Travelling

Exploring Indonesian's magnificent places is my passion

Mountain Bike

The most exercise I did during my free time

Photography

To capture the beauty of the places I've visited

Culinary

The other reason why I love to go traveling

Engineering

Because big dreams never come so easy

Moto-Adventure

Graze the road and enjoy the adventure from each and every miles

Pengibaran Sang Saka Merah Putih Di Puncak Rinjani

Wishlist 2013

Mungkin bagi kalian hal ini terdengar konyol, dimana setiap penghujung tahun, orang-orang biasanya menyusun target mereka pada tahun berikutnya, atau yang biasa disebut resolusi. Namun bagi saya, target yang saya tetapkan selain target-target yang sifatnya membangun karir/karakter, juga mengenai passion saya di dunia traveling, yaitu menetapkan target traveling tiap awal tahun. Saya menyebutnya wishlist, dimana salah satu wishlist saya di tahun 2013 ini adalah menapaki gunung tertinggi ketiga di Indonesia, yaitu Rinjani. Mulai sebelum bulan puasa tahun ini, saya sudah mencari-cari grup yang akan kesana. Mengapa saya mencari grup, tidak menginisiasi sendiri? karena saya masih awam di dunia pendakian ini. Keinginan saya adalah bergabung dengan rekan-rekan yang minimal sudah awam dalam ilmu pendakian gunung. Informasi yang saya kumpulkan tentu saja mengenai waktu terbaik kesana. Waktu terbaik kesana sudah pasti pada saat musim kemarau karena kita akan melewati padang savana Sembalun yang terkenal itu. Kelemahannya adalah pada musim kemarau, suhu di atas bisa menjadi titik terdingin sepanjang tahun. Selain itu kendala juga ada pada sumber air dimana beberapa mata air yang biasanya ada saat musim penghujan menjadi kering di musim kemarau. Jadilah dengan bekal pengalaman saya mendaki ke beberapa gunung lainnya dan waktu terbaik untuk kesana, maka saya mulai mencarinya di forum backpacker indonesia.
Gunung Rinjani
Ternyata untuk rentang waktu yang saya pilih tersebut banyak yang menawarkan perjalanan kesana, mulai dari shared cost sampai penyedia jasa travel. Kelihatannya rute kesana tidak terlalu ekstrim nih, dan saya mulai mencari-cari catatan perjalanan ke Rinjani dari blog dan teman-teman yang sudah kesana. Kesimpulannya memang jalan sudah sangat jelas serta penunjuk jalan juga sangat jelas sehingga kemungkinan tersesat keluar jalur sangat minimum. Poin terpenting lainnya adalah persayaratan kesana harus menggunakan guide/porter? Pusat perizinan Rinjani memang dilakukan dengan manajemen yang baik, karena Rinjani sendiri adalah tujuan wisata alam yang terkenal hingga para penggiat petualangan alam liar di dunia. Tidak heran jika banyak operator pendakian yang melayani wisatawan mancanegara. Dari surfing tersebut juga saya dapatkan perkiraan durasi kesana dengan agak santai, maka dengan pertimbangan ini saya mulai memilih-milih dari trip yang ditawarkan. Akhirnya saya memilih salah satu trip yang ada disana yang diinisiasi oleh Ase. Dari tagline-nya sendiri, "Ase Adventure", saya sudah menduga kalau ini adalah TO (travel organizer). Memang secara harga di atas rata-rata harga yang ditawarkan jika shared cost, namun kelihatannya sangat worthed dengan fasilitas yang ditawarkan. Meskipun saya agak anti dengan hal-hal yang berhubungan dengan TO saat traveling, namun kali ini urusannya nyawa, maka saya lebih menganggapnya sebagai operator pendakian. Dilihat dari track recordnya juga saya menjadi percaya jika orang ini spesialis di dunia pendakian, setidaknya dia berpengalaman di beberapa gunung di Indonesia, termasuk Rinjani.

Lalu saya mulai mengontak dia seperti prosedurnya, yaitu menanyakan kuota (masih ada), lalu mulai bertanya-tanya masalah fasilitas dan kondisi jalur yang akan dilalui. Intinya, jalur memang sudah dirintis dan terlihat jelas, masalahnya hanya jaraknya yang jauh, sehingga durasi pendakian adalah 4 hari 3 malam. Lalu setelah deal, maka saya membayar DP (tidak langsung lunas karena jaga-jaga jika tidak jadi akibat kuota kurang). Surat pemeriksaan dokter yang menerangkan kondisi kesehatan saya fit untuk aktivitas naik gunung pun saya persiapkan dari klinik di kantor, maka tinggal persiapan fisik yang harus saya tingkatkan selama bulan puasa. Lalu H-1 idul fitri, bertepatan saya cuti lapangan, saya merayakannya bersama keluarga di rumah dalam seminggu ke depan. Seminggu ke depannya lagi, saya akan berada dalam perjuangan saya menempuh tantangan yang akan dihadapi di jalur pendakian nanti. Oya, karena kebetulan waktu pendakian ini melewati tanggal 17 Agustus, maka kami akan merayakan hari kemerdekaan ini di perjalanan selama mendaki. Menurut itinerary, kami seharusnya akan merayakannya di Danau Segara Anakan, di hari kami turun ke Senaru. Hari-hari menjelang lebaran ini, dimana orang-orang lainnya sibuk membeli baju lebaran, saya malah mengalokasikan dana baju lebaran untuk mengupgrade jaket gunung saya menjadi yang windbreaker (kata teman saya yang pernah ke Rinjani, kalau-kalau kena badai saat summit attack, jaket windbreaker sangat menolong). Persiapan lainnya adalah kali ini saya mulai menggunakan geiter, karena jalur summit attack yang katanya berpasir mirip di Semeru.

Akhirnya persiapan mulai dimatangkan, dari sisi perlengkapan, saya mulai mempacking jaket windbreaker, sweater, celana panjang trekking, celana training, pakaian trekking, pakaian tidur, dalaman, sleeping bag, matras, peralatan makan, headlight, serta perlengkapan lainnya. Semua perlengkapan itu saya masukkan ke dalam tas carrier berkapasitas 45L+15L. Dalam kasus ini, perlengkapan beregu seperti tenda dan alat masak sudah disiapkan oleh Ase. Tidak lupa kamera dslr yang biasa saya bawa traveling, battery pack yang menampung 2 baterai Li-ion, serta battery pack adaptor untuk baterai alkali ukuran AA. Untuk perjalanan kali ini, saya hanya akan membawa kamera kit 18-55mm dan 50mm f1.8 karena alasan ukurannya yang ringkas dan ringan. Tidak lupa membawa tripod travel dan drybag in case terjadi hujan di tengah perjalanan. Untuk tas tambahan, saya membawa tas hydrobag untuk persiapan summit dimana perlengkapan darurat seperti obat-obatan pribadi, P3K, dan alat jahit akan disimpan. Tidak lupa, tiket yang sudah saya beli jauh-jauh hari mengantisipasi kenaikan harga tiket pesawat akibat arus balik. Di dalam tas, saya masukkan juga sendal gunung untuk keperluan di sekitar camp, serta bendera merah-putih yang terus saya bawa setiap mendaki. Juga kuitansi transfer DP dan pelunasan yang diminta oleh Ase.

Akhirnya hari yang dinantikan tiba. Karena mencari tiket termurah saat itu, saya akan menggunakan Garuda Indonesia direct flight ke Bandara Internasional Lombok dan kebetulan akan mendarat sore hari. Rekan seperjalanan saya mayoritas menggunakan Lion Air yang saat saya booking sudah kepalang mahal, mendarat siang hari. Serta beberapa teman lainnya yang menggunakan jalur darat dan ferry melalui pelabuhan Lembar di Lombok. Sesuai ittinerari, peserta akan ditunggu di meeting point bandara Lombok maksimal pukul 18:00 waktu setempat. Saya datang on time sesuai batas waktu yang ditentukan, yaitu pukul 18:00, dan saya jadi merasa tidak enak pada teman-teman saya yang sudah menunggu dari siang, apalagi yang melalui jalur darat sudah sampai disini dari tadi pagi. Sambil senyum-senyum diomelin yang lain, saya berkenalan dengan rekan-rekan pendakian dan panitia dari Ase, yaitu Widi dan Dani. Hari itu kami menggunakan dua mobil MPV untuk mengantarkan kami ke desa Sembalun, penginapan kami yang pertama. Sebenarnya bukan penginapan juga, melainkan rumah singgah yang disediakan oleh porter yang kami sewa. Benar, kami menggunakan porter dan perizinan pun sudah dilakukan sehari sebelumnya oleh timnya Ase. Kami tidak akan melalui pintu pos keberangkatan, melainkan melalui "jalur porter". Katanya jalur ini akan memotong jalur normal sekitar 1.5 jam perjalanan sehingga kami bisa berangkat agak siang.

Kembali ke rumah singgah di Sembalun, malam itu kami semua tidur di satu ruangan yang hanya ada 2 ranjang yang berdempetan. Ranjang itu akan digunakan oleh Mira dan Mawar (Nurvar?) serta panitia. Mira dan Mawar adalah dua wanita di pendakian kami kali ini. Mira dan Zico katanya akan melanjutkan ke Tambora setelah dari Rinjani, langsung!! (edan). Yang lainnya ada mas Asmui pembimbing rohani pendakian kami (kelihatan paling taat ibadahnya hehehe), mas Adam, Rico, duet Wahyu, dan orang Indonesia yang kelamaan di Jerman, si Sani. Kami semua tidur di lantai beralaskan tikar disini. Untung pada bawa sleeping bag kan? Di rumah ini juga tersedia colokan listrik yang langsung disambungkan dengan steker untuk membagi-bagi daya. Rata-rata mengisi ulang power bank, kalau saya hanya memastikan baterai kamera full. Selain itu, daya listrik disini sangat kecil, sehingga rumah kami sangat remang-remang (sepertinya semua rumah di sekitas sini begitu juga sih). Ajaibnya karena remang-remang, sampai hamparan bintang-bintang terlihat jelas di langit. Tapi tetap saja, polusi cahaya dari kota Lombok masih berpengaruh disini. Ya sudah, foto milkyway-nya saya pending nanti di atas.

Savana Panas Menyengat

Pagi itu, kami bangun sangat awal. Toilet yang sangat sederhana terletak di belakang kandang sapi dengan baunya yang khas di pagi hari. Suara angin gunung di kejauhan serta awan yang bergerak cepat memberi tanda bahwa kami sudah hampir sampai di atap langit. Namun cuaca di sini di pagi hari tidak seperti bayangan saya di gunung. Malah panas, bahkan pukul 07:00 pagi saja, sudah terang dan terik sekali. Di balai terlihat porter-porter yang kami sewa sudah berkumpul, lengkap dengan bahan makanan dan peralatan masak (termasuk ulekan batu coba, kenapa ngga bawa yang sudah diulek aja, masa bawa2 batu ke atas?). Mereka sama-sama sedang packing, bedanya mereka pakai pikulan. Beras, sayuran, telur, dan nanas madu Lombok yang terkenal itu, terhampar di sekitar pikulan mereka. Dari mereka, tidak satupun yang membawa sleeping bag atau jaket. Mereka hanya membawa kain sarung. Pagi itu kami melakukan briefing pendakian dan doa bersama. Hal-hal teknis dan non-teknis dibahas pagi itu serta jika membutuhkan break. Yang terpenting adalah buddy system, dimana jika ada teman yang tertinggal, harus ada yang menemani, minimal berdua, tidak boleh jalan sendiri. Selesai briefing, kami mencari stock air minum untuk bekal perjalanan di warung penduduk. Disinilah kegunaan hydrobag saya, saya isi 2L full plus satu botol ukuran tanggung untuk diisi dopping (hemav*ton jreng). Lalu kami siap berangkat. Titik awal di desa ini kurang lebih berada di 1,156 mdpl, kami mulai bergerak sekitar pukul 08:30. Porter mengisyaratkan agar kami jalan duluan, namun tidak sampai 1 km berjalan, mereka tiba-tiba menyusul dengan kecepatan tinggi dan meninggalkan kami. Katanya, sampai ketemu di Pos 2 (titik istirahat untuk makan siang).
Para porter Rinjani

Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, kami melalui jalan pintas ke Pos 1, dimana rutenya memasuki hutan. Awal perjalanan kami menyebrang sungai mati lalu ke padang pengembalaan sapi. Lalu kami mulai masuk ke dalam hutan yang banyak monyetnya. Tidak lama berjalan, akhirnya kami bertemu jalan utama, yaitu jalan makadam yang menuju padang savana Sembalun. Sangat cepat kami melalui jalan pintas tadi, sehingga kata porter, bisa menghemat waktu sampai 1.5 jam perjalanan. Jalan makadam ini hanya sebentar, batasnya adalah jembatan yang menyebrangi sungai mati. Setelah itu kami berjalan di jalan setapak dan bertemu jembatan lainnya, lalu Pos 1. Kami memutuskan beristirahat di Pos ini. Cuaca mulai terasa terik dan membakar. Keindahan savana ini sangat indah jika dilihat dari Pos yang teduh ini, namun sangat terasa menyiksa jika kita berjalan di luar sana. Tiba-tiba Ase datang sebagai sweeper dan meminta kami agar mengefisienkan waktu istirahat. Target kami hari itu adalah Pos 3, dimana kami akan menginap. Widi, Mira, Rico, duo Wahyu dan Zico langsung menggeber duluan, diikuti Asmui dan Sani, sedangkan saya dan Adam masih mengatur napas. Mawar dan Ase menjadi formasi paling belakang, mereka istirahat juga disini, juga Dani yang malah akrab dengan porter tim tetangga. Lalu akhirnya saya dan Adam meneruskan jalan di tengah terik matahari savana. Tidak lama berjalan kami mulai merasa kepayahan dan istirahat (lagi). Kali ini tiduran di rumput agar tidak menghalangi jalan. Adam menelpon anak dan istrinya, sedangkan saya menyelesaikan sudoku yang belum selesai sejak dimainkan di rumah singgah tadi malam. Tidak berapa lama Dani datang dan bergabung. Kami terus berjalan dan padang savana ini seakan tidak ada habisnya. Sampai suatu ketika, padang savana yang datar ini mulai dihiasi tanjakan demi tanjakan yang membuat kaki lemas. Dani dan Adam mulai bergerak cepat menyusul Asmui dan Sani, sedangkan saya memutuskan menunggu Ase dan Mawar. Hingga pada akhirnya, saya, Ase dan Mawar menjadi formasi belakang. Nah perjalanan saya, Mawar dan Ase ini yang saya rasa paling panjang, sebentar-sebentar istirahat, sampai kami memutuskan untuk tidur siang 30 menit saat bertemu pohon yang rindang. Apalagi ada payungnya Mawar dan payungnya Ase, mantap... Terik yang menyengat seketika berubah ketika kabut turun, udara mulai terasa dingin, tapi badan yang bergerak terus malah terasa panas. Kami berjalan terus dengan porsi jalan yang terus mendaki meskipun tidak terjal-terjal amat. Pemandangan ke belakang sangat indah, bahkan laut Lombok pun terlihat dengan jelas dari sini. Bekal paling optimal disini adalah nanas madu tadi, sayangnya dibawa porter melaju ke pos 2. Tidak berapa lama kami sampai di Pos 2. Disini saya, Ase, dan Mawar datang paling belakang. Porter sudah mulai memasak, bahkan Mira dkk sudah asyik selonjoran di atas fly sheet.
Di tengah perjalanan melewati savana Sembalun, titik awal pendakian terlihat di bawah kaki bukit di latar belakang
Saya lihat sudah jam 15:00, kita kebablasan. Tapi tinggal 1 pos lagi (anggapannya) sebelum berkemah. Hari-hari itu memang sedang musim pendakian sehingga pos 2 dijadikan tempat istirahat makan siang massal di atas jembatan. Dari menu makanannya terlihat jelas perbedaan porter full-service dengan porter barang yang kami sewa ini. Di layanan full-service, turis mancanegara itu disuguhi makanan pembuka berupa snack dan cola, lalu makan besar berupa nasi sayur dan lauk, lalu penutup buah-buahan segar yang melimpah (ada harga, ada barang ya). Saya mengamati turis mancanegara itu tidak memakan bonggol tengah nanas yang keras (ini masukan ide buat saya untuk mendapatkan buah di tengah jalan nanti). Menu makanan kami? nasi goreng plus kerupuk serta minum teh tawar hangat. Lumayan. Menu buah belum dikeluarkan dulu, katanya buat makan malam. Selesai makan kami bersiap-siap. Porter menyarankan kami berjalan duluan sementara mereka berkemas.
Turis asing menikmati paket full service dari operator pendakian

Makan siang kami di Pos 2
Mulai sekarang cuaca panas sudah digantikan oleh padang rumput berkabut. Tanjakan mulai konsisten, tiada ampun. Air minum yang kami isi ulang di pos 2 makin cepat habis. Panjang sekali perjalanan itu sampai jalur berubah menjadi diselingi banyak pohon-pohon tanggung dan yang terburuk adalah sinyal menghilang. Namun di suatu titik yang ada sungai mati dan ada jembatannya, sinyal tiba-tiba ada lagi. Oya, untuk menghemat baterai handphone, pada saat tidak ada sinyal, lebih baik diset ke airplane mode, jika masih digunakan sebagai pemutar musik. Jika tidak digunakan, lebih baik dimatikan saja. Di jembatan besi ini, sinyal full bar. Kami memutuskan beristirahat di situ sambil menelpon kekasih tercinta, kecuali saya yang malah main game "deer hunter". Selesai istirahat, hari sudah mulai petang dan kami akhirnya melewati sungai mati besar yang berbatu-batu besar. Di situlah kami akan berkemah, malah porter yang duluan sampai sudah mendirikan tendanya dan mulai memasak makan malam. Katanya kalau telat sedikit saja, kami tidak akan kebagian tempat disini. Saya tanya Ase, bukannya rencananya kemah di Pos 3?, Ase menunjuk bangunan yang sudah hampir rubuh di atas jalur yang akan kami lewati nanti dan yak,,, itulah pos 3, ada di posisi tanjakan. Jadi maksudnya berkemah di pos 3 ya berarti disini.
Makan malam kami di Pos 3

Mulailah pembagian tenda. Karena wanita cuma dua dan kata Ase harus dipisah, maka Mawar dan Mira menempati satu tenda dome kapasitas 4, sisanya selain Adam dan saya terbagi di 2 tenda dome kapasitas 4, porter punya 2 tenda pramuka bawaan mereka sendiri, sedangkan saya dan Adam ditunjuk menempati tenda bivak kapasitas pas 2 orang langsing. Pernah lihat tenda bivak? tenda yang bentuknya seperti sleeping bag, alias tidak ada ruang untuk duduk, hanya didesain untuk tiduran saja. Mana fisik saya dan Adam adalah yang paling XL di antara rombongan. Ya saya dan Adam protes, lalu setelah musyawarah, yang perempuan tidak keberatan tidur setenda dengan laki-laki, sehingga Sani dan Zico ikut di tenda wanita, Ase pindah ke dome satunya sedangkan widi mengisi tenda bivak sendiri... nah kan? sesuai dengan kapasitasnya masing-masing. Saya, Adam, dan Dani satu tenda dome yang ditinggalkan. Disini kami bermalam di sungai mati yang besar. Sebenarnya sangat berbahaya mendirikan tenda di sungai mati, karena jika curah hujan tinggi, kami bisa tersapu banjir. Sumber air berada di jalur yang tadi kami lewati, tepatnya di pos 2 bayangan (yang ada fasilitas toiletnya tapi rusak). Malam itu kami makan lauk ayam dan sayuran, serta buah nanas yang tidak jadi dipotong tadi siang. Malamnya cuaca disini dingin, mungkin karena kemarau. Namun karena kami berada di cekungan sungai, angin dingin tidak menerpa tenda kami. Di tengah cuaca yang dingin dan suasana yang gelap, saya mencoba mengambil gambar milky way. Dengan bantuan google sky map, saya berhasil menemukan posisi milky way dan mengarahkan lensa kit saya dan hasilnya...mengecewakan. Bukaan lensa kurang lebar, oleh karena itu saya menggunakan lensa 50mm dan mengeset bukaan di f2.8, dan pengaturan manual, hasilnya... dapat.. milkyway berhasil saya dapatkan, namun karena menggunakan panjang fokal 50mm atau 80mm di full frame, maka sudut pandangnya sempit. Yaah, lumayan lah. Malam itu kami istirahat, dan saya baru tahu kalau Mira mengalami keseleo di kaki tadi... ngebut mulu sih...
Milky way Rinjani

Jangan Menyerah, Mawar

Hari kedua pendakian, pagi itu setelah panggilan alam, kami tuntaskan, lalu sarapan dan bersiap ke Plawangan Sembalun. Briefing pagi ini kami diberitahu agar menyiapkan mental karena jalur setelah pos 3 adalah tanjakan tiada henti bahkan disebut sebagai bukit penyesalan. Jika kita berhasil mencapai puncak suatu bukit, ada bukit lainnya lagi yang harus kita lewati. Pagi itu, urutannya sedikit diubah, dimana saya dimajukan ke posisi tengah, sedangkan Mira di posisi belakang, jaga-jaga jika kakinya keseleo lagi. Hanya sweeper yang membawa obat-obatan dan P3K tim, padahal seharusnya masing-masing juga membawanya (seperti saya). Namun Mira malah berjalan melaju kembali dan akhirnya seleksi alam membuat formasi seperti kemarin lagi, kali ini ditambah Adam sehingga saya, Adam, Ase dan Mawar menjadi paling belakang. Namun di tengah-tengah, Adam melaju kencang dan menyusul Widi.

Sekarang tinggal saya, Ase dan Mawar. Udara mulai kembali cerah alias terik. Trik hari kemarin saya terapkan hari ini, dimana saya mengikuti rombongan turis mancanegara yang sedang istirahat menikmati buah nanas yang disediakan porter, namun sebelum bonggol nanas dibuang, saya minta dulu dan akhirnya diberikan.. Lumayan untuk obat haus dan pusing. Sambil berjalan dan menikmati bonggol nanas, saya tidak menyadari kalau saya malah bergabung dengan rombongan pendaki lainnya. Mana Ase dan Mawar? rupanya mereka berhenti di belakang karena Mawar menangis dan menyerah. Waduh, gawat... Di ujung tanjakan saya tunggu mereka berdua namun kok tidak muncul-muncul, malah sudah masuk jam makan siang. Sambil menunggu badan lama-lama terasa dingin jika tidak digerakan. Disini terasa berbeda dengan di bawah, dimana meskipun terik, namun udara terasa dingin.. inilah pegunungan cuy.
Jalur menuju Plawangan Sembalun

Nah mereka muncul, terlihat Ase berusaha memapah Mawar sambil membawa ranselnya. Saya inisiatif ke bawah dan mengambil ranselnya dan menunggu mereka di ujung tanjakan. Di puncak bukit ini, karena lumayan teduh saya mengusulkan untuk membuat makan siang darurat. Rencananya makan siang disediakan di atas (Plawangan Sembalun), namun ini sudah jam 14:00 kami belum makan. Untung Ase bawa macaroni instant, ya sudah kami makan makaroni saja. Menggelar flysheet dan memasak air di trangia, kami menyeduh makaroni itu sematang-nya. Sehabis makan siang "bayangan", kami melanjutkan dan Mawar kembali mulai menangis. Saya mengusulkan agar mereka jalan pelan-pelan dan saya melaju ke atas sendiri untuk mencari pertolongan. Di tengah jalan, saya kehabisan air minum dan mulai meminta-minta air minum lebihan pendaki lainnya yang beristirahat. Mereka memberikannya dan saya bisa melanjutkan lagi. Di tanjakan terakhir sebelum Plawangan Sembalun, saya bertemu Dani yang turun sambil membawa 2 botol air karena khawatir kami belum sampai. Perjanjiannya tadi di Pos 3, jika belum sampai Plawangan Sembalun di atas pukul 15:00, tim yang sudah sampai harus menjemput turun. Saya lihat jam dan oh iya, sudah jam 15:00. Saya informasikan saja posisi mereka terakhir dan meminta sedikit air. Di luar dugaan saya malah diberi air sebotol 1.5L fresh dari mata air pegunungan Plawangan Sembalun. Rezeki ini saya bagi-bagi dengan pendaki yang tadi memberi saya air dan yang sekedar lewat karena airnya sangat dingin dan sedikit beraroma pandan. Lalu saya tiba di titik Plawangan Sembalun 2,700 mdpl. Dari sini saya berbelok ke kiri mengikuti pinggiran jurang menuju area perkemahan. Saya tidak tahu posisi kemah rekan-rekan saya karena sinyal mati hidup disini. Saya terus berjalan akhirnya ditegur oleh porter yang mengenali saya. Akhirnya saya sampai dan makan siang yang sudah dingin menanti saya. Menu makan siangnya seperti kemarin, nasi goreng pakai kerupuk kali ini tidak pakai kecap. Yang paling mengobati lelah adalah teh manis panasnya yang asoy.. rekan-rekan yang lain sudah makan siang dan sekarang sedang tidur siang. Selesai saya makan siang (beneran), Ase, Mawar dan Dani datang. Dani membawa carrier Mawar sedangkan Ase memapah Mawar. Siang itu kami mengisi ulang perbekalan air kami untuk summit attack.
Area camp Plawangan Sembalun, jalur ke puncak terlihat di belakang tertutup oleh awan
Setelah mandi tissue basah dan mengganti baju trekking dengan baju bersih/baju tidur, saya melihat pemadangan danau Segara Anak dari atas sini dan sangat indah mempesona. Gulungan-gulungan awan/kabut yang mengalir deras di bawah kaki saya menunjukkan kalau saya seolah-olah sudah berada di atas langit. Matahari terbenam pun memberi warna yang memanjakan mata ke arah danau Segara Anak. Sore itu Ase menginstruksikan agar kami cepat tidur jika berencana summit attack. Kami akan dibangunkan pukul 01:00 dini hari dan perjalanan dimulai Pukul 02:00. Pembagian garis depan, tengah dan belakang disepakati malam itu. Setelah makan malam, lalu kami tidur.

Full team di Plawangan Sembalun
Meraih Puncak Anjani


Malam itu porter sudah menyiapkan roti bakar dan teh manis hangat untuk sarapan. Kami makan untuk persiapan stamina menjajal Summit. Disini kami menanyakan Mira dan Mawar apakah akan ikut summit? Mira dengan tegas menyatakan ikut, bahkan ingin di garis depan, sedangkan Mawar masih ragu-ragu. Setelah menyadari semua anggota tim ikut, Mawar yang tidak mau sendirian di camp memutuskan ikut juga. Kami menunjuknya di barisan belakang. Saya dan Adam ditunjuk di barisan tengah bersama Dani, sedangkan Widi di depan. Ase di Belakang. Awalnya semua sesuai rencana, namun begitu mulai meniti pinggiran kawah, saya dan Adam terseok-seok sehingga menjadi barisan belakang. Namun tidak perlu khawatir karena jalur summit attack malam itu sangat ramai, bahkan sudah ada yang hampir mencapai puncak di malam gelap gulita ini, terlihat dari kerlap-kerlip cahaya headlight di depan. Tanpa disangka cuaca menjadi berangin dan suhu udara anjlok. Kami mulai kedinginan. Disini tidak ada batuan atau pohon untuk berlindung dari angin. Meskipun ada, langsung menjadi rebutan orang-orang meskipun harus tiduran di pasir. Saya, Mawar, dan beberapa anggota pendaki lain bertaruh nyawa dengan masuk ke cerukan batu di tebing kawah yang mengarah ke dalam danau. Efektif, di sini angin tidak terasa, namun suhu dingin tetap menyerang. Karena kami duduk diam tidak bergerak, kami mulai merasakan dingin tersebut. Untungnya Adam dan Ase yang memanggil-manggil nama saya dan Mawar, mulai terdengar. Saya menyahut dan mengajak mereka ke tempat perlindungan angin yang sebenarnya tebing jurang. Jadilah kami berempat duduk di pinggiran jurang itu sambil menyeruput air panas yang dibawa di termosnya Ase. Hamparan bintang sangat jelas di depan kami tanpa terhalang polusi cahaya maupun awan, sesekali diselingi adanya bintang jatuh. Kami memutuskan menunggu disini sampai agak terang baru lanjut jalan. Menjelang subuh, angin berhenti berhembus dan udara mulai terasa relatif hangat (tidak sedingin tadi pagi, tapi tetap membuat menggigil). Kondisi ini membuat saya bersemangat dan berniat mengejar ketertinggalan kami dengan kelompok di depan.

Di tengah jalan, ketika matahari mulai terbit, saya akhirnya melihat dari jauh betapa berbahayanya tempat istirahat kami tadi pagi. Gunung Agung terlihat di kejauhan, begitupun lautan. Saya besemangat untuk naik dan tidak berapa lama kami berpapasan dengan kelompok garis depan... yang sedang turun gunung. Mereka kecewa karena tiba terlalu cepat saat hari masih gelap sedangkan antrian di belakang meminta mereka turun. Jadi mereka tiba di puncak saat sekeliling masih gelap? kasihan, hehehe... Tidak begitu lama saya bertemu rombongan tengah... sedang turun gunung juga, katanya mereka tiba di atas sewaktu matahari mulai terbit. Beruntungnya mereka menyaksikan sunrise sempurna pagi itu. Sedangkan saya, pukul 06:30 masih berkutat dengan tanjakan pasir yang mulai lepas, naik tiga turun dua langkah, dst. Pasir yang padat tadi malam mulai beranjak menggembur akibat sudah mulai terang dan sudah dilewati pendaki-pendaki lainnya. Karena turunnya hanya dua langkah, maka saya memutuskan untuk melakukan langkah besar dan banyak sekaligus sebelum berhenti dan itu berhasil. Beberapa ratus meter terakhir dari puncak adalah jalan yang sangat menantang, karena dengan lebar yang kira-kira hanya 3 meter, kiri dan kanan adalah jurang setinggi ratusan meter, dan dilalui untuk jalur naik dan turun. Disini saya sempat menyaksikan evakuasi seorang pendaki wanita yang kehilangan kesadarannya entah karena tipisnya oksigen disini atau karena hipotermia. Pukul 07:00 saya tiba di puncak (3,726 mdpl) dan mengibarkan bendera yang saya bawa. Hari ini, 16 Agustus 2013, sudah ada kelompok mapala yang merayakan upacara bendera di atas. Saya ikut dan mengikuti dengan khidmat. Bendera saya dipinjam juga untuk upacara. Lalu saya mengabadikan pemandangan di atas dengan dslr yang saya bawa.
Mengibarkan bendera merah-putih di puncak Rinjani
Persiapan upacara bendera di Puncak Rinjani

Sampai di atas sini saya belum menemukan Ase, Adam dan Mawar, apakah mereka tidak jadi naik kesini dan memutuskan putar balik arah? Selesai mengambil foto-foto. Saya tadinya ingin berlama-lama disini tapi anginnya dingin, kalau saya hipotermia juga disini siapa yang bakal nolongin?. Akhirnya saya memutuskan untuk turun gunung. Belum sampai saya mencapai turunan saya melihat Ase, Adam dan Mawar di kejauhan memanggil-manggil saya. Saya datangi dan mereka masih berjuang untuk Summit. Ya karena kami sudah bersama selama ini, saya temani mereka di atas (lagi). Setelah mengambil foto-foto bersama, kami memakan bekal makanan ringan yang kami bawa dan turun gunung kembali ke perkemahan.
Foto bersama di Puncak Rinjani
Narsis di Puncak Rinjani

Di jalan turun itu, rasanya lebih berat dari naiknya, terutama tekanan di kaki. Dengan gaya ski pasir pun diprotes pendaki lain karena berdebu. Maka dengan kaki yang menjadi lecet saya memaksakan jalan. Tidak begitu lama, saya mendapat kenalan panitia lomba trail run yang sedang diadakan disini. Kami turun gunung sambil mengobrol, tidak sadar tiba-tiba kami sudah meninggalkan pinggiran kawah dan meninggalkan Ase, Mawar dan Adam sangat jauh. Disini kami berpisah jalan dimana beliau menunggu di pos jaganya sedangkan saya sendirian menuju ke perkemahan. Sampai perkemahan, seperti biasa, air hangat sudah menunggu serta roti bakar sisa semalam. Disini kami makan siang yang dipercepat, artinya pukul 11:00 kami sudah makan siang dengan harapan pukul 13:00 kami sudah selesai berkemas dan turun ke Segara Anakan. Turun lagi? Kaki masih nyut-nyutan juga, hehehe.. Oya, sepanjang perjalanan, banyak terdapat pohon eidelweiss, si bunga abadi. Kebetulan saat itu sedang masa bermekaran.
Bunga eidelweiss bermekaran
Pohon eidelweiss yang ditemukan sepanjang perjalanan ke Puncak

Pentingnya Manajemen Air

Setelah selesai makan siang, kami berkemas dan porter seperti biasa meninggalkan kami duluan. Disini sisa air di hydobag saya tinggal setengah (1 Liter kurang lebih) sisa summit attack tadi pagi dan tidak ada lagi air cadangan lainnya. Saya mengusulkan untuk mengisi ulang perbekalan air namun sudah pukul 13:00, dan Ase tidak mau mengambil resiko kemalaman di perjalanan. Terpaksa kami ikuti dan air yang tersedia harus di-irit sedikit demi sedikit. Awal perjalanan, suasana masih seperti pegunungan, kabut yang tebal melindungi kami dari terik matahari siang itu. Rute yang kami lewati tebing-tebing batu yang menuntuk kelincahan kami melompat dan melipir di dinding, namun dengan beban di punggung kami. Jalan turun sangat panjang, dimana perbedaan ketinggian yang akan kami lewati adalah turun dari 2,700 mdpl ke 2,000 mdpl secara vertikal. Kami menuruni tebing melalui jalur yang sudah terpelihara hingga mencapai titik dimana terdapat sungai kering.. sungai yang awalnya diharapkan menjadi sumber air perbekalan kami. Monyet-monyet juga banyak terdapat disini. Tiba di ketinggian 2,000 mdpl, cuaca menjadi terik, otomatis air sudah habis di tengah perjalanan. Saya pun akhirnya meminta-minta air pada rombongan pendaki lainnya (lagi). Ada saja yang memberi, barang seteguk sudah sangat berharga. Jika dalam kondisi seperti ini, baru terasa betapa pentingnya menjaga ketersediaan air bersih di dunia... Seharusnya para perambah hutan dan perusak hutan dihukum mati saja..

Perjalanan terik ini terasa sangaaaaat panjang. Kaki mulai terseok-seok dan pandangan mulai berkunang-kunang. Saya menjadi yang paling terakhir di rombongan yang sudah melaju duluan. Ase sebagai sweeper menemani saya dan menyemangati saya. Untungnya banyak pendaki baik hati lainnya yang memberi sedