Travelling

Exploring Indonesian's magnificent places is my passion

Mountain Bike

The most exercise I did during my free time

Photography

To capture the beauty of the places I've visited

Culinary

The other reason why I love to go traveling

Engineering

Because big dreams never come so easy

Moto-Adventure

Graze the road and enjoy the adventure from each and every miles

Showing posts with label Photography. Show all posts
Showing posts with label Photography. Show all posts

Tes Foto Makro Olympus TG-3 iHS

Berhubung kamera underwater saya rusak di Derawan, maka saya mencari penggantinya. Kamera sebelumnya, yaitu Intova IC-12 adalah kamera poket yang ringan dan dilengkapi casing underwater yang didesain khusus untuk kamera tersebut, bahkan menjadi satu paket dengan kameranya. Kamera buatan Hawaii itu sudah menemani saya dalam 3 tahun terakhir dan mengabadikan "momen-momen basah" (istilah berbahaya) dengan cukup baik. Sayangnya kameranya rusak (lebih spesifik layar LCD menyala tetapi ada garis hitam mengganggu, dan baterai "hamil"), sedangkan casing underwater-nya masih baik-baik saja, jadi tetap saja tidak bisa dipakai. Sayangnya tidak ada kamera yang bisa dipakai untuk casing underwater itu, sehingga, ya mau tidak mau harus mencari kamera baru.

Setelah ngulik-ngulik internet dan toko kamera, pilihan saya jatuh pada Olympus Tough 3 (TG-3) yang terkenal karena generasi "Tough"-series nya. Soal kualitas gambar, ya so so lah, standar kamera poket, sensor cuma 1/2.3" jadi standar,, itu saja.. Yang membedakan adalah bukaan lensanya, dengan bukaan f2.0, dibandingkan rata-rata kamera underwater yang terkenal lambat f4 di bukaan terbesarnya, keunggulan ada di seri Tough ini. F2.0 adalah kategori cepat, tapi ada minusnya, nanti saya beritahu. Rentang fokal zoomnya juga lumayan untuk kategori kamera underwater, yaitu wide setara 25mm dan tele maksimum 100mm di format 35mm. Selain itu keunggulan yang dibenamkannya adalah ini kamera tough, tidak perlu casing saat dioperasikan di dalam air, tahan benturan, dan dilengkapi GPS, altimeter/manometer, serta wifi untuk kontrol jarak jauh dan transfer foto langsung ke smartphone. Fitur yang paling menonjol di kamera ini adalah hasil makro nya yang sangat luar biasa untuk ukuran kamera poket. Di mode makro ini diperkenalkan salah satu teknologi terdepan dalam dunia makro, yaitu focus stacking dan focus bracketing. Hal ini untuk memperluas detail saat memfoto makro dengan menggabungkan beberapa foto yang fokusnya diatur maju/mundur lalu digabung. Teknik yang sama juga dipakai di fotografi makro menggunakan dslr + lensa makro, dimana biasanya menggunakan bukaan sekecil mungkin lalu dikompensasi dengan flash. Fitur ring flash guide juga tersedia namun dijual terpisah, berbeda dengan Pentax seri WG dan Ricoh seri WG yang memiliki ring flash guide built-in. Namun hasil foto yang sudah cukup terang sudah bisa membuat foto makro yang menarik.

Berikut contoh hasil jepretan makro dari si TG-3 ini.

Jam tangan outdoor saya, Casio G-Shock GAC-100, hasil cukup detail bahkan debu di kaca jam bisa tertangkap
Putik bunga diabadikan dengan detail yang dapat dihasilkan dengan focus stacking
Seekor capung, post processing color balance agar menutupi bg yang ramai
Seekor lalat buah bertengger di daun
Seekor laba-laba rumah yang penasaran

Lumayan kan hasilnya?
Catatan : Semua foto binatang diambil hidup-hidup, kecuali bunga, karena bunga itu jatuh/gugur dari pohonnya.

