak foto, dalam contoh saya menggunakan 75 foto. Foto diambil dengan setting berbeda dengan panjang fokal yang sama tentunya. Foto-foto tersebut lalu dicrop dan di-stacking dengan program PIPP dan Registax (program khusus astro-imaging), lalu hasilnya di tuning dengan PS atau LR dengan cara yang sama seperti di atas.
8. Post Processing
The images captured shall be post processed to be a final image, simple way or complicated way. For a simple way, one best image is adjusted of its tone, contrast, and sharpness using PS or LR. For complicated way, it will involve many images, in my case 75 photos take with different setting in same focal length of course. Those photos are cropped and stacked using PIPP and Registax (special free software for astro-imaging). Then the final image is tuned using PS and LR.
(originally posted on june 23 2013, updated august 10 2014)

Supermoon Muara Badak, 10 Agustus 2014, multi images stacking
Supermoon Muara Badak, June 23 2013, single image processing

Episode Blusukan Muara Badak, Bag.5 (Transformasi Tanjung Limau)

Tanjung Limau adalah nama desa yang berbatasan langsung dengan operasi perusahaan migas VICO Indonesia. Daerah ini memiliki pesisir pantai yang berbatasan langsung dengan Selat Makassar. Pantai ini terkenal oleh penduduk sekitar karena perkebunan kelapa-nya. Kelapa muda segar dijual disini oleh penduduk setempat, segar, baru dipetik langsung dari pohonnya. Harganya pun sangat terjangkau. Akses jalan ke sini pun sudah diaspal beton hingga ke kedai kelapa tersebut, namun untuk menuju ke pantai, jalannya masih jalan tanah yang gembur saat hujan. Maklum, ini jalan inspeksi pipa gas, karena di pantai nya ada dua sumur gas yang masih berproduksi. Disini dulunya juga terdapat pelantaran kayu, namun sudah tidak ada dan menyisakan tiang-tiang penyangganya.

Semoga bisa tumbuh menjadi pohon yang kuat dan menghijaukan Pantai Tanjung Limau

Pantai di sekitar sini sayangnya berpasir kasar dan berlumpur, mungkin karena dekat dengan daratan yang cenderung berupa hutan mangrove. Di pantai Tanjung Limau sendiri, kondisi mangrove-nya bisa dikatakan sudah hancur. Banyak pohon tumbang yang tersapu dari laut kesini. Hal berbeda bisa dilihat di sepanjang jalan tepian pantai lainnya ke arah Bontang, hutan mangrove yang rimbun masih memenuhi tepian pantainya. Bahkan saya pernah melihat sekawanan atau satu keluarga kecil monyet hidung mancung proboscus atau yang biasa disebut bekantan, sedang mencari makan di sore hari, saat saya bersepeda ke jembatan KM 7. Sayangnya sudah dari hampir setahun yang lalu bersepeda ke tempat itu, kawanan ini tidak pernah terlihat lagi. Info dari driver yang juga penduduk lokal disini, belakangan ini kawanan ini kadang terlihat di hutan mangrove di sekitar SMPN 4 Muara Badak, sangat dekat dengan pantai Tanjung Limau (update 18/6, saya melihat sendiri kawanan bekantan di tempat ini hari ini). Terlihat kan? hutan mangrove adalah "rumah" alami bagi hewan-hewan disini, apalagi sekelas bekantan yang kini sudah menjadi satwa yang dilindungi.
Bekantan di daerah Tanjung Limau, Muara Badak
Proboscus monkey atau monyet bule atau bekantan, salah satu hewan langka dan dilindungi, terdapat di Muara Badak, hidup bebas di sekitar hutan Nipah dan Mangrove

Untuk itu maka bertepatan hari lingkungan hidup sedunia yang jatuh pada 5 Juni lalu, dan mungkin berhubungan juga dengan hari lautan sedunia yang jatuh pada 8 Juni, maka VICO Indonesia melakukan aksi penghijauan pantai dengan penanaman 6,000 bibit mangrove, bekerja sama dengan masyarakat sekitar, pelajar, dan pemuda setempat, serta diikuti oleh perwakilan pejabat dari pemerintahan dan kedinasan terkait (seperti kelautan dan perikanan, kehutanan, lingkungan hidup, dll), serta SKK Migas selaku pengatur kebijakan eksploitasi energi migas di Indonesia. Acara ini berlangsung pada hari Sabtu 14 Juni, dimana penanaman mangrove dilakukan saat siang hari. Tipe penanaman mangrove yang diselenggarakan kali ini sengaja dipilih siang hari karena metode penanaman mangrove yang dipakai adalah penanaman daerah surut. Penanaman daerah surut artinya bibit mangrove ditanam dengan menggali dan mengurug tanah galian (gaya menanam standar). Metode lainnya adalah penanaman daerah rendam, artinya bibit hanya diikat pada batang penyangga dan dibiarkan terendam sebagian dengan polybag dibiarkan, dimana bibit tersebut nantinya akan tumbuh dalam media polybag hingga akarnya cukup kuat mencapai dasar pantai.
Burung Kingfisher biru juga terdapat di Tanjung Limau Muara Badak
  
