Bali, Dari Riuhnya Malam Legian Hingga Sunyinya Danau Batur

Tiket Promo

Memang saat itu keberuntungan berada di pihak saya. Saat begadang malam itu di kantor, saya yang sedang browsing internet dan menunggu download-an clip film dokumentari dari situs sharing video, iseng-iseng membuka jejaring sosial facebook dan melihat promo Citilink di newsfeed saya. Iseng-iseng mencoba dan ternyata saya mendapat tiket promo ke Bali pulang-pergi seharga Rp. 249,000 all in (kecuali airport tax ya). Tanggalnya pun sesuai dengan hari libur lapangan saya, dan kebetulan tiket ini jatuh di hari kerja (Minggu 1 April - Rabu 4 April 2012). Setelah tiket didapat, saya mencoba mencari teman jalan supaya meringankan biaya perjalanan. Mencari di grup backpacker sia-sia, dan teman-teman backpacker saya juga tidak mau karena jatuh di hari kerja. Satu-satunya cara adalah mencari teman sekantor yang mempunyai jadwal libur lapangan yang sama. Akhirnya teman sekantor saya, Yuga, berminat untuk ikut. Dia rencananya membawa pacarnya, Ika, dan mereka naik mobil pribadi dari Surabaya ke Bali. Menurut saya ini ide bagus karena minimal kami sudah mempunyai alat transportasi untuk berkeliling Pulau Bali. Saya pun tidak mau kalah dan mengajak teman backpacker wanita, Nana, yang akhirnya setuju untuk ikut, namun beberapa hari sebelum perjalanan mendadak diberi tugas kantor ke luar daerah (maklum, ini hari kerja ya). Akhirnya kami fix pergi bertiga.
Yuga, Saya dan Ika di Bali Bird Park

Untuk penginapan, karena hari kerja, mudah mendapatkan kamar yang tersedia, sehingga kami tidak perlu khawatir. Karena pertimbangan harga dan fasilitas, saya mengusulkan menggunakan hotel langganan saya, Sandat Inn di jalan Legian. Penginapan budget backpacker dengan fasilitas yang menurut saya paling oke dibandingkan penginapan-penginapan di gang Poppies. Bayangkan saja, dengan harga Rp. 250,000 per malam, mendapat kamar sistem bungalow, untuk dua orang (king size/twin bed), dan menghadap kolam renang... yak benar, ada kolam renangnya disini, dan wifi di ruang makan-nya sampai ke dalam kamar. Suasananya : kalau siang Bali banget, karena di belakang dekat dengan Pura serta eksterior bergaya Bali banget, tapi kalau malam jedag-jedug suara musik dari diskotik di Legian menghiasi malam. Kalau mau sistem kamar seperti di Poppies (seperti kamar kost-an), tersedia juga dengan harga Rp. 210,000 per malam di lantai atasnya. Teman saya setuju. Sebelumnya supaya lebih terjaga, kami memesan 2 kamar, yaitu 1 untuk Ika dan Nana dan 1 untuk saya dan Yuga. Karena Nana tidak jadi ikut, maka Ika akan menempati kamar itu sendiri. Rute wisatanya akan kami tentukan di penginapan nanti secara musyawarah (kan ada mobil..).
Belalang sembah di depan pagar balkoni kamar saya di Penginapan Sandat Inn
Akhirnya hari yang ditunggu datang. Saya terbang dengan Citilink dari terminal 1C Soekarno-Hatta pada hari minggu siang hari dan akan sampai di Bali pada sore harinya. Yuga dan Ika sudah berangkat satu hari lebih awal karena perjalanan Surabaya - Bali lewat Banyuwangi cukup panjang. Setibanya saya di Ngurah Rai, saya langsung menuju penginapan menggunakan ojek. Sampai disana, rupanya terjadi kesalahan dimana Yuga hanya cek in untuk satu kamar saja dan tidak memberi tahukan ke resepsionis kalau saya akan datang besoknya. Tunggu... dia cuma pesan satu kamar, berdua sama pacarnya? ow..ow..ow... skip, akhirnya kamar yang saya pesan sudah ditempati orang dan saya harus menunggu satu hari untuk mendapatkan kamar yang sekelas. Karena tersedia kamar yang bergaya kost-an, maka saya mengajak Yuga untuk pindah kamar ke tempat saya, tapi Ika tidak mau sekamar sendirian, jadinya Yuga yang menemani dia, sedangkan saya sendirian di kamar atas. Sore hingga malam harinya kami mengelilingi sekitaran Kuta dengan berjalan kaki (daripada macet, ini hari minggu soalnya). Makan malam pertama kami adalah nasi pedas emperan di ujung jalan Legian. Meskipun emperan, tapi soal rasa, disini lebih top dibanding nasi pedas yang terkenal dan berupa toko itu. Yang makan saat itu pun lesehan dan kami adalah rombongan turis lokal satu-satunya dibanding para turis wanita oriental (kelihatannya dari Korea), serta beberapa orang bule. Selesai makan, kami kembali ke Kuta dan bersantai di Cafe-Cafe pinggir pantai. Saya memesan lemongrass mojito yang rasanya sembriwing (hehehe), sedangkan Yuga dan Ika memesan hot chocolatte. Di Cafe Pantai Kuta itu kami sepakat untuk rute besok ke Bali Bird Park dan Reptile Park di Gianyar (ide saya), Pusat Kerajinan Perak Celuk, Garuda Wisnu Kencana (idenya Yuga), Uluwatu, lalu makan malam di Jimbaran (idenya Ika). Oke sepakat, kami pun kembali ke penginapan untuk perjalanan besok. Ada kejadian lucu malamnya dimana saya yang lupa mengunci pintu kamar dan baru selesai mandi dan bersantai di balkoni dikejutkan karena tiba-tiba dua orang gadis bule yang tampaknya mabuk salah masuk kamar ke kamar saya dan duduk di kasur. Saya yang kaget melihat mereka di balkoni masuk ke kamar dan memberi tahu mereka kalau salah kamar. Ternyata mereka tetangga sebelah dan baru habis dugem di Legian. Setelah mengatakan "Sorry" mereka kembali ke kamarnya yang benar... (atau salah lagi?).
Mojito ala Ocean's 27