Tips Memotret Bulan


Hari ini bukan hanya malam purnama biasa, namun terdapat fenomena astronomi yang populer dengan sebutan Supermoon. Supermoon sebenarnya adalah penampakan bulan yang secara visual lebih besar dari biasanya karena berada di jarak terdekat di lintasannya terhadap bumi, yang disebut perigee. Fenomena ini berulang hampir setiap tahun, atau tepatnya setiap 14 kali purnama. Supermoon berikutnya diprediksi akan jatuh pada tanggal 10 Agustus 2014. Momen ini adalah saat yang sangat tepat untuk memotret bulan. Memotret bulan sangat tricky dan membutuhkan pemahaman tentang segitiga eksposur, yaitu kombinasi sensitivitas (ISO), bukaan rana (Aperture), dan kecepatan rana (Shutter speed). Hal ini disebabkan metering, atau sistem pintar kamera untuk mengukur cahaya dan mengatur segitiga eksposur secara otomatis kebingungan akibat kontras yang tinggi antara bulan dan langit gelap sebagai latarnya.
That night was not the ordinary full moon, but the astro phenomenon that popularly called supermoon will take place. Supermoon actually is the day where the moon is visually larger than its usual size because it is in its nearest distance to earth, that scientifically called perigee. This phenomenon repeats every 14 moon cycle. The next supermoon is predicted to take place in August 10, 2014. This is the perfect moment for astro-photographers interesting to make the moon as their object. Photographing full moon is actually very tricky and requires the knowledge of manipulating exposure triangle, which are sensitivity (ISO), aperture, and shutter speed. It is basically because metering system, the one programming in most digital camera to measure the light and compared it with normal exposure, is fouled because the high contrast between the bright moon and the dark sky as the background.
Menggunakan mode metering spot pun tidak akan berguna dalam hal ini karena akan menyebabkan bulan terlihat datar (putih terang). Padahal permukaan bulan yang dipenuhi kawah-kawah dan gunung-gunung memberikan identitas tersendiri dalam hasil foto kita. Karena itu, pada kamera model otomatis atau biasa disebut point-and-shoot biasanya tidak akan memberikan hasil yang bagus dalam memotret bulan. Mode manual sangat disarankan untuk mengambil foto bulan ini. Tantangan berikutnya adalah pergerakan bulan akibat rotasi bumi, akibatnya kecepatan rana yang terlalu lama malah menghasilkan foto bulan yang blur. Kecepatan gerak bulan juga berbeda-beda tergantung posisinya dari cakrawala. Seperti halnya sunrise dan sunset, moonrise dan moonset, gerakan bulan lebih cepat jika makin dekat dengan cakrawala. Hasil keluaran foto yang diinginkan adalah permukaan bulan yang fokus dan tajam, dengan eksposur yang pas dengan seminimal mungkin noise. Oleh karena itu, pengaturan manual adalah ISO serendah mungkin untuk mengeliminasi noise, bukaan sekecil mungkin yang pas untuk menghasilkan ketajaman maksimum tanpa menghasilkan distorsi, dan kompensasi kecepatan rana yang rendah tanpa menghasilkan gambar blur akibat pergerakan bulan. Umumnya, foto yang baik mudah didapatkan asal polusi cahaya akibat lampu, awan, dan cahaya kota bisa dihilangkan. Oleh karena itu, untuk gambar bulan yang baik, sebaiknya dilakukan dengan cara berikut.
Using spot metering will also useless because the exposure will be based on the moon surface, so the result will make the moon as a flat white. Instead the moon contour that filled by craters and mounts will make a unique identity of the moon photos. Because of that, point-and-shoot camera will not produce decent image of the moon. Manual mode is recommended. The other challenge is the earth-moon movement so that the long exposure time will make the moon photo to be blurred. This movement's relative speed is higher when the moon position near the horizon. The expected result is the moon surface to be captured in perfect focus and sharp, optimal exposure with minimum noise. The technique will involve the lowest ISO as possible, sharpest aperture without distortion, and sufficient exposure time that still produces images without blur due to moon movement. In general, good photo can be captured in condition of clear sky and no light polution from the city light. Here are the tips to create a good moon photograph:

1. Bebas polusi cahaya
Alam terbuka dan jauh dari kota sangat ideal untuk fotografi astronomi pada umumnya. Cari tempat yang agak jauh ke pedesaan, dan tempat yang tidak ada cahaya di sekitarnya.
 1. Free of light pollution  
Outdoor and far from the bright town is very ideal for most astro-photography. Find the place that free from light pollution.
2. Cuaca
Perhatikan cuaca setempat, karena perjalanan mencari titik pandang astronomi akan berantakan jika cuaca mendung atau berkabut.
2. Weather
Take precaution of the current weather, because long trip to find a good astro-photography will be messed if the weather will be cloudy or foggy.
3. Tripod
Meskipun tripod sangat dianjurkan, banyak foto bulan yang bisa diambil secara handheld. Ikuti saja aturan jika kecepatan rana lebih lama dari 1/panjang fokal*crop factor, maka harus menggunakan tripod, kecuali kamera/lensa dilengkapi dengan sistem stabilisasi, seperti IS di Canon dan
VR di Nikon, yang dapat mengantisipasi beberapa f-stop. Teknik memegang kamera pun sangat berperan disini, terutama karena obyek yang akan difoto berada di atas.
3. Tripod
Even tripod usage is very recommended, many moon photograph are taken handheld. Just follow the rule of thumb if shutter speed is longer than one divided by focal length multiplied by crop factor, it will be very recommended to use it. Unless the cameras/lenses that equipped with stabilization system, like IS in Canon, VR in Nikon, VC in Tamron, SS in Sony, OS in Sigma, etc, that can tolerance the longer shutter speed from calculation above a few f-stop. Nevertheless, if handheld, camera holding technique will be very useful, moreover the object to be captured is located overhead. 
4. Lensa Telephoto
Makin besar panjang fokal, maka makin baik. Panjang fokal yang efektif biasanya minimal 400mm (35mm format). Penggunaan sensor crop memiliki keunggulan dalam aplikasi teknik ini dibandingkan sensor full-frame atau medium format. Sensor crop memiliki faktor crop yang memperpanjang jarak efektif fokal. Pada Canon adalah 1.6 dan pada Nikon adalah 1.5. Penggunaan lens-extender bisa sangat membantu.
4. Telephoto lens
Longer the focal length, the better. The minimum effective focal length usually 400mm (35mm format). Crop sensor camera have advantages for this purpose if compared with full frame sensor or medium format. Crop sensor has crop factor that multiplies the effective focal length, which for Canon is 1.6 and 1.5 for Nikon. The use of lens extender will also be advantage.
5. Filter
Idenya adalah mengefektifkan cahaya yang masuk, maka semua filter termasuk UV Filter harus dilepas.
5. Filter
The idea is to make the light coming to sensor as effective as it can, so all filter including UV filter shall be removed.
6. Cable release/timer
Untuk meminimalisasi gerakan, sangat dianjurkan menggunakan cable release, remote atau timer. Fitur mirror lock up juga bisa sangat berguna untuk menghasilkan foto yang tajam dan detail.
6. Cable release/timer
To minimize the vibration, it is recommended to use cable relase if using tripod or using 2-sec delay shutter if handheld. Mirror lock up will be useful to enhance image sharpness and capturing the most details.
7. Eksposure
Untuk mendapatkan pencahayaan yang pas, maka gunakan setting memotret pada siang hari. Abaikan metering pada kamera karena memotret bulan tidak akan bisa langsung bagus jika dilihat pada viewfinder. Untuk mendapatkan detail kawah pada permukaan bulan, cara terbaik memang mengunakan teleskop yang akan memberikan perbesaran setara 1500mm. Namun detail tersebut bisa didapatkan dengan lensa tele dengan timing yang tepat. Pengaturan eksposure harus agak over namun tidak terjadi clipping, caranya lihat di preview & histogram. Area clipping ditandai dengan histogram yang mentok di kanan/kiri, atau mudahnya terlihat berkedip di display. Area clipping di luar bulan tidak apa-apa. Gunakan format RAW. White balance harus di-set ke "shade", dan mode capture nol kan semua (faithful), dan tingkatkan sharpness sampai maksimal. Untuk mendapatkan detail hingga ke tepi (memberi kesan dimensi), maka pengambilan gambar harus diambil sehari setelah full-moon atau sudah muncul sedikit bingkai bayangan di salah satu sisi bulan. Ambil banyak gambar dengan setting yang berbeda namun pastikan over-eksposure tanpa clipping terjaga. Mulai dari bukaan maksimal yang ada di lensa hingga bukaan tertajamnya (biasanya f8). 
7. Exposure
To get the right exposure, keep in mind to use daylight shooting setup. Ignore metering in camera display because taking moon pictures can't be straightforward completed in camera only, post processing is essential. To capture the best details, the proper way is using a telescope those might give you a equivalent focal length 1500mm. But similar result can be produced with tele lens with a lot of cropping and perfect timing. The image captured shall be over-exposure without losing detail (clipping). Check display and histogram to decide your setting is OK or not. Clipping outside moon surface is not a problem (it will be pitch black anyway). Always use RAW format, white balance to "shade", and adjust preset to 0, unless sharpness to be maximized. To capture most details such as craters from center to the edge, capture it one day after full moon when a little shadow had casted on one side of  the moon. Take a lot of pictures with different setting, but keep in mind of the over-exposure principle.
8. Post Processing
Gambar yang sudah didapat bisa diolah dengan post processing dari yang sederhana hingga yang rumit. Secara sederhana, satu gambar terbaik dipilih dan diedit dengan mengatur tonal, kontras, dan ketajamannya menggunakan PS atau LR. Untuk cara yang rumit, cara ini melibatkan banyak foto, dalam contoh saya menggunakan 75 foto. Foto diambil dengan setting berbeda dengan panjang fokal yang sama tentunya. Foto-foto tersebut lalu dicrop dan di-stacking dengan program PIPP dan Registax (program khusus astro-imaging), lalu hasilnya di tuning dengan PS atau LR dengan cara yang sama seperti di atas.
8. Post Processing
The images captured shall be post processed to be a final image, simple way or complicated way. For a simple way, one best image is adjusted of its tone, contrast, and sharpness using PS or LR. For complicated way, it will involve many images, in my case 75 photos take with different setting in same focal length of course. Those photos are cropped and stacked using PIPP and Registax (special free software for astro-imaging). Then the final image is tuned using PS and LR.
(originally posted on june 23 2013, updated august 10 2014)

Supermoon Muara Badak, 10 Agustus 2014, multi images stacking
Supermoon Muara Badak, June 23 2013, single image processing

Mitos Fotografi Makro Membalik Lensa Kit


Banjir.. banjir dimana-mana di Jakarta hari ini. Di luar pohon palem hias melambai-lambai diterpa angin dan hujan. Entah mau menyapa saya yang dibikin kelimpungan gara-gara ketinggalan pesawat kejebak macet, kejebak banjir, atau mau mengajak bermain hujan.. tapi sorry tidak bisa, saya agak flu. Lobby-lobby dengan CS garuda akhirnya saya diperbolehkan naik penerbangan berikutnya,, "for free", thanks Garuda Indonesia (atau arahan Pak Djoko M dari Dirjen Perhubungan Udara, anyway Thanks).