Saya ikut serta dalam kegiatan itu dan ikut menanam di sektor ujung kanan, dekat dengan posisi danau. Lumpur hitam sedalam lutut bukan halangan bagi saya. Banyak pemuda-pemudi yang ikut serta malah bermain lumpur dan berendam disana. Disini ada dua macam bibit, yaitu bibit yang sudah disemaikan terlebih dahulu (sudah ada batang dan daunnya), dan bibit yang berupa biji atau buah mangrove-nya. Saya kebetulan mendapat bibit mangrove semai. Karena ditanam di daerah surut, maka:
  1. Saya mulai dengan menggali lumpur hingga menemukan dasar yang berpasir.
  2. Lalu saya tancapkan batang penyangga hingga sedalam satu meter atau lebih. Jarak antar tanaman nanti sekitar dua langkah kaki lah.
  3. Lalu sebagian pasir di sebelahnya digali sedalam 20cm atau kira-kira setengah pergelangan tangan.
  4. Polybag saya robek sedikit agar ada kontak antara tanah polybag dengan pasir pantai, supaya bisa beradaptasi.
  5. Saya tanam dan dengan hati-hati saya kembalikan dulu lapisan pasirnya hingga agak padat.
  6. Lalu saya kembalikan bagian lumpurnya dan dirapikan
  7. Pohon mangrove-nya saya ikat longgar ke batang penyangganya.
  8. selesai
Bibit semaian pohon bakau/mangrove yang saya tanam
Pantai Tanjung Limau saat ini, dipenuhi mangrove

Dengan adanya penanaman bakau ini, semoga hutan mangrove kembali subur di sini, menjadi rumah bagi primata dan burung-burung eksotis, serta rumah bagi ikan-ikan kecil yang akan menjadi teman saya menyelam nanti. Minimal bisa menjadi tempat tujuan bersepeda yang indah.

Gallery












Episode Blusukan Muara Badak, Bag.4 (Pangempang)


Setelah rencana gowes ke Marang Kayu sehari sebelumnya dibatalkan karena hujan, begitu dapat sore yang cerah, semangat gowes kembali membara. Namun undangan kali ini tidak banyak disambut seperti hari sebelumnya. Karena koordinator transport tidak ikut, terancam tidak ada mobil pengawal kalau-kalau terjadi sesuatu, misalnya sepeda rusak atau letih, terlebih jaraknya yang 30 km sekali jalan, atau sekitar 60 km pp.. Karena itu, kami-kami yang junior-junior di kancah pergowesan Muara Badak, memilih ikut gowes namun hanya sampai ke Restoran Apung, setengah jaraknya, atau hanya 18 km sekali jalan, atau 36 km pp. Tapi bonusnya kami bisa mampir dulu ke Restoran Apung dan makan seafood disana dan waktunya bisa lebih panjang.
 

Blue hour saat pesanan kami akhirnya terhidangkan

Berangkat pukul 17:15 dari kantor, kami tiba di Restoran sekitar pukul 18:00. Rombongan goweser senior langsung melanjutkan ke target mereka, terus ke arah utara. Saya segera memarkirkan sepeda di depan, namun karena sepi, maka sepeda kami parkirkan ke pelataran kayu-kayu dekat pondokan kami akan makan, di atas air laut yang sedang pasang naik. Cuaca saat itu sangat cerah dan kebetulan di tas camelback saya yang seyogyanya diisi air, malah saya isi dengan kamera DSLR. Kesempatan ini tidak saya sia-siakan untuk menjajal landscape saat "blue hour" ini, sementara rekan-rekan goweser saya memesan makanan berupa satu ekor ikan bawal bakar dan 2 porsi udang serta nasi dan lalapan.

Waktu semakin malam, akhirnya pesanan kami datang dan kami habiskan makanan tersebut dengan lahap. Setelah makan, sepertinya rekan saya yang duo padang itu sedang curhat dengan bahasa yang membuat saya "roaming". Daripada garing, saya membayar ke kasir dan selama di bagian pelataran yang gelap, saya dibuat takjub bahwa langit sangat cerah dan dipenuhi bintang dan sedang bulan baru (bulan mati). Eksperimen membuat foto nightscene sepertinya ide bagus nih. Akhirnya, meskipun tanpa tripod dan cable release, saya menstabilkan kamera dan mengeset kamera untuk eksposure 15 detik, F.3.5, dan ISO 400... Yah, lumayan.. ngga fokus hahaha... Susah memang mencari titik fokus infinity karena titik jarak jauh sebagai acuan tidak ada dan mata saya yang agak minus. Lumayan lah, kebayang kan yang penting kan bagaimana nightscene-nya, hehehe.

