Travelling

Exploring Indonesian's magnificent places is my passion

Mountain Bike

The most exercise I did during my free time

Photography

To capture the beauty of the places I've visited

Culinary

The other reason why I love to go traveling

Engineering

Because big dreams never come so easy

Moto-Adventure

Graze the road and enjoy the adventure from each and every miles

Pusat Rehabilitasi Sang Primata Asli Kalimantan (Bag-2 TN Tanjung Puting)

Berawal dari peringatan Hari Bumi atau bahasa londo nya, "Earth Day", saya yang begitu antusias mengkoordinir teman-teman di departemen kantor saya untuk lomba menanam pohon, saya memikirkan hal yang lebih jauh dari itu. Bulan September lalu saya berkesempatan untuk mengunjungi Pusat Rehabilitasi Orang Utan Kalimantan di Borneo Orangutan Survival (BOS) Samboja, Kalimantan Timur dalam suatu acara kantor. Di sana, saat sesi tanya jawab pada malam hari di Samboja Eco-Lodge,saya menanyakan apakah ada suatu kerjasama antara Pusat Rehabilitasi di Samboja dengan Pusat Rehabilitasi lainnya di Kalimantan Tengah, yang konon terluas di dunia? Kenapa tidak dilepaskan disana tapi mencari tempat sendiri? Jawaban yang saya dapat dari pengelolanya terkesan seperti ada pertentangan, mungkin konsep atau prinsip rehabilitasinya, dimana di Samboja Orangutan yang trauma direhabilitasi dan diliarkan dalam lingkungan yang steril tanpa kontak dengan manusia, sedangkan di tempat lain sudah seperti bahan tontonan/atraksi? Ya!.. saatnya mencari tahu atau bahasa kerennya Tabayyun..


Seekor bayi Orang Utan dan Induknya yang protektif
Kebetulan satu hari setelah Hari Bumi, ada teman di sosmed saya mengajak untuk Live On Board (LOB) di Taman Nasional Tanjung Puting di Kalimantan Tengah. Nggak ngerti "Live On Board"?, Live On Board itu artinya metode menjelajahi suatu daerah selama berhari-hari dengan menggunakan Kapal dan kita menginap di atasnya. Jelas? Oooohh. Perjalanan kali ini sistemnya share cost, seperti biasa.. Namun karena LOB, sudah ada patokan harga disana, sisa biayanya akan kami bagi-bagi. Tiket pesawat dikoordinasi masing-masing, dimana calon peserta dianggap sebagai peserta kalau sudah memegang tiket pesawat, supaya jelas, berapa banyak biaya yang harus dibagi disana. Kota tujuan pesawatnya adalah Pangkalan Bun, bukan Palangkaraya ya, memang ada dua bandara di Kalimantan Tengah. Bandara Pangkalan Bun sebenarnya adalah pangkalan militer yang difungsikan juga terbatas untuk bandara sipil, mirip-mirip Bandara Halim dan Bandara Adisucipto. Bandara Pangkalan Bun ini terkenal sejak ada kejadian jatuhnya Pesawat Air Asia yang menyita perhatian dunia, dimana pusat komando evakuasi nya di Bandara ini. Hanya ada dua Maskapai yang beroperasi disini, yaitu Trigana dan Kalstar. Pada perjalanan ini kami memakai Kalstar karena penerbangannya sesuai dengan itinerari perjalanan kami, yaitu perjalanan sore, dimana sebagian dari kami masih ada yang kerja sebelum besok libur karena Mayday atau Hari Buruh. Kamis, 30 April kami rencananya berkumpul di Terminal 1C Bandara Soetta. Di antara peserta trip kali ini, saya sudah kenal Mamat, Teguh dan Sabrina/Memey, sama Anggi lah meskipun lewat medsos. Sisanya seperti Wulan, Pak Rey dan Bu Ita, Irma dan Lala, saya baru mengenalnya kali ini.

Kami bersepuluh

Perjalanan Jakarta-Pangkalan Bun ditempuh sekitar 1 jam 15 menit, dan sore menjelang Magrib kami tiba di Bandara Iskandar, Pangkalan Bun. Malam itu kami menginap di penginapan "Hotel Tiara" yang tidak jauh dari Kota Pangkalan Bun. Di dekat penginapan ada pasar dimana kami membeli perbekalan untuk perjalanan kami nanti. Memang secara fasilitas LOB sudah full service, namun tidak ada salahnya membawa bekal makanan kecil untuk selama perjalanan.