Tulisan saya kali ini tidak berhubungan dengan banjir, tapi malah berhubungan dengan hobi saya selain jalan-jalan dan bekerja (pencitraan sangat untuk yang ini), yaitu fotografi. Beberapa minggu diguyur hujan tiada ampun membuat saya harus grounded tidak kelayapan kemana-mana. Ke gunung berlari ku (tapi badai) ke pantai ku berlabuh (sama aja badai, gelombang tinggi). See? tidak ada tempat untuk seorang pejalan di musim cuaca buruk begini. Daripada nganggur dan mikir jorok, mending saya eksperimen dengan peralatan-peralatan fotografi saya yang jarang tampil, yaitu lensa kit 18-55mm f3.5-5.6IS dan prime 50mm f1.8. Mereka berdua tergusur oleh lensa tajam Tammy 17-50mm f2.8 non-VC.

Apa yang mau dilakukan dengan kedua lensa itu? Saya mau coba mengambil gambar makro seolah-olah menggunakan lensa khusus makro dengan membalik lensa (reverse focal). Opsinya adalah, membalik kit, membalik prime, kit terpasang prime dibalik, atau prime terpasang kit dibalik. Dari keempat opsi tadi, yang baru saya lakukan adalah kit terpasang prime dibalik. Dalam hal ini, prime yang dibalik berfungsi seperti close-up filternya (macro converter) Raynox dkk.

Step by step:
1. Pasang lensa prime ke body kamera, nyalakan ke manual (M) atau aperture priority (Av), lalu set aperture ke bukaan tertinggi (f1.8) fokus infinity. Tekan tahan tombol shutter biar ngefek, lepas shutter, lalu pencet tombol release lensa puter dikit (jangan sampai lepas), lock fokus dengan switch fokus ke auto, lalu matikan kamera dan lepas lensa. --> Tujuan : supaya lensa prime terbuka lebar
2. Pasang lensa kit, nyalakan kamera ke manual (M) zoom ke 55mm biar tidak vignetting, aperture kecil (f16), fokus manual, speed 1/125 - 1/400 tergantung eksposure, ISO ambil aja 800 - 3200, flash arahin dekat +1.3. Fokus lensa kit ke fokus jauh (kira-kira aja, tapi jangan infinity) kalo udah yakin, usahakan tidak menekan lensa depan kit terlalu dalam supaya fokus tidak berubah, lebih bagus lagi kalau lensanya ada focus lock.
3. Pegang lensa prime posisi dibalik, jadi depan ketemu depan, bisa juga dengan membeli coupler male to male plus step up filter (karena diameter lensanya ngga sama, 52mm dan 58mm, kecuali emang udah dari sananya/built in adaptor 52mm ke 58mm) Mulai hunting deh.
4. Fokusnya gimana? Ya kaya lensa prime saja, maju mundurin lensa sampai ketemu fokus. Dengan trik ini, DoF (kedalaman fokus) sangat tipis, kelemahannya disini, padahal kit sudah diset f16. Kalau bendanya kecil sih oke (kaya semut, lalat bagong, kutu, dll), tapi kalau bendanya besar seperti belalang kupu-kupu, bisa-bisa yang fokus cuma matanya doang. Dengan cara ini, kira-kira fokus didapat sejarak 2 buku jari telunjuk dari lensa (ya kurang lebih 30mm). Perbesaran yang didapat cukup menakjubkan, kira-kira di atas 1:1

Kalo mau serius dengan dunia makro ya harus modal sih, minimal satu set extension tube bertumpuk (third party kaya Mieke juga oke lah), sama close up filter (nah ini kudu yang bagus, kaya Raynox, tapi harganya 2-3 juta Men!!). Kalau lebih modal lagi ya beli lensa khusus makro, kalo serius bisa pakai yang spesialis makro MPE-65 atau yang legendaris 100mm f2.8L IS macro (buat yang pakai Nikon, atau yang lain, sorry ane ngga ada ilmunya sampai kesitu)

Kalau mau iseng-iseng kaya saya, ya bolak-balik lensa aja cukup sih, hasilnya juga lumayan bagus kok (kata sesepuh di forum fotografi)

lalat buah yang nangkring di daun Lidah Buaya

Menunggu Pagi di Ranu Kumbolo

Pagi itu terasa sangat berbeda. Dingin yang menggigit meskipun sudah memakai balaclava, kaus kaki tebal dan sarung tangan, serta dua jaket di balik kantung tidur berbahan polar membuat saya harus terbangun berkali-kali. Ya, pagi itu saya menghabiskan malam di Ranu Kumbolo. Informasi suhu minimal harian -5° hingga -20° Celcius yang terdapat di papan informasi saya sadari bukan hanya bualan. Tenda gunung berkapasitas empat orang yang diisi tiga orang terasa lebih kosong. Saya lihat satu teman di tenda saya sudah tidak berada di kantung tidurnya, mungkin bergabung dengan rombongan lainnya yang terdengar sedang bernyanyi menggunakan speaker portable di sekitar api unggun, tidak jauh dari tenda kami. Satu teman saya masih pulas tertidur seakan-akan tidak ada bedanya tidur di ranjang di rumah dan di tenda alam terbuka. Jam tangan outdoor di lengan kiri sudah menunjukkan pukul 5 pagi. Saya segera mengambil perlengkapan kamera DSLR saya dan melakukan peregangan sekedar untuk menghilangkan rasa dingin. Rupanya saya tidak sendiri. Di pinggir danau sudah terpasang beberapa tripod sementara tuannya masih berkutat dengan kameranya masing-masing di dalam tenda. Beberapa membuat minuman hangat, beberapa terlihat duduk terpaku menunggu terbitnya matahari di ufuk timur. Saya dan beberapa teman memutuskan untuk bergerak memutari pinggiran danau untuk mencari titik pandang yang lebih bagus. Kabut yang tebal tidak mengurangi niat kami. Air danau yang tenang dan diselimuti asap kabut tipis membuat kami memilih jalan yang tidak harus memasukkan kaki kami ke dalam air danau
I had unusual feeling that morning. The frostbite even I had already wear balaclava, thick socks and gloves, and also two thick outdoor jacket inside a polar built sleeping bag, made me awake a few times. Yup, that morning I was in the mountain, in Ranu Kumbolo. I must admit that information of daily lowest temperature here from 23 to -4 deg Fahrenheit which was written on the information board, was true. The mountaineering tent with four persons capacity was only occupied by three persons feels spacier. I saw one of my friend had already leaving his sleeping bag and joined other group's camp fire, singing around using music that came from speaker built mp3 player. The other is still sleeping as there was no difference sleeping in outdoor here and his own bedroom. It was 5 am. shown by my outdoor wristwatch. I immediately prepared DSLR camera for acclimatization and did some stretching to warming up my body. I was not alone. Around the lakeside, a few tripod has been set while the owner still preparing the camera inside the tent. clever!. Some of them were drinking some hot tea or coffee and some of them is sitting next to their tripod waiting still until the sunrise. Yup, the sunrise view here is amazingly astonishing. Realized that the lakeside has already been occupied, me and some of my group decide to walk around to find better view. Thick mist was not our obstacle, but the cold water in the lake that covered by layer of fog made me avoid the path that has to put our feet inside the water
Super Slow Speed Ranu Kumbolo

Hari semakin terang, semburat orange di antara dua bukit adalah pertanda matahari akan segera muncul, atau sudah muncul. Cakrawala masih tertutup kabut tebal, sehingga sunrise tidak akan nampak jelas di bingkai cropped sensor DSLR saya. Di tempat ini, pohon tumbang yang berada sebagian di dalam danau dan permukaan danau yang seakan-akan berasap sepertinya akan menjadi komposisi yang bagus. Saat itu hanya kami berlima di tempat ini, kompleks perkemahan samar-samar terlihat karena terhalangi kabut. Saya siapkan tripod dan menyesuaikan posisi, tinggi, dan level terhadap view yang akan saya simpan di sensor kamera saya. Pengaturan dilakukan sesuai kondisi sekitar dan keluaran yang saya inginkan, komposisi dan fokus, lalu penghitung mundur 2 detik disiapkan dan saya menunggu momen yang tepat.... 
The sky became brighter, orange rays between two monumental hills was the sign that the sunrise will took place. The horizon is still covered by thick fog, the sign that the sunrise will not be successfully captured in my cropped sensor DSLR. I thought, the fallen log that partially drown inside the lake and the smokey lake will be a good composition. There were only five of us in here enjoying this amazing view and the surrounding is covered by thick fog. I set my tripod, adjust the height, position, and level and begin arrange composition. The 1-stop increments of 5-stops bracket setting is applied then manual focus of my wide angle lens to find the sharpest image. Then 2 sec delay shutter is pressed and voila...
Matahari terbit di Ranu Kumbolo // Sunrise at Ranu Kumbolo

Mengenai Ranu Kumbolo
Ranu Kumbolo adalah danau hasil proses vulkanik. Danau seluas 14 Ha ini terdapat di area Taman Nasional Bromo, Tengger, dan Semeru (TNBTS). Danau ini terdapat di jalur pendakian Gunung Semeru. Secara administrasi, danau ini terletak di antara Kabupaten Lumajang dan Malang di Jawa Timur. Tidak ada fasilitas penginapan, warung, ataupun pemukiman penduduk di sekitar sini, jadi persiapan fisik dan perbekalan harus dipersiapkan secara matang.  Namun perjalanan panjang tersebut akan terbayar dengan keindahan alam tiada duanya. 
About Ranu Kumbolo
Ranu Kumbolo was a volcanic crater that transform into lake. The 0.14 sq. km. lake is located at Bromo, Tengger, Semeru National Park. This lake is located in mount Semeru hiking track. This lake administratively located between Lumajang district and Malang in East Java province. There is no lodging facility, food stalls, or houses around here, so physical preparadness, equipment and logistic shall be prepared. The journey is quite exhausting, but the view and freshness will be a memorable experience.