Kamar pondokan di dekat gazebo kami makan


Lumayan meskipun baik FG dan BG jadi tidak fokus

Episode Blusukan Muara Badak, Bag.3 (Dermaga Jawi-Jawi)

Hari ini hari training "Corporate Induction" terakhir dimana saya seharusnya sudah istirahat lapangan (field break). Artinya, back-to-back saya sudah masuk kerja, sehingga setelah training ini saya tidak bisa bertugas ke kantor. Karena training selesai pukul 04:00 sore, maka sisa waktu ini saya manfaatkan untuk berolahraga (baca : gowes blusukan lagi/aji mumpung). Berhubung posisi matahari lebih ke timur, sehingga matahari terbenam lebih cepat (cari sendiri referensinya ya, soal inklinasi bumi). Artinya daya jelajah lebih terbatas dan karena saya gowes sendirian, saya tidak bisa blusukan jauh-jauh, seperti ke Marang Kayu atau Pantai Mutiara Pangempang.

Belajar dari keteledoran sebelumnya (bawa tripod tapi tidak bawa tripod mount nya), kali ini saya memiliki persiapan yang cukup dan tidak terburu-buru. Tujuan gowes saya? Dermaga Jawi-Jawi.

Dermaga ini sebenarnya lebih panjang dari ukurannya yang sekarang, dikarenakan ujung dermaga ini sudah roboh tenggelam. Tidak jelas sejak kapan dermaga ini dibangun, namun karena bahannya adalah kayu ulin (atau kayu Jawi-Jawi?) yang legendaris, dermaga ini awet, kecuali bagian ujung dermaganya hehe.

Setiap sore tempat ini banyak didatangi pemuda-pemudi sekitar untuk nongkrong-nongkrong atau balapan liar. Ada juga yang sengaja datang untuk memancing. Pada sore hari, jika langit cerah, pemandangan di sini sangat indah. Kawanan burung bangau blekok putih atau hitam terbang melintas. Vandalisme pun tidak terlalu terlihat di dermaga ini. 

Menurut saya, ini tempat paling mantap untuk relaksasi melepas penat setelah bekerja.

Duduk bersandar di dermaga kayu dan relaksasi pikiran
Dari dermaga ini, kiri dan kanan adalah selat
Lokasi tujuan bersepeda paling Favorit

Episode Blusukan Muara Badak, Bag.2 (Toko Lima)

Setelah sebelumnya mengulas Kecamatan Muara Badak, kali ini saya akan mengulas tujuan gowes saya berikutnya, yaitu Kampung Nelayan Toko Lima. Berhubung hari ini hari diabetes nasional, dan ada anjuran berolahraga, ya sekalian saja saya minta izin pulang cepat (alibi banget padahal tiap hari tetep gowes).
 
Kampung nelayan ini terkenal dengan hasil olahan lautnya, yaitu ikan asin. Sepanjang jalan terdapat tempat penjemuran ikan asin plus bau amisnya yang khas. Selain itu, daerah ini dikenal sebagai tempat membeli ikan segar dan udang-udangan, termasuk kepiting bakau. Mungkin saja restoran-restoran seafood di Bontang, Samarinda, dan Balikpapan membeli pasokan ikan segar dan udang-udangan dari sini. Selama saya mengamati aktivitas bongkar muat ikan dari kapal ketinting sore ini, yang terlihat hanya ikan bandeng dan ikan campur kecil-kecil untuk dibuat ikan asin.
 
Di perjalanan pulang saya melihat seorang bapak dan anaknya keluar dari rimbunnya bakau rawa dengan kakinya yang berlumpur. Di tangannya, terikat dengan rapi kepiting-kepiting bakau ukuran besar (kira-kira sekilo dua ekor). Kelihatannya baru saja panen jerat kepiting nih.
 
Daerah Toko Lima kemungkinan adalah kampung nelayan tertua di Muara Badak, karena disebut dari salah satu versi cerita asal muasal Muara Badak. Konon, seorang penjelajah Bugis keturunan Raja Bone, bernama Ismaila pada tahun 1806 datang menghadap ke Sultan Kerajaan Kutai Kartanegara untuk meminta sebidang tanah di pesisir. Sultan dengan senang hati memberikannya dan memintanya memilih sendiri daerah yang disukainya. Ismaila langsung jatuh hati pada daerah muara sungai Mahakam. Dengan menyusuri sungai tersebut ke hulu, sekitar 2 km dari muara, akhirnya sungai menjadi terlalu rapat untuk dilalui. Ismaila turun di tempat itu yang kini merupakan daerah Toko Lima. Perjalanan dilanjutkan ke daratan dan Ismaila akhirnya memilih dataran tidak jauh dari tempatnya berlabuh. Tempat tersebut banyak ditumbuhi tanaman tampura badak, sehingga akhirnya dinamai Muara Badak.
 