Bali Mainstream

Hari kedua ini sudah hari kerja, dan sesuai kesepakatan tadi malam, kami akan ke utara untuk Bali Bird Park lalu kembali ke selatan untuk GWK, Uluwatu dan Jimbaran. Karena lokasi Bali Bird Park cukup jauh, maka kami memutuskan pagi-pagi sekali berangkat. Tidak lupa saya memesan kamar yang harusnya hari ini tamu tersebut akan check-out. Di resepsionis itu juga saya baru tahu kalau kamar yang ditempati Yuga dan Ika adalah kamar dengan King size bed.. OMG.. dan kamar saya nanti adalah twin bed. Saya menawarkan Yuga untuk pindah ke kamar saya yang twin bed, tapi tidak mau.. Saya menawarkan tukar kamar, supaya saya yang single bed, juga tidak mau.. ya sudah, mentang-mentang sebentar lagi mau menikah.. Kalian secara tidak langsung nge-bully jomblo ini tau nggak?? hihihi.
Pasar Seni Kuta
Di Bali Bird and Reptile Park (ternyata tempatnya sebelahan doang dan ada tiket terusannya, kirain dua tempat berbeda), isinya sesuai namanya, yaitu Burung dan Reptil. Burung-burung dari seluruh dunia ada perwakilannya disini. Mirip dengan Bird Cage Taman Safari di Puncak, tapi disini spesialis burung. Atraksi yang paling menarik adalah teater 4D dan berfoto dengan burung, dan favorit saya adalah burung Rangkong (hornbill). Selesai di taman burung, kami menyebrang ke taman reptil dan atraksi yang paling diminati adalah berfoto dengan reptil jinak, yaitu ular piton, iguana dewasa, dan biawak yang super besar (tadinya saya kira komodo). Disini saya berfoto dengan iguana saja, karena saya geli dengan ular dan tidak tertarik dicakar biawak.
Berfoto dengan dua burung rangkong

Kurang lebih seperti inilah bentuk akhir patung GWK
Setelahnya kami menuju Celuk dan Ika belanja perhiasan yang terbuat dari perak. Saya akhirnya ikut membeli gelang yang terbuat dari perak untuk ibu di rumah. Sebentar saja kami disini, lalu kami segera menuju kompleks Garuda Wisnu Kencana (GWK). Di tengah perjalanan, kami makan siang di rumah makan setelah tanjakan perempatan ke Nusa Dua, setelah tanjakan, lalu beberapa meter di samping Indomaret. Saya mencoba kuliner khas Bali yaitu Lawar alias urap kalo kata orang sunda mah. Ika ternyata mudah mabuk perjalanan sehingga memborong antimo di Indomaret. Setelah makan siang, kami melanjutkan ke GWK. GWK saat itu sepi turis lokal karena hari kerja, namun jumlah turis mancanegara cukup banyak. Saat itu kondisi patung GWK masih belum selesai, patung Dewa Wisnu baru kepala dan badannya saja, sedangkan patung Garuda sepertinya sudah selesai. Setelah berkeliling GWK, kami melanjutkan ke ujung selatan, yaitu Uluwatu.
Bagian badan patung Wishnu setinggi kira-kira 25 meter dari rencana 150 meter
Bagian patung Garuda