Menuju ke sana
Untuk mencapai Ranu Kumbolo, bisa dicapai dari Lumajang, Malang atau Probolinggo. Perjalanan dari kota Malang, jika menggunakan kendaraan pribadi adalah melalui Stasiun Belimbing menuju ke jalan Laksamana Adisucipto melewati pertigaan ke Bandara Abdur Rahman Saleh terus menuju ke Tumpang. Kendaraan harus yang bertenaga besar atau memiliki gardan ganda, karena akses jalan kesana menanjak dan jalan yang tidak rata. Namun proyek perbaikan jalan oleh Pemerintah Malang di pertengahan Oktober 2013 mungkin akan mengurangi tantangan perjalanan kesana.  Dari pertigaan Tumpang perjalanan dilanjutkan ke kiri, menanjak ke arah Tengger hingga pertigaan Jemplang, lurus ke arah Ranu Pani. Jika dari Probolinggo, bergerak ke selatan menuju Kawasan Bromo, melewati jalan berpasir Bromo hingga pertigaan Jemplang, belok kiri ke arah Ranu Pani. Jika dari Lumajang, bergerak ke arah barat laut menuju Ranu Pani. Dari Ranu Pani, perjalanan ke Ranu Kumbolo dilanjutkan dengan berjalan kaki 5 – 6 jam melalui jalur pendakian normal menuju Gunung Semeru.
How to get there
To reach Ranu Kumbolo, we can start from Lumajang, Malang or Probolinggo, any of them to Ranu Pani. Generally, local hikers will take Malang as starting point because more convenient, more transportation alternatives, and more lodging and outdoor equipment provider/rent. Transportation alternatives are train to Malang Baru station, Buses to Arjosari Terminal, and Airplane to Abdur Rahman Saleh airport in Malang or Juanda Airport in Sidoarjo, continue by land transport to Malang. The road to Ranu Pane are damaged and have high slopes, so it will be better to rent 4WD car. The road upgrading project in October 2013 may improve the access to get there. The route will  be Malang - Tumpang - Jemplang - Ranu Pani. From Ranu Pani, the journey to Ranu Kumbolo will be continued by walking hilly track of about 8 miles that is approximately 5-6 hours on foot, depend on our pace.

Padang savana Ranu Kumbolo // Ranu Kumbolo's Savana

Fotografi Human Interest

Fotografi human interest atau kemanusiaan adalah cabang fotografi yang menonjolkan interaksi manusia dengan manusia atau manusia dengan lingkungannya. Biasanya tidak jauh dari potret jalanan, foto profesi/orang dan pekerjaanya/hobinya/budayanya, foto konflik, foto candid, potret ekspresi, dll. Foto model meskipun obyeknya sama-sama manusia, tapi tidak termasuk kategori human interest ini, cmiiw. Sebenarnya saya tidak terlalu tertarik dengan cabang fotografi ini, jadi kalau ada kekeliruan, maaf maaf saja ya. Umumnya beberapa poin khas dari fotografi human interest antara lain di bawah ini.
Human interest photography emphasize human interactions with human or their surroundings as main object. The derivatives includes street photography, profession photography, cultural photography, conflict photography, candid photography, portrait, etc. Strobist/modelling photography, even emphasized human as the main object, it is not related with human interest photography, cmiiw. Actually I don't have a passion in this type of photography, so there might be mistakes within this article. Generally, the unique character of this type of photography described as follows
Penjaja jasa foto kilat Tanah Lot menggunakan pakaian adat khas Pecalang // Express photo service in Tanah Lot wearing Pecalang style outfit

1. Ekspresi.
Ekspresi obyek harus bisa disampaikan melalui hasil fotonya.
1. Face Expression
Object's expression shall be clearly delivered within the photos.
Seorang anak dengan tangannya yang penuh dari rebutan seserahan  // A kid with a full hands of grabbed offering

2. Detail wajah
Biasanya wajah obyek foto akan sangat detail untuk tipe foto potrait. Biasanya mengambil obyek anak-anak atau lansia.
2. Face details
Usually the object's face is captured so detail for portrait type of photography. The object usually kids or old people.
Seorang tetua yang mengantuk saat bongkar muat barang // An old man feels dizzy during loading-unloading activity

3. Incognito/candid
Umumnya foto human interest adalah candid, yaitu merekam apa yang sedang terjadi tanpa rekayasa atau arahan sang fotografer. Senyum yang dibuat-buat di depan kamera tentu akan berbeda dengan senyum lepas. Sang fotografer sebisa mungkin berbaur dan tidak menonjol, yang keberadaannya tidak disadari oleh obyek foto. Lensa telephoto mungkin memiliki keunggulan tidak terdeteksi ini, namun hasilnya tidak akan sebagus foto jarak dekat.
3. Incognito/Candid
Usually human interest photography is candid, which is taking photos of actual scene without any instruction or preparation of objects. Fake smile is surely different with a true smile. The photographers will try to blend and low profile, so that the object unaware of their presence. Telephoto lens will have advantages in this purpose, but the image quality will not be as sharp as a photo taken from short range. This is the challenge.
Penjaja mainan antar pulau // Toys seller inter island