Asal mula nama Toko Lima sendiri saya tidak tahu. Mungkin dahulu hanya ada lima toko di daerah ini. Yang jelas, dermaga yang sudah rebah sebagian harus diperbaiki agar roda ekonomi desa ini tetap berjalan (update Maret 2014, dermaga ini sudah tenggelam, sisa satu bagian jetty dekat perkampungan yang biasanya untuk bongkar muat ikan)

Wilayah tepian sungai Toko Lima
Disclaimer : Sumber sama dengan cerita sebelumnya. Jika ada kekeliruan silakan komentar dengan bukti yang valid. Jika terbukti valid, penulis dengan senang hati akan merevisinya.

Episode Blusukan Muara Badak, Bag.1 (Desa Gas Alam)

Hari pahlawan. Hari ini diperingati sebagai hari pahlawan mengenang peristiwa 10 November 1945 dimana terjadi peristiwa heroik untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia yang memakan ribuan korban dari pejuang rakyat. Peringatan tadi pagi dilakukan dengan membunyikan klakson selama 30 detik, dilanjutkan dengan mengheningkan cipta selama 10 menit pada pukul 09.05 pagi. Secara pribadi, saya akan melakukan olahraga sepeda menyusuri perkampungan penduduk sekitar camp atau kerennya disebut blusukan (meskipun nggak nyambung banget dengan tema hari pahlawan sih).
 
Pada rangkaian tulisan kali ini, saya ingin memperkenalkan desa Muara Badak yang mencatatkan sejarah perkembangan LNG di Indonesia. Pada bagian pertama saya akan memulainya dari pusatnya, yaitu desa Gas Alam, Muara Badak.
 
Asal muasal desa Muara Badak sendiri bukan desa yang berdiri oleh penduduk asli Kalimantan, melainkan dari pulau seberang, Sulawesi Tenggara. Kalimantan Timur memang berbatasan langsung dengan Selat Makassar. Kalimantan Timur saat itu berada di bawah naungan kerajaan islam tertua di Indonesia, Kerajaan Kutai Kartanegara. Ada banyak versi mengenai asal-usul desa ini yang pernah saya dengar dari sesama pekerja, namun terdapat tiga versi cerita asal muasal desa ini. Selengkapnya bisa melihat ke sumber berikut.


Yang menjadi kesamaan dalam ketiga cerita tersebut adalah asal muasal nama Muara Badak. Meskipun mengandung nama badak, namun asal kata badak bukan berasal dari nama hewan bercula berkulit tebal itu, namun berasal dari tanaman tampura badak yang dulu terdapat di sekitar sini. Memakai nama muara karena daerah ini memang menjadi bagian dari anak-anak sungai dari Sungai Mahakam, sungai terpanjang di Indonesia, yang bermuara ke Selat Makassar.
 
Dari ketiga cerita tersebut, bisa ditarik kesamaan bahwa sekitar tahun 1800-an penjelajah Bugis (atau suku lainnya dari Sulawesi Selatan) datang menghadap Sultan Kerajaan Kutai Kartanegara di Tenggarong dan meminta restu atas sebidang tanah di daerah Muara yang kaya. Di tanah tersebut banyak tumbuh tanaman tampura badak, sehingga daerah tersebut pun akhirnya dinamakan Muara Badak.
 
Lalu pada sekitar masa penjajahan Belanda, sudah dilakukan eksplorasi besar-besaran di daerah ini dan beberapa tempat potensial penghasil minyak di Indonesia. Pada tahun 1968, berbekal data eksplorasi dari pemerintah Hindia Belanda, Pertamina yang saat itu masih memiliki fungsi regulasi (saat ini dipecah menjadi SKK Migas di bawah Kementrian ESDM), memberi kontrak bagi hasil kepada HUFFCO, perusahaan perminyakan dari Houston, Texas, untuk mengelola sebuah area seluas 631,000 hektar di daerah delta Sungai Mahakam, tepatnya di daerah cekungan Kutai, yang kini dikenal sebagai blok Sanga-Sanga. Saat itu gas bukan komoditi yang dicari, melainkan minyak. Namun hasil dari eksplorasi pertama di daerah Badak, yang ditemukan adalah gas alam dengan jumlah yang sangat besar. Daerah ini dinamakan Badak-1 yang merupakan asal-usul Lapangan Badak. Lokasi lainnya yang memiliki potensi yang sama adalah di Arun, Aceh Utara. Sayangnya, saat itu gas alam belum memiliki nilai jual ekonomis seperti minyak bumi. Lokasinya yang terpencil dan pasar yang belum jelas, menyebabkan sumber kekayaan alam ini hampir saja ditinggalkan. Namun atas usulan dari Direktur Utama Pertamina saat itu, Dr. Ibnu Sutowo, gas alam itu akan diolah menjadi gas alam cair. Industri gas alam cair pun saat itu belum booming di dunia, karena baru muncul sekitar 4-5 tahun sebelumnya. Akhirnya usulan ini disetujui oleh Presiden RI saat itu, yaitu Soeharto.
 