Di Pura Uluwatu, kami harus berpakaian sopan, untungnya kami semua memakai celana panjang. Jika tidak, ada penyewaan sarung. Untuk menjaga kesucian, kami juga harus memakai ikat kain berwarna kuning untuk laki-laki dan putih untuk perempuan. Disini terdapat himbauan untuk menyimpan segala macam perhiasan dan aksesoris yang mudah lepas, seperti kacamata, kalung, headset, dll. Juga termasuk makanan dan minuman. Seorang tamu mancanegara yang lalai mendapat pelajaran berharga dimana kacamata nya direbut oleh monyet-monyet nakal disini. Monyet itu bergelantungan dan turun ke dinding tebing menggunakan sulur tanaman rambat yang ada di pinggir-pinggi tebing. Ika kelihatan sudah lelah disini, sehingga memutuskan istirahat di pura Hanoman (kalau tidak salah). Saya melanjutkan hingga ujung tebing, dimana sepanjang perjalanan dikelilingi ratusan bahkan mungkin ribuan monyet. Monyet-monyet ini meskipun tampak buas, namun tidak akan menyerang jika tidak terprovokasi. Karena itu saya berjalan dengan santai dan tidak mempedulikan monyet-monyet yang sepertinya mencoba menantang saya. Di Uluwatu juga ada pertunjukan tari kecak yang akan dimulai pada saat matahari terbenam. Namun harga tiket pertunjukkannya lumayan mahal, sehingga kami tidak jadi menontonnya. Kami memutuskan untuk menikmati matahari terbenam di Pura Uluwatu.
Sisi jurang paling jauh Pura Uluwatu, Pecatu
Pemandangan dari pelataran Pura Uluwatu, Pecatu

Pada perjalanan pulangnya, perjalanan terasa lebih cepat, atau mungkin Yuga ngebut karena kelaparan. Kami akhirnya sampai di Jimbaran resto, dan mengambil tempat duduk di pinggir pantai. Alunan musik dari musisi disana menyanyikan lagu meksiko membuat suasana menjadi romantis. Kami memesan masakan seafood (cuma seafood yang ada disini), berupa ikan bakar, cumi bakar, udang-udangan dan kelapa muda. Rasamya yang enak dan nama Jimbaran yang terkenal sepadan dengan harganya yang "lumayan". Setelah makan malam, kami kembali ke Penginapan di Legian dan saya kembali beristirahat di ranjang twin bed yang disatukan.. hahaha.
Keluarga harmonis, dua anak cukup

Bali Sebenarnya

Full adat only
Di hari ketiga ini, kami akan fokus ke wisata budaya. Target kami adalah Ubud dan Danau Batur. Karena jaraknya sangat jauh, maka kami melewatkan sarapan di penginapan dan langsung pergi ke Ubud. Bermodalkan GPS di handphone saya dan peta yang saya dapatkan gratis di Ngurah Rai, kami berangkat nekat ke Ubud. Kami sendiri tidak tahu, sebenarnya Ubud itu apa, yang pasti kami akan ke daerah yang bernama Ubud dan bertanya ke sekitar. Rupanya, Ubud adalah daerah yang masih memegang teguh kehidupan kerajaan di Bali, mirip seperti Keraton di Yogyakarta. Kebetulan hari itu akan ada perayaan yang berhubungan dengan keluarga kerajaan, sehingga sangat ramai dengan turis mancanegara. Sayangnya prosesi ini ada di dalam halaman kerajaan yang memerlukan izin terlebih dahulu. Dan di beberapa tempat yang diperbolehkan untuk umum, diwajibkan menggunakan pakaian adat (pakaian sopan saja tidak diperbolehkan, apalagi kaos oblong dan celana jeans). Akhirnya karena tidak ada akses untuk masuk, kami berkeliling ke museum lukisan-lukisan yang ada di sekitar Ubud, misalnya museum Antonio Blanco yang terkenal itu, serta Museum Puri Lukisan. Dasar saya yang tidak mengerti seni lukis, saya tidak mengerti dimana keindahannya. Karena ini museum, bisa saja kan, lukisan dipamerkan disini bukan karena keindahannya tetapi karena bermuatan sejarah?. Yang jelas, disini terdapat lukisan dari tradisional sampai kontemporer. Disini masih diperbolehkan membawa kamera, namun tidak diperbolehkan membawa tripod. Suasana galeri yang remang-remang tentu akan menyulitkan mengambil gambar lukisan untuk keperluan re-produksi.
Jalan di depan Istana Raja Ubud
Mencari makan siang yang halal disini seperti mencari jarum dalam sekam. Hampir semua restoran menyajikan babi di menu-nya. Akhirnya kami mengalah dan kembali ke restoran Riverside. Disana kami memesan ikan tuna bakar karena semua ikan halal. Kami pun berpesan agar dimasak di tempat yang beda dengan tempat memanggang babi, dan dari restorannya memang begitu kebijakannya. Karena bau ikan bisa merusak aroma babi katanya, ngga tau bener apa nggak. Suasana disini sangat berbeda dengan suasana di Kuta/Legian. Di sini sangat-sangat religius. Selesai makan siang kami akan melanjutkan ke Danau Batur. Karena tidak ada yang tahu jalan, maka kami mempercayakan dengan GPS yang ada di tangan saya.
Pemandangan Danau Batur dari Panelokan
Kami sempat tersasar selama perjalanan ke Danau Batur, karena melewati daerah yang tidak ada sinyalnya. Yang cukup menghibur adalah adanya sawah yang tidak dijual, dan dipasang papan ala holywood bertuliskan "Not For Sale). Akhirnya setelah bertanya pada penduduk, kami kembali ke jalan utama, dan sempat melewati sawah Tegalalang yang terkenal itu. Setelah ber-km perjalanan melewati perbukitan, kebun-kebun jeruk yang sedang panen, pesawahan, pada sore harinya kami tiba di Panelokan, yaitu sebuah daerah tinggi di pinggir jalan dimana kita bisa mengambil foto Danau Batur dari ketinggian. Tidak puas hanya dari Panelokan, kami mencoba turun dan mencari Pura yang katanya ada paling ujung di danau ini. Kami melewati sebuah kompleks pura namun belum yang paling ujung. Sampai akhirnya perjalanan terhenti karena jalan tertutup karena sedang perbaikan. Jadi kami memutuskan untuk kembali dan mampir sebentar di Resort Toya Devasya yang sempat kami lewati tadi. Di sini kami memesan makanan ringan dan minuman sambil menikmati pemandangan Danau Batur yang super tenang menenangkan. Disini juga ada pemandian air panas yang airnya langsung dari mata air panas yang berasal dari Gunung Batur, namun kami tidak ada yang membawa baju ganti. Menjelang senja kami kembali ke Penginapan, namun karena kami tiba larut malam, dimana restoran banyak yang sudah tutup, kami memutuskan mencari peruntungan di Seminyak. Akhirnya kami mendapatkan restoran meksiko yang masih buka dan makan malam ala fine dining bertiga hahahaha, saya sudah seperti nyamuk, mengganggu atmosfer romantis mereka berdua disini.
Menikmati pemandangan Danau Batur di Resort Toya Devasya
Resort Toya Devasya

Oleh-Oleh


Hari keempat sekaligus hari terakhir kami berada di Bali. Karena perjalanan kembali ke Surabaya akan memakan waktu yang lama, Yuga dan Ika berpamitan di pulang duluan setelah mengantarkan saya membeli oleh-oleh di Joger. Kami makan siang di RM Nasi Pedas Ibu Andika di seberang Toko Joger itu, lalu kami ke Hard Rock Cafe Kuta untuk membeli suvenir pribadi. Setelah itu, Yuga dan Ika berpamitan pulang terlebih dahulu. Karena hari masih siang sedangkan penerbangan saya pada malam harinya (pukul 19:00), maka saya mencari penyewaan motor yang bisa disewa setengah hari. Akhirnya saya menemukannya dan harganya tidak bisa ditawar, dibulatkan menjadi 1 hari (harga sewa per hari nya Rp. 50,000 belum termasuk bensin). Akhirnya dengan sedikit menawar, saya tawar sekaligus mengantarkan saya ke Ngurah Rai dan deal... Horee!!. Saya bingung mau kemana setengah hari ini atau sampai 17:30 paling maksimal ada di Kuta lagi, antisipasi perjalanan ke Ngurah Rai (kurang lebih 5-10 menit dari Kuta). Akhirnya mendapat saran dari yang punya penyewaan, saya ke Tanah Lot. Tidak disangka, di hari rabu begini banyak turis mancanegara yang berbondong-bondong ke Tanah Lot, dan ternyata sedang ada festival disana. Saya tidak susah-susah mencari jalan lagi, langsung ikuti saja mereka. Rata-rata juga membawa motor yang memiliki braket dudukan papan selancar di sampingnya, dan papan selancarnya juga. Sepertinya pada mau selancar di sana nih. Rupanya Tanah Lot itu masih jauh dari Kuta, sekitar satu jam perjalanan menggunakan motor. Saya hitung-hitung, berarti maksimal saya disana cuma 30 menit (memperhitungkan waktu pulang balik).
Kunjungan kebut saya ke Tanah Lot

Cukup puas saya melihat pura Tanah Lot dan saya merasa kurang sehingga saya berjanji akan kembali lagi kesini suatu saat nanti. Di luar perkiraan, jalan pulang sangat macet karena ada festival tadi. Sambil panik takut ketinggalan pesawat, saya mencoba mengingat-ingat jalan yang saya lewati tadi, dan ternyata......... karena kemacetan lalu lintas jalan yang saya lewati ketika saya datang dialihkan oleh polisi dijadikan one way, saya tidak bisa lewat. Sambil tanya-tanya ke Pak Polisi, saya diarahkan ke jalan utama. Saya pasrah saja deh, sambil menelusuri jalan besar yang jujur saya baru pertama kali lewati dengan berkendara sendiri, saya mencari keajaiban. Mana lampu hijau terus lagi ketika saya lewat. Sampai suatu ketika saya mendapat simpangan dengan lampu merah, saya mencoba bertanya ke pemotor di samping saya arah ke Kuta, dan beruntungnya saya, dia akan memandu saya, tinggal ikuti dia katanya. Kami balik arah dan masuk ke jalan-jalan tikus (gang-gang perumahan) dan akhirnya saya tiba di jalan Legian balik ke Kuta yang sudah sangat saya kenal. Tanpa sempat saya mengucapkan terima kasih, Bapak yang baik hati itu sudah meninggalkan saya. Saya buru-buru ke tempat penyewaan motor dan menagih janji diantarkan ke Ngurah Rai. Saat itu sudah jam 18:00 dan saya hanya punya 15 menit untuk check in sebelum counter ditutup (normalnya check in ditutup 45 menit sebelum keberangkatan). Beruntungnya saya, si Bapak penyewaan motor itu sigap dengan kondisi saya dan mengantarkan saya ke Ngurah Rai dengan cepat. Ketika saya menawarkan bonus Rp. 20,000 Bapak itu menolak karena ini sudah perjanjian. Saya berterima kasih dan bergegas menuju counter check-in.
Sudah malam saat kembali ke Ngurah Rai
Sialnya, loket check in terletak jauuuuuuuuuuuh sekali dari pintu masuk Bandara tempat menurunkan penumpang. Mungkin saya sudah berjalan-berlari sambil panik sambil menggendong ransel saya di Bandara itu selama 20 menit tanpa henti. Akhirnya saya sampai di depan counter check in terlambat 5 menit dari waktu check in resmi ditutup. Dengan sedikit merayu dan saya tidak membawa bagasi apapun (hanya ransel yang saya paksakan oleh-oleh agar muat semua masuk ke dalam). Beruntungnya saya lagi, saya diperbolehkan check ini dan sambil perut lapar dan kelelahan saya bermaksud membawa nasi dan Ayam Betutu untuk dimakan di pesawat. Sialnya baru saja saya sampai di ruang tunggu keberangkatan, sudah ada panggilan keberangkatan pesawat yang saya tumpangi.. Andai saja Ayam Betutu itu fast food, tinggal bungkus, pasti sudah saya beli... ya sudah lain kali saja.

Akhirnya selesai sudah perjalanan saya sambil melihat sunset dari angkasa. Untung saja di dalam pesawat Citilink saat itu dijual makanan beneran (namun tidak gratis seperti di Garuda).
Sunset yang menghiasi langit saat kembali ke Jakarta