Dua kapal kelotok yang kami sewa untuk Live on Board

Parkiran kapal kelotok untuk Live on Board di sekitar Camp Leakey
Pada pagi harinya, Pak Andreas, Guide lokal kami menjemput ke Penginapan. Dengan dua mobil Xenia, kami diantar ke Pelabuhan Kumai, tempat kapal LOB kami berlabuh. Sekedar tips, sebelum melakukan perjalanan ke Taman Nasional Tanjung Puting, minta ke penyedia kapal LOB agar menyediakan air minum galon untuk meminimalkan sampah botol plastik air mineral selama perjalanan. Kami masing-masing membekali diri 2 botol air minum 1L dan 1 botol 600mL untuk isi ulang dan bisa dibawa selama trekking, namun lebih baik jika membawa botol minuman sendiri. Akhirnya kami sampai di jalan sebelum Pelabuhan Kumai. Ada warung dan kami harus berjalan melintasi rumah warga dan dapur warga hingga tiba di dermaga penduduk untuk kapal nelayan.
Menuju dermaga belakang ruma-rumah nelayan
Seperti inilah kalau kedua kapal berjalan bergandengan

Dua kapal LOB sudah siap menyambut kami. Meskipun kami hanya bersepuluh, namun kami menyewa dua kapal. Terlalu besar sih, sehingga diputuskan selama perjalanan kami akan berada di satu kapal sedangkan kapal lainnya akan merapat jika waktu makan dan tidur, karena kami semua tidur di bagian dek atas yang terbuka. Saat tidur, hanya kelambu yang memisahkan kami dengan udara malam Kalimantan. Kapal ini bisa dibilang sangat besar untuk ukurannya. Di buritan terdapat kamar-kamar yang sebenarnya diperuntukkan juga untuk tamu. Dapur luas dan kamar mandi/WC tersedia dua unit tiap kapal. Air bersih didapat dari air sungai yang dipompa. Di dek atas, bisa disulap menjadi ruang serba guna, dimana saat jam makan bisa menjadi ruang makan lengkap dengan meja makannya, saat perjalanan ruang berkumpul dengan karpet yang empuk, atau ruang tidur saat malam hari. Disini di bagian depannya terdapat kursi santai dua buah untuk masing-masing kapal. Ruang kemudi dan ruang tidur kru kapal juga tidak kalah nyamannya. Untuk menghabiskan waktu selama malam hari, saya membawa empat pak kartu gaple sedangkan Memey membawa satu set kartu UNO. Perjalanan LOB ini direncanakan selama 3 hari 2 malam.

Kursi santai ya dipakai santai

Bersantai di anjungan kapal
Hari pertama kami menyusuri Sungai Sekoyer. Perjalanan sepanjang hari ini memang akan membosankan bagi yang tidak menikmati alam bebas. Tidak ada sinyal seluler disini, bahkan untuk telpon/sms. Udara hutan tropis Kalimantan yang panas lembab membuat tubuh kami berkeringat. Saya lebih suka berada di bagian depan di kursi santai menikmati terik matahari yang mulai menyengat. Sunblock wajib dibawa disini, kalau tidak, pakailah manset. Jangan lupa persiapan meminum obat malaria untuk pencegahan. Sungai Sekoyer berair coklat dan di kiri kanan terdapat desa-desa tradisional. Disini masih terlihat budaya dayak asli, dan masyarakat dayak yang menggantungkan hidup dari memancing/berkebun/bertani. Beberapa kali terlihat kapal-kapal nelayan yang sedang memancing, dimana Kapal kami tiba-tiba mengurangi kecepatan agar tidak mengganggu aktivitas penduduk yang sedang memancing. Kami juga melewati beberapa pos pemantauan dan pos konservasi orang utan yang akan kami kunjungi hari berikutnya saat perjalanan pulang. Meskipun pusat konservasi orang utan, jangan harap melihat orang utan saat menyusuri sungai karena orang utan tinggal di dalam lebatnya hutan, jauh ke tengah daratan, jarang yang terlihat di pinggir sungai apalagi di siang hari. Yang paling mungkin adalah melihat kumpulan bekantan, itu pun hanya sekelebat. Mereka aktif di sore hari dan akan terlihat berkumpul di pepohonan pinggir sungai.

Stand by siapa tau ketemu makhluk hutan untuk difoto

Penduduk sekitar yang memancing di sekitar Sungai Sekoyer
Hari itu tujuan kami adalah ke Camp Leakey. Setelah makan siang di Kapal, kami tiba di Camp Leakey. Perbatasan sungai yang tadinya coklat hingga menjadi hitam merupakan petunjuk kita memasuki cabang sungai yang berasal dari arah Camp Leakey. Camp Leakey adalah salah satu pos pemantauan dan konservasi Orangutan. Di sana terdapat silsilah keluarga orang utan yang telah direhabilitasi dan telah ber-regenerasi turun temurun. Masing-masing diberi nama sesuai huruf depan indukannya (ibu orang utannya). Tujuan kami saat itu adalah menyaksikan feeding time yaitu waktu memberi makan orang utan. Kita harus trekking ringan untuk menuju lokasi feeding. Seperti dugaan saya, ada tempat khusus seperti balai yang menjadi tempat meletakkan makanan untuk orang utan. Waktu feeding disini dimulai pukul 14:00. Makanan yang disediakan adalah pisang kepok serta semangkuk susu. Katanya di dalam susu itu diberi vitamin dan antibiotik. Pengunjung disediakan podium yang terdapat tempat duduk untuk mengamati.

Feeding time

Dengan panggilan-panggilan khas dari penjaganya, akhirnya orang utan pun berdatangan dari segala penjuru. Karena orang utan disini masih terbilang liar, kami harus menjaga jarak dengan orang utan yang berdatangan. Peraturan lainnya adalah tidak menggunakan kilat/flash kamera serta tidak berisik karena suara berisik akan membuat orang utan trauma dan pergi menjauh. Selain orang utan, hewan-hewan hutan lain pun tertarik dengan makanan melimpah di balai tersebut, misalnya kawanan babi hutan, gibon dan monyet makak abu-abu. Selain melihat feeding orang utan, juga terdapat museum edukasi "Carolyn Townson" mengenai sejarah orang utan, silsilah dan ekologi di kawasan Tanjung Puting. Pada sore harinya kami meninggalkan kawasan Camp Leakey dan akan berlabuh di titik istirahat kami, sebuah pinggiran sungai yang bertemu rawa yang luas. Aktifitas kami malam itu adalah bermain kartu, mendengarkan cerita Pak Andreas, serta memancing ikan baung. Memancing sebenarnya tidak diperbolehkan di kawasan ini, hehehehe, jangan ditiru ya, karena kawasan ini terdapat ikan arwana yang dilindungi. Selain itu di kawasan ini terdapat buaya.

Perbatasan air keruh kecoklatan dan air jernih kehitaman, artinya sudah masuk kawasan Taman Nasional

Gerbang masuk menuju Camp Leakey
Pagi harinya kami rencananya akan menuju ke Camp rehabilitasi berikutnya di Pondok Tanggui, Resort Pesalat, dan lokasi pusat rehabilitasi tanaman hutan dan tanaman obat endemik Demplot. Di pagi itu, di kejauhan terdengar sayup-sayup suara gergaji mesin. Tak disangka di kejauhan hutan setelah rawa-rawa, terdengar suara burung yang terdengar seperti dahan patah. Sambil terus mengamati, akhirnya sosok burung hitam besar penghasil suara tersebut terbang di antara pepohonan di kejauhan. Itu adalah burung hornbill atau burung enggang. Bahkan saya terkesima tidak sempat mengabadikannya dengan kamera yang sudah stand by di tangan saya. Selain itu selama perjalanan ke Pondok Tanggui, ekosistem pagi hari di Sungai Hitam berbeda dengan kemarin sore. Banyak burung hutan berterbangan, mungkin sejenis nuri karena berwarna hijau yang terbang berkelompok. Selain itu juga ada burung kingfisher besar yang berwarna kuning hitam berparuh merah, serta burung butbut yang dikenal karena dijadikan minyak penyembuh patah tulang.

Kingfisher kuning hitam berparuh merah, sangat berbeda dengan kebanyakan kingfisher yang biasanya berwarna biru-putih

Pukul 10:00 kami tiba di pos konservasi pondok Tanggui yang kami lewati kemarin untuk menyaksikan feeding lainnya. Disini kami harus bergegas karena waktu feeding adalah Pukul 10:30. Kali ini trekking lebih ringan namun panas dan udara lembab. Disini baru terasa untung saya memakai sepatu trekking karena jalurnya berkerikil, lagipula jalur pulang kami mengambil jalur hutan yang lebih teduh namun lebih hutan. Disini kami tidak terlalu lama dan kembali ke kapal untuk makan siang. Setelah makan siang, kami menuju ke konservasi tanaman hutan dan obat endemik Demplot. Sedikit trekking ke kawasan tanaman obat, kami bertemu dengan penjaga hutan yang melakukan penghijauan di sekitar Taman Nasional. Di kawasan ini terdapat macam-macam tamanan hutan untuk tujuan konservasi. Saya pun menemukan beberapa tanaman jamur yang berwarna merah menyala yang saya yakini pasti beracun. Pak Rey membawa buah tangan berupa bibit tanaman gaharu untuk kebun di rumahnya. Oya, hati-hati karena jalan kayu menuju ke tempat ini licin ditumbuhi lumut serta dermaganya yang katanya ada buayanya. Pukul 16:00 kami tiba di Resort Pesalat. Feeding time di tempat ini pukul 16:00. Medan menuju tempat feeding menurut saya ini yang paling sukar karena ada kubangan-kubangan air dan akar-akar pohon yang melintang di jalan. Namun di tempat inilah saya akhirnya melihat langsung orang utan jantan dominan yang sangat besar. Orang utan jantan bisa dibedakan dari cekungan di pipi nya dan ukuran tubuhnya yang besar dan kekar.
Jamur yang terdapat di area pembibitan tanaman obat
Orang utan jantan

Sore harinya kami mengamati mencari sarang buaya dan lokasi kawanan bekantan. Kami tidak menemukan buaya, namun kami menemukan banyak sekali Bekantan. Mereka sudah dalam posisi bersarang dan bersiap tidur sehingga tidak peduli dengan keberadaan kami yang parkir dekat sekali dengan pohon tempat mereka bernaung. Mereka hidup berkelompok dimana kawanan itu memiliki seorang pemimpin kawanan yang terlihat dari sifat berkuasanya. Untuk membedakan jantan dan betina, jantan berukuran lebih besar dan "anu" nya jantan berwarna merah dan katanya selalu ereksi (buset). Jackpot hari ini adalah saya melihat seekor burung Stork atau bahasa lokalnya Sandang Lawe, yang merupakan satu dari 20 burung terlangka di bumi, namun sayang kondisinya sedang gelap karena sudah hampir malam. Yang membuat saya begitu yakin bahwa itu adalah burung Stork (Ciconia stormi) adalah bentuk badannya, paruhnya, bentangan sayapnya, serta tengkuk leher burung itu yang berwarna putih, kontras dengan badannya yang hitam. Ukurannya juga besar, dan saya kira hanya bangau heron biasa. Malam harinya kami disuguhi pemandangan indah dimana permukaan sungai dipenuhi kunang-kunang berterbangan. Mereka ternyata bersarang di sekitar pohon nipah yang banyak berada di sisi sungai.
Gulai ikan baung campur ikan laut yang dibawa dari Kumai
Makanan siput yang katanya khas dari Nelayan Kumai, mirip gonggong, namun rasanya mirip tutut

Malam itu adalah hari terakhir pengamatan orang utan dan kami berdiskusi dengan guide kami Pak Andreas. Tidak lupa ikan baung yang kami tangkap malam kemarin menjadi santapan malam ini. Besoknya kami langsung diantar ke Pelabuhan Kumai karena Lala harus mengejar pesawat pagi. Setelah mengantar Lala, kami mengunjungi Istana Kuning dan pusat oleh-oleh sebagai bonus. Kota Pangkalan Bun ini juga terkenal sebagai penghasil batu Kecubung, dan saya membeli mentahannya (raw) untuk oleh-oleh buat Ayah. Akhirnya pada sore harinya kami kembali ke Jakarta menggunakan maskapai yang sama.
Yang berwarna merah di bawah perut Bekantan jantan apaan hayoo?

Pohon tempat bernaung kawanan bekantan

Lihat tengkuknya yang berwarna putih?
Akhirnya saya menemukan jawaban atas pertanyaan saya, bahwa memang konsep me"liar"kan orangutan versi BOS dan versi Taman Nasional Tanjung Puting memang berbeda, dimana interaksi dengan manusia di kawasan Taman Nasional Tanjung Puting lebih banyak sedangkan di BOS sangat dibatasi. Tapi kedua-dua nya diperlukan karena pengalaman melihat langsung interaksi orang utan di alam liar yang "mudah dijangkau", adalah pengalaman yang berharga dan bisa menumbuhkan kecintaan pada hewan ini dan juga alam habitatnya.

Berfoto bersama kru kapal yang berseragam orange, minus saya, Memey dan Teguh yang jadi fotografer dadakan
Foto keluarga, selamat jalan Tanjung Puting, dari kamera Memey

-selesai-

Gallery :












Pusat Rehabilitasi Sang Primata Asli Kalimantan (Bag-1 BOS Samboja)


Pada September tahun ini, saya diberi kesempatan untuk mengunjungi pusat rehabilitasi primata terbesar di dunia, Borneo Orangutan Survival (BOS) Foundation atau biasa disebut BOSF. Dalam rangka team building di kantor saya jadi bisa melihat seperti apa proses re-introduksi orang utan ke alam liarnya. Pada kesempatan ini, saya juga bisa menginap satu malam di Samboja Lodge, penginapan bertema alami yang berada di kawasan tersebut. Tempat ini berada di daerah Samboja, Kalimantan Timur, koordinat -1.050005N, 116.988816E. Di tempat ini dua satwa dilindungi yaitu orang utan Kalimantan (Pongo pygmaeus morio) dan beruang madu/sun bear (Helarctos malayanus euryspilus) yang mengalami perlakuan tidak alami, misal diperjual belikan, dipelihara, kehilangan tempat tinggal akibat eksploitasi hutan, dsb, akan direhabilitasi ke perilaku alaminya sebelum dilepas di hutan lindung. Di tempat ini, saya jadi teringat pada orang utan jantan liar yang tidak sengaja saya temui saat bekerja di Kalimantan.



Orang utan yang sedang direhabilitasi di Semboja

Fasilitas di Samboja Lodge sangat sederhana, sesuai dengan konsep “back to nature” nya, sehingga jika mengharapkan kolam renang, gym, TV kabel, spa, dan fasilitas resort lainnya… lupakan!!. Di sini fasilitasnya sangat mumpuni untuk pengunjung yang memang berniat mendekatkan diri pada alam, secara harafiah. Area lobby lodge langsung menghadap ke pepohonan hutan, apalagi jika menggunakan suite di tower paling tinggi, memiliki daya pandang luas ke area rehabilitasi orang utan. Di malam hari, suara orang utan jantan yang memanggil betina nya atau hanya memberi tanda daerah kekuasaannya membuat melewati malam disini seperti berada di tengah-tengah belantara Kalimantan sesungguhnya. Yang unik adalah setiap kamar di lodge ini tidak dipisahkan dinding dengan luar ruangannya, melainkan jendela kaca besar, berasa seperti di aquarium, tapi tenang, ada tirai kalau takut dengan gelapnya suasana malam di luar sana hahahaha. Tiap kamar dilengkapi AC, namun karena listrik berasal dari genset yang pas-pasan dengan kapasitas listrik lodge, sehingga saat pengujung penuh seperti saat itu, ada beberapa kamar yang AC nya tidak bekerja maksimal. Namun jika ingin totalitas seperti berada di alam liar, buka saja jendelanya dan turunkan kelambu di tempat tidur, maka kita akan merasakan udara dan suhu yang sama dengan yang dirasakan oleh satwa di area ini, udara khas hutan tropis Kalimantan, panas dan lembap, hehehe. Mengenai kualitas air, kadang air disini sangat keruh dikarenakan air yang ada di sini adalah air tadah hujan. Lagipula di alamnya sendiri di Kalimantan memang susah mencari air bersih, karena lingkungan di sini adalah cenderung payau/rawa-rawa.


Bersantai disini sambil melihat pucuk pepohonan di bawah, Elang Suite Semboja Lodge
Pulau Orang utan bisa dilihat dari sini, tinggal menggunakan teropong atau lensa tele superzoom


Berjalan kaki sekitar 5 menit ke bawah bukit dari lodge, terdapat pulau-pulau orang utan dimana mereka disimulasikan berada di lingkungannya. Disebut pulau karena orang utan diisolir tidak dengan menggunakan kerangkeng, melainkan sungai-sungai sehingga lebih alami. Disini orang utan jantan dan betina dipisahkan agar tidak ada bayi orang utan lahir dari pusat rehabilitasi ini, namun tetap saja bisa kecolongan. Di pulau ini, petugas secara rutin mengawasi dan memberi makan mereka dengan buah-buahan segar. Di sekitar sini juga terdapat klinik hewan, dimana terdapat batas pengunjung tidak boleh mendekat dikhawatirkan terlular/menularkan penyakit. Di pulau-pulau ini orang utan bebas berkeliaran dan diberikan rintangan-rintangan buatan dari tali tambang, drum, dan ban bekas yang menyerupai rintangan alaminya. Mereka bergelantungan, memanjat tiang, masuk ke drum, menggoyang-goyang pohon, dll. Selain orang utan, disini juga terdapat rehabilitasi beruang madu atau sun bear.

Pulau-pulau diisolasi dari daratan sekitarnya dengan penyekat alami, yaitu sungai
Di sisi lainnya terdapat perahu untuk petugas mengawasi dan memberi makan Orang utan


Halang rintang buatan seperti drum, tali tambang, dan ban bekas disusun sedemikian rupa menyerupai medan pepohonan di alam liarnya
Karena diperlakukan secara alami, orang utan juga memperlihatkan sifat alaminya, yaitu bersiap membuat sarang pada malam harinya.


Lokasi rehabilitasi beruang madu terletak lebih jauh, sekitar 15 menit berjalan kaki. Disini pada malam hari beruang madu dikandangkan, dan pada siang hari dibiarkan berkeliaran bebas di lapangan yang dikelilingi pagar kawat. Di lapangan tersebut dibuat rintangan-rintangan seperti di alam liarnya. Pada saat memberi makan, pengunjung bisa ikut membantu petugas menyebarkan makanannya yang berupa sereal dicampur madu, serta buah-buahan seperti nanas, kelapa dan pepaya, di lapangan yang nanti akan ditempati beruang-beruang madu tersebut. Arahannya, makanan harus ditempatkan/disembunyikan di lokasi-lokasi yang berada di rintangan agar mereka berusaha mengambilnya, misalnya di lubang pohon, di atas batang pohon, dll. Tujuannya untuk mensimulasikan bahwa mereka mencari makan di alam liarnya. Setelah makanan disebar dan disembunyikan, semua petugas dan pengunjung harus keluar dari lapangan itu, dan sekat pintu kedua lapangan dibuka. Beruang-beruang madu pun berlarian pindah ke lapangan yang sudah disebar makanannya dan mulai mencari. Beruang-beruang madu sangat mengandalkan penciumannya dalam mencari makanan, sehingga makanan yang tadi disembunyikan dengan mudah ditemukan. Dengan cakarnya yang panjang dan tajam, mereka dengan mudah memanjat melewati rintangan dan juga mengorek daging kelapa dari tempurungnya. Sama seperti orang utan, beruang madu jantan dan betina selalu dipisahkan.


Area konservasi Beruang Madu/Sun bear
Makanan beruang madu mayoritas adalah buah-buahan, namun ada juga sereal, dan madu
Tingkah laku beruang madu disini beberapa masih terlalu akrab dengan manusia karena sebelumnya menjadi hewan peliharaan atau atraksi sirkus
Cara memberi makannya adalah menyebar makanan di rintangan area 2, dimana area 1 terdapat beruang madu yang diliarkan. Pada saat jam makan, beruang madu tersebut sudah menunggu untuk pindah area melalui pintu gerbang kecil.
Menyimpan makanan harus dibuat sulit sesuai kondisi mereka mencari makanannya di hutan
Termasuk mengasah kemampuan beruang madu menemukan madu di lubang pohon ini

Beberapa kilometer dari lodge terdapat kantor BOSF. Jalan menuju kesana berupa jalan paving block yang makin jauh ke tengah hutan. Di kantor ini terdapat pagoda atau menara pandang yang tingginya melebihi yang ada di lodge. Posisi kantor ini tepat di puncak bukit, dan dengan menara setinggi ini, kita dapat pandangan 360 derajat ke hutan konservasi ini dengan sangat luas. Tapi buat yang lagi galau jangan naik kesini ya.. Untuk bisa naik kesini tentu saja harus izin orang kantor disana dulu, karena akses masuknya berada di dalam gedung kantor.


Pemandangan 360 derajat dari menara pandang yang berbentuk seperti Pagoda di kantor BOSF Semboja