Berbekal kepercayaan diri yang mantap, Pertamina didukung oleh HUFFCO dan mitra usahanya, berhasil membuat kontrak penjualan gas alam cair pada 3 Desember 1973 untuk lima Industri dan pembangkit listrik di Jepang untuk kurun waktu 20 tahun yang dikenal sebagai kontrak 1973. Enam bulan berikutnya, yaitu Juni 1974, berdiri kilang pengolahan gas alam cair di pantai Bontang untuk memenuhi kontrak tersebut  yang dinamakan PT. Badak. Nama PT. Badak dipilih untuk mengabadikan nama lokasi sumur pertama yang menjadi tonggak sejarah berdirinya kilang ini.
 
Berkat keberadaan kekayaan alam ini, HUFFCO mulai merekrut penduduk lokal untuk menjadi pekerjanya, sehingga penduduk yang sebelumnya adalah petani dan nelayan menjadi lebih makmur. Seiring dengan bertumbuhnya fasilitas dan roda ekonomi di daerah Lapangan Badak, daerah ini mulai menjadi daya tarik penduduk sekitar untuk tinggal di sekitarnya. Desa yang dibentuk pertama kali dan terdekat dengan fasilitas camp HUFFCO Lapangan Badak diberi nama Desa Gas Alam. Di desa ini terdapat dua tugu yang menjadi simbolik kejayaan gas alam di daerah ini. Saat ini dibangun tugu baru di simpang 6, yaitu persimpangan yang menjadi pintu masuk utama menuju Lapangan Badak.
 
Tahun-tahun berikutnya, kegemilangan gas alam ini berlanjut dengan ditemukannya lapangan-lapangan lainnya, yaitu Nilam, Lempake, Semberah, Mutiara, Pamaguan, Beras, Lailawi, dll. Selain itu, di dekat area konsesi migas Blok Sanga-Sanga, ditemukan lagi blok baru, yaitu blok Mahakam yang terkenal hingga kini. Blok tersebut dioperasikan oleh perusahan Prancis, Total Indonesie. Pada masa kini, potensi blok Sanga-Sanga sudah tidak sebesar dahulu.  HUFFCO mengalihkan hak operasinya ke VICO yang sampai saat ini beroperasi. Sumber daya gas alam yang mulai menurun produksinya, menyebabkan eksplorasi bergeser ke area lepas pantai. Mulai muncul lapangan-lapangan baru di lepas pantai, seperti Gendalo-Gehem, dan lain-lain.
 
Siapa sangka, daerah yang dahulu hanya muara tepian yang menjadi kampung nelayan Bugis kini menjadi kota-kota Besar yang kita kenal sebagai Bontang, Samarinda, dan Balikpapan. Bahkan disebut-sebut sebagai Kabupaten terkaya di Indonesia.
 
Sumber : dari obrolan2 di warung-warung, blog komunitas fotografi Muara Badak yang disebutkan di atas, laporan KP (nama pengarangnya dirahasiakan, karena umumnya bagian ini copy paste, wkwkwk), dan penalaran penulis sendiri.
Disclaimer : kalau ada bagian di dalam ulasan ini yang kurang tepat, silakan dikomentari dengan melampirkan sumber yang valid. Jika terbukti valid, saya dengan senang hati merevisi perbaikan tersebut.
Tipikal perkampungan Muara Badak, rumah Panggung di atas rawa-rawa
Tugu Simpang Enam

Ayo Bergerak, Mari Bersepeda

Undangan sudah disebar melalui email. Acara syukuran ulang tahun saya kali ini akan dilakukan di restaurant apung di Pantai Mutiara, Pangempang. Tapi bukan makan-makan biasa, karena syarat untuk ikut acara ini adalah bersepeda ke tempat tujuan, pulang pergi. Dari kantor, restoran ini berjarak sekitar 13km atau sekitar 30 menit buat saya dan 45 menit s/d 1 jam untuk rata-rata peserta lainnya yang tidak biasa bersepeda, nonstop, untuk sekali jalan. Pukul 05:00 sore, rombongan gelombang pertama, yaitu yang santai ataupun tidak biasa bersepeda, berangkat. Saya dan rombongan grup gowes kantor berangkat pukul 05:30 sore. Dengan kecepatan lumayan dan konstan, kami berhasil menyusul rombongan pertama di 5 km pertama. Karena saya yang punya hajat, saya minta izin untuk pisah dari rombongan dan pergi melaju duluan. Dalam waktu 30 menit saya sudah sampai dan memastikan jumlah hidangan yang diperlukan mencukupi.

Bersepeda menyambut hari batik nasional // Bike ride celebrating National Batik day

Invitations had been distributed via email. My birthday party that year will be held at Pantai Mutiara Restaurant, Pangempang. But it was not just ordinary birthday party, because the requirement to participate in this event was just by taking bike ride to the Restaurant from main field office. Nobody was allowed to brought a car, but some of them were still brought the car at the late afternoon. The distance is 13km one way, or about 45 minutes/1 hour ride for regular, and about 30 minutes for our field office's biker's club. At 05:00p.m. the first group went first then followed by biker's group 30 minutes later. We successfully get passed the first group at the first 5km, thed decided to ride in bigger group. I bid permission to ride ahead to coordinate with the restaurant owner. I reached the restaurant in 30 minutes and ensure all meals and drinks were perfectly served
Acara ulang tahun saya ala pesepeda // My birthday bash party ala biker style

Acara berlangsung lancar. Saat kepulangan, hari sudah gelap. Untuk keselamatan, gowesers yang membawa lampu bergerak bersama rombongan lainnya bersama-sama. Kami sampai kembali ke Camp sekitar pukup 09:00 malam. Seperti itulah sepotong cerita dari keseruan bersepeda di kantor. Menurut saya, dibandingkan sepeda statis, bersepeda di luar memiliki beberapa kelebihan.
The party went well. It was late when the party is finished.  For safety, bikers equipped with front light assisting the others. After a long dark bike trip, we managed to return to camp at 09:00 p.m. It was one of my story during bike at work. In my opinion, compared with static cycle, cycling outdoor has many advantages
Acara perpisahan anggota klub sepeda // Farewell party of one club member

1. Melepas stress
Beberapa sumber mengatakan bersepeda di luar memicu pelepasan hormon endorfin yaitu pemicu bahagia, yang menekan jumlah hormon serotonin, pemicu depresi. Karenanya selain olahraga, bersepeda memiliki bonus tambahan, yaitu rekreasi.
1. Reducing stress
Some literature emphasized that cycling outdoor triggers endorfin hormone release which contribute to happiness and comfort sense, in contrary reducing serotonin hormone, the one contribute to stress/depression. Because of that, cycling has additional benefit, which is recreation.
2. Melatih kekuatan dan stamina
Bersepeda selain sebagai olahraga kardio (melatih jantung), juga berfungsi sebagai low impact aerobik yang melatih sendi-sendi kaki dan kekuatan tulang punggung.
2. Increasing lower body strength and stamina
Bike ride beside of regarded as cardiac exercise, is also benefit as low impact aerobic exercise that trains leg ligaments and the flexibility of spinal bone.
Selain untuk olahraga, bersepada juga bersifat rekreasi dan meningkatkan silaturahmi // Despite of the advantage as sport, cycling also has recreation effect and develop good interpersonal relationship

3. Silaturahmi
Tinggal di lingkungan camp yang dijaga security 24 jam dan dilengkapi fasilitas lengkap bukan menjadi alasan untuk tidak bersosialisasi ke luar pagar. Sepulang bersepeda, kita bisa mampir ke kedai-kedai masyarakat, mengunjungi pasar malam di beberapa tempat berbeda, atau membeli suplai kebutuhan (seperti alat tulis, alat mandi, buah-buahan, dll) di warung/toko-toko masyarakat.
3. Socialize with locals
Stay in 24 hours secured camp with full facilities, is not a reason to spend all time inside the perimeter. I like to stop by at locals food stall, tasting local food, visiting night market, local fruit stalls, or just buying the personal stuff or stationary from local shop.
4. Bercengkrama dengan alam
Alam daerah operasi perusahaan tempat saya bekerja masih terbilang cukup asri meskipun sudah banyak penduduk disana-sini. Kawanan burung bangau kuntul putih menghiasi angkasa hampir setiap sore. Tidak seperti di Jakarta dimana riuh burung gereja yang terdengar, namun di sini kicau kutilang seakan seperti bukan burung bernilai tinggi seperti di Jakarta. Jika cuaca dan waktunya tepat, hewan asli Kalimantan Timur seperti Bekantan kadang-kadang terlihat bergelantungan di pepohonan bakau rawa-rawa. Biawak seukuran buaya kadang-kadang melintas gagah menyebrangi jalan.
4. Enjoy the native ecosystem
The ecosystem around my company camp is still pristine and unique, even the people begin to utilize lands for farmings and housings. The horde of white herons sighted on the sky every afternoon. The domestic birds that are often sighted is bulbuls, which is different from my hometown in Java, where the domestic birds are house sparrows. The price of bulbuls in Jakarta is relatively high in bird market, but here, bulbuls can be seen everywhere in the morning. If the weather and time is right, the proboscis monkeys can be sighted eating the leaves near the mangrove area. A mature monitor lizard are often sighted crossing the road.
Bangau kuntul Muara Badak // Wild herons at Muara Badak
Kebersamaan adalah tujuan utama, kesehatan dan kebugaran adalah bonus // Togetherness is the main purpose, health and fitness are the bonuses

5. Sinar matahari
Untuk yang pekerjaannya lebih banyak di kantor, menikmati matahari hanya bisa dirasakan ketika libur field break. Sinar matahari yang lembut dapat memberikan asupan vitamin D dan sekaligus relaksasi pikiran karena rasa panas lembutnya dan keindahan suasana sore, memberikan relaksasi tersendiri.
5. Sunlight
For the worker that mainly in the office, enjoying sunlight can be done during field break. The warm sunlight in the morning and afternoon brings nutritions vit.D and relaxation. The beauty of afternoon sunset is also refreshing the mind from one day working.

Panitia funbike


Jadi jelas, seluruh keunggulan ini secara langsung akan membuat kita lebih bugar secara fisik dan pikiran, dan akhirnya meningkatkan produktivitas dan kreativitas. Namun di balik keunggulan ini, terdapat resiko seperti kecelakaan tunggal atau kecelakaan lalu lintas serta kriminalitas. Akan tetapi resiko bisa diminimalkan dengan penerapan alat pelindung yang sesuai (helm, jersey berwarna cerah, kacamata, sepatu, dll) serta buddy system. Tidak boleh bersepeda blusukan sendiri tanpa partner.
We can conclude that all benefits behind bike at work program will make us  fit physically and mentally, which in turns it will increase creativity and productivity at work. But beware that behind these benefits, lies risk of traffic accident and crimes. Those risk can be minimized with proper protective bike wear (helmet, light colored jersey, safety glasses, shoes, etc). Don't forget buddy system to prevent crimes, where never bike outside alone
Test ride Polygon Xtrada IV

Pertemuan Secara Tidak Sengaja Dengan Orang Utan Liar

Hari ini seperti hari biasanya di Lapangan. Adanya pekerjaan perbaikan pipa gas tekanan tinggi memberi saya kesempatan untuk melakukan kunjungan lapangan ke lokasi kerja. Teman saya yang kebetulan ditugaskan untuk hal lain, namun arahnya sama, menuju Bontang. Kebetulan juga pada jadwal tugas saya kali ini, saya membawa kamera DSLR, sekalian untuk dokumentasi pribadi. Jadilah kami berdua dengan supir menuju Bontang melalui jalur offroad inspeksi pipa menggunakan mobil double-cabin  bergardan ganda. Setelah selesai tugas saya di lokasi pekerjaan, giliran saya mengantar teman saya ke arah Bontang. Namun, karena turun hujan gerimis dan jalan menjadi licin, supir mobil kami menurunkan kecepatan sesuai kebijakan perusahaan. Beberapa kilometer dari tugu khatulistiwa (ekuator), pandangan saya yang terus mengamati pepohonan dari jendela mobil dikagetkan dengan adanya benda besar berwarna gelap di atas salah satu pohon. Karena laju mobil yang lambat, mungkin sekitar 10-15 km/jam, saya terus mengamati benda itu sampai saya sadari benda itu bergerak. Spontan saya meminta supir menepikan kendaraan yang kami tumpangi.
That day was usual day in job site. There was high pressure pipeline repair works, so I had to do field visit. My colleague want to join my car because his project is in Bontang, the same direction with mine. And there we went using double cabin, four wheeled drive car to Bontang via inspection road. After finishing my job at repair site, I had to accompany my friend to Bontang. But then the rain came and soil graded road became muddy, so the driver decrease the car's speed. One or two kilometers from equator monument in pipeline road, I saw a big dark brown thing hanging on the tree amongst the trees sideways. Because the car's speed was low enough (approximately 10-15 kph), I observed it thoroughly and wondering what it is. Until I realized that thing move to another trees, spontaneously I asked the driver to stop by

Orang Utan yang saya temui sedang memakan kulit kayu // The Orang Utan I encountered eating wood skin

Saat kendaraan berhenti itulah, jelas terlihat bahwa benda gelap di atas pohon itu adalah orang utan, sang primata asli Kalimantan, Pongo pygmaeus, salah satu dari dua spesies orang utan yang ada di Indonesia. Kerabat dekatnya ada di Sumatra, yaitu Pongo abelii. Orang utan itu jelas berjenis kelamin jantan dilihat dari ukurannya yang raksasa dan bentuk pipinya yang besar. Orang utan itu sedang merobek kulit kayu dan memakannya. Saya ulangi, merobek kulit kayu! Kekuatan orang utan konon sangat besar, setara 10 pria dan bisa mencabut pohon dari akarnya. Namun kekuatan yang besar tidak menjamin keberlangsungan spesiesnya atas ancamannya yang paling besar, kita, manusia. Segera saya siapkan kamera DSLR saya dan lensa telephoto yang kebetulan saya bawa di tas lensa saya. Saya tidak berniat untuk turun dari mobil dan mendekat, karena ada 2 kemungkinan, entah dia akan merasa terganggu dan pergi atau dia akan merasa terancam dan menyerang saya. Lagipula di luar sedang hujan. Jadi segera saya arahkan kamera saya dan mengabadikan foto sang raja hutan Kalimantan ini.
Then that time I knew that big dark brown thing was an Orang Utan, a wild Orang Utan, the native primates in Kalimantan, Pongo pygmaeus its latin name, one of two only Orang Utan species in Indonesia. The other species live in Sumatera, Pongo abelii. That Orang Utan was male, I conclude it from the huge body size and the determined cheek bone. That Orang Utan was tearing off wood skin and eat it. I repeat, tearing off wood skin. Its strength was enormous that scientist believe it was ten times adult men and it capable to pull out the small trees off the ground. But unfortunately, its great strength didn't guarantee its survival against its main predator, us.. human. I immediately prepared my DSLR camera and telephoto lens that I fortunately brought along during this trip. I didn't intended to get closer to it, because there might be two possibilities. Either it threatened and attack me, or it disturbed and escaped away. I didn't want to take any of that risk, so I aim carefully my camera onto it, frame it, and taking pictures of it. Take nothing but pictures
Tugu ekuator di jalur pipeline // The Equator monument on pipeline road

Layaran dan Snorkeling di Pulau Beras Basah Bontang

Perjalanan saya ke Pulau Beras Basah kali ini bertepatan dengan outbound/pelatihan kekompakan team departemen di tempat saya bekerja. Karena perusahaan memiliki kerjasama dengan PT Badak NGL, kami diberi kesempatan menggunakan fasilitas PT Badak yaitu Pantai Marina. Di Pantai ini, kami dipinjamkan peralatan snorkeling dan diberi kesempatan untuk mencoba perahu layar didampingi instruktur. Saya memilih untuk ikut rombongan snorkeling terlebih dahulu karena saya memilih membawa peralatan sendiri dari Jakarta. Setelah selesai aktivitas Layaran dan Snorkeling, kami diantarkan dengan speed boat ke Pulau Beras Basah.
My trip to Beras Basah Island is in the event of my Department's outbound/team building training activity. Because the Company I worked has cooperation with PT Badak NGL, we were given the opportunities to try their facility, which is Pantai Marina. At Pantai Marina, there are snorkeling set readily to use to be borrowed and also a sail boat with the instructor to try Sailing water sport. I choose Snorkeling first because I already brought my Snorkeling equipment from Jakarta. After finishing Sailing and Snorkeling activity, we were picked up to Beras Basah Island by using speed boat.
Perahu layaran yang siap digunakan // Sail boat those are ready for use
Perahu cepat yang mengantarkan masyarakat umum ke Pulau Beras Basah // Speedboat that picked the public visitor to Beras Basah Island

Tidak ada yang khusus mengenai pulau ini, hanya sebuah mercusuar tua dan beberapa toko penjaja kelapa muda segar dan mie rebus. Pasirnya kasar dan tajam, jadi harus menggunakan sendal yang pantas atau booties dari neoprene agar tidak terluka. Air lautnya juga agak berlumpur dan dipenuhi oleh rumput laut sehingga tidak nyaman untuk berenang. Namun pemandangan sekitarnya cukup indah dan bersih terutama pada bagian dimana mercusuar itu berada. Yang membuat pulau ini unik adalah, sangat banyak bintang laut berwarna-warni dapat ditemui dengan mudah disini. Keberadaan bintang laut yang sangat banyak meskipun terlihat indah, mengindikasikan terumbu di sekitarnya sedang rusak karena bintang laut merupakan hama terumbu karang. Hal ini terlihat saat saya melakukan snorkeling dimana sangat sedikit terumbu hidup tersisa disini. Oleh karena itulah beberapa karyawan PT Badak yang cinta lingkungan melakukan pembudidayaan terumbu karang yang ditempelkan pada rangkaian kerangka dari baja atau kayu di dalam air. Saya tidak sempat melihatnya karena posisinya cukup dalam dan snorkle saya bermasalah (mudah lepas).
There is nothing special in this island, only an old lighthouse and a few food-stalls selling fresh coconut and stew noodle. The sand are coarse and sharp, so using appropriate sandals or neoprene booties will protect our feet to get wounded. The water also muddy and filled with sea grass that will make swimming uncomfortable. But the view is quite beautiful especially the part where the lighthouse placed. The uniqueness of this island is the abundance of various color and species of starfish population. The presence of starfish is the sign of the deterioration of the reefs because starfish are indeed the pest for live coral. I saw it myself while snorkeling that I hardly found live coral here. But I appreciate the effort from some employees from PT Badak for the rehabilitation of live coral artificially using cages. Unfortunately I can't saw it myself because their positions are quite deep and I had trouble with my snorkel. 
Mercusuar tua yang menjadi ciri khas Pulau Beras Basah // An old Lighthouse that become the identity of Beras Basah Island
Pasirnya kasar dan kadang tajam karena serpihan kerang atau bintang laut // The sand are coarse because of fragments of molluscan or starfish exo-skeleton


Saya berharap pulau ini tetap bersih dan masyarakat Bontang menjaga pulau ini dengan penuh tanggung jawab.
I hope the island will stay clean and the people of Bontang responsibly taking care of this Island.
Saya tidak tahu harus marah atau tidak atas kelakuan pengunjung lokal disini, namun bintang laut adalah hama // I didn't know whether to be angry or not for these yougsters behaviour, but indeed starfish are pest