4. Pencahayaan natural
Sangat jarang foto human interest menggunakan flash, karena selain akan diketahui sang obyek foto, juga membuat pencahayaan obyek tidak natural.
4. Natural Lighting
Rarely human interest photography involving speedlight, because it will surprised the object and make the object lighting did not blend naturally with environment.
Polisi berpakaian preman bertema pemangku adat // Undercover security police that wearing traditional outfit

5. Latar Cerita
Foto human interest akan lebih meninggalkan kesan jika terdapat cerita di balik pengambilan foto, bisa berupa profesi, budaya, tragedi, dll.
5. Background Story 
Human interest photography will be meaningful if it contains background story, including man at work, culture, tragedy, etc.
Acara seserahan yang diwakili oleh pasangan panganten untuk meminta kesuburan panen // Offering ceremony that represented by brides for the sake of soil fertility

6. Momen
Selain ekspresi, momen unik dan berkesan merupakan faktor penting dalam human interest.
6. Moment
Unique moment also will add impression in human interest photography
Wanita Sasak setelah selesai beribadah di pura pantai Senggigi // Sasak women after praying in Senggigi beach Pura

7. Handheld
Meskipun bukan tidak mungkin, foto human interest biasanya menggunakan penyangga lengan/handheld, sehingga dituntut untuk menggunakan kecepatan rana setinggi mungkin. Itu artinya lensa bukaan besar memiliki keunggulan di teknik ini.
7. Handheld
Mostly, human interest photography will be done by handheld, so the shutter speed is a main factor here to produce decent image without blur. It means large aperture lens will have advantages to produce good image handheld in dim light.

Tips Memotret Hewan Kesayangan

Memotret hewan kesayangan, baik peliharaan di rumah maupun di kebun binatang menurut saya sebenarnya cukup tricky. Alasan pertama adalah karena mereka tidak bisa diam dan cenderung bergerak, dan jika pemotretan kita menggunakan flash, dapat membuat hewan peliharaan kita trauma dan menghindar jika dibidik untuk difoto berikutnya, apalagi jika pengambilan pertama gagal. Di Saluran TV Animal Planet, kadang ada acara dimana sang pengisi acara dapat mengatur perilaku hewan peliharaan, apalagi profesi pengatur gaya hewan yang biasanya digunakan untuk pemotretan komersial. Namun bagi kita yang mungkin kurang akrab dengan hewan peliharaan atau pada hewan liar, mungkin bisa merepotkan. Berikut adalah tips pemotretan hewan peliharaan kesayangan menurut saya untuk mendapatkan hasil yang optimal:
Taking pictures of your beloved animals, from your pet to animals in zoo, are actually very tricky. The first reason is their movement, and if we are using speedlight, they might be traumatized and will be afraid for the next shot if your previous shots were failed. In Animal Planet TV program, there once a documentary of pet photographer in his job assisted by animal whisperer for commercial purpose. But if we don't have that ability, taking pictures of still pet/animal may be frustrating. Here are some tips for taking pictures of your beloved pet/animals
Kucing liar yang sering berkeliaran di kantor // Wild domestic cat that wandering around my office

1. Jika memungkinkan, ambil dalam keadaan naturalnya.
Kadang tingkah polah hewan yang lucu dan menggemaskanlah yang kita abadikan.
1. If possible, frame them in their natural behavior
Sometimes, their behavior will add a story behind our photos
2. Ambil dalam keadaan sedikit bergerak atau diam.
Jika akan mengambil foto peliharaan, buat agar dia diam pada posisi akan dibidik. Bisa dengan menggunakan makanan atau mainannya. Namun bukan artinya boleh dibius ya... hehehe
2. Make opportunity where they will stand still
Find any opportunities to take photos when they in still position to ensure the sharpness. We can frame them when they enjoying their meals or enjoying the toys. But don't anesthetize them,... lol
3. Fokus pada daerah pangkal hidung atau mata.
Orang-orang mengatakan mata adalah jendela hati, berlaku pula terhadap hewan. Apapun posisi mengambil foto pada hewan, jika bagian mata tidak tajam ataupun miss-focus, maka foto menjadi tidak "hidup"/tidak menarik. Kecuali memang ada bagian tertentu yang menjadi objeknya. Dan tentu saja, mata hewan tersebut melihat ke arah kamera.
3. Aim focus on or between their eyes
Wise word said eyes are the mind's window. This phrase is also applicable to animal. Any photos taken on animal, if their eyes are mis-focused, the photos will not be interesting, unless the intended object is specific part of the animal. And of course it will be better if your animal is looking straight at the camera.
4. Jika memungkinkan, ambil selevel mata hewan anda (eye level).
Ini artinya anda harus memposisikan kamera selevel mungkin dengan level mata hewan peliharaan anda. Karena pada posisi mata selevel memperlihatkan "personifikasi" atau kesetaraan seolah-olah bersikap manusiawi. Hal ini naluriah seperti halnya kita menasihati anak kecil, maka kita akan berjongkok selevel dengannya.
4. If possible, add perspective of eye level
It means that we shall place the camera at the same height with their eyes. This perspective will add personification perspective or equity or a sense of their behavior as human. This is natural as we tell our child, to get best effect, we shall look straight and lowering down our body to their level. The point of view higher from eye level will leave a sense of teaching, intimidating, or bossy.
5. Hindari flash.
Selain menghindari efek trauma pada hewan kesayangan anda, beberapa spesies hewan nokturnal atau yang matanya peka terhadap cahaya akan stress jika terkena flash. Kecuali untuk pemotretan studio yang didampingi pelatih/penata gaya hewan.
5. Avoid direct flash
For the purpose of avoid traumatized experience to our pet, some nocturnal species have greater sensitivity of light and flash surely will make them stressed.
6. Jika hewan berbulu, gunakan bukaan diafragma besar untuk menegaskan bulu-bulunya.
Efek backlighting atau cahaya belakang dan penggunaan bukaan diafragma besar dapat menegaskan kelembutan bulu hewan kesayangan. Sayangnya pada kamera saku digital ekonomis, bukaan diafragma tidak bisa diatur, namun penggunaan mode "macro" dapat mendekati pengaturan ini.
6. For furry animals, use widest aperture available to emphasize their furs.
Backlighting technique and the use of wide aperture will effectively emphasize our animal's furs. Unfortunately, this feature is not available in pocket/prosumer camera, but preset "macro" might create equal result.
7. Untuk hewan yang liar atau berbahaya/tidak bisa didekati, gunakan lensa telephoto.
Hasil foto yang sempurna tidak sebanding dengan keselamatan anda. Safety first!.
7. Use telephoto lens for dangerous or wild animal.
The great photo result is not worthy if compared with our safety. Safety first!
Anak harimau Bengala dihukum di dalam kotak karena memberontak saat sesi berfoto di Taman Safari Cisarua // Bengal white tiger cubs is placed in detention box due to its bad behavior during photoshoot in Safari Garden Zoo

Teknik Fotografi HDR

Teknik fotografi HDR atau (High Dynamic Range), sudah bukan hal yang asing lagi. Dikembangkan sejak zaman fotografi film dengan metode penggabungan negatif film, lalu berkembang metode seleksi tonal dengan dodging dan burning, lalu merambah ke teknologi kamera digital. Pada teknologi digital ini idenya adalah mengambil foto yang sama dengan beberapa eksposur lalu digabungkan menjadi satu foto (blending) baik secara manual dengan post-processing atau secara otomatis bawaan kamera atau program kamera. Kemampuan ini bahkan tidak hanya dimiliki oleh kamera canggih DSLR, namun juga kamera saku bahkan kamera bawaan ponsel pintar pun sudah dibekali kemampuan ini.
HDR or High Dynamic Range is a popular technique in post processing images taken by camera. It produces very high dynamic range of details. Established since analogue camera, HDR images was created by combining film negative then the new technique was developed by tones selection with dodging and burning technique during film development (from wikipedia). In digital era, the idea of this technique was developed by combining the same frame of photos in different exposure in post processing software of in-camera-processing algorithm. This ability is not only available in decent dslr, but also prosumer and pocket camera, even the smartphone

Pada post-processing atau rekayasa digital, dikenal juga metode pseudo-hdr, dimana foto eksposur tunggal bisa dibuat menjadi HDR dengan memisah-misahkannya menjadi beberapa eksposur lalu digabung kembali. Metode ini memiliki kelemahan, yaitu tidak bisa menyelamatkan kehilangan detail akibat clipping, atau menerjemahkan cahaya menjadi 100% putih atau 100% hitam akibat range kontras yang tidak dapat ditoleransi sensor kamera
In post-processing, there also pseudo-HDR technique where single image can be converted into HDR by separate editing the image into several images with different exposure then re-combined into HDR image.  This method has weakness, which is can not regain the detail from clipping, a weakness in digital photography, where high contras range will make the light image as plain white and dark image as plain black.

Foto HDR yang baik, menurut saya, harus seperti prinsip awalnya, yaitu mempertahankan detail se-natural mungkin, meskipun banyak foto HDR di dunia maya, dimana kontras dan saturasi dibuat sangat ekstrim, sehingga foto tampak seperti lukisan. Namun yang pasti, pemilihan rentang eksposur harus tepat, karena jika kurang tepat, akan muncul seperti pendaran "glow" yang terlihat jelas di perbatasan dua kontras yang tinggi.
For me, good HDR images shall be based on the original purpose of HDR imaging, which is to preserve detail that is can not be captured by camera sensor due to high contrast. Nowadays the HDR images can be created surrealism-ly, painterly, even like an abstract painting. The good HDR shall be made with good selection of exposure range, because if it misfits, an obvious glowing area will be produced in borders of high contrast region.
Ekskavator tua di hari senja // Retired Escavator in the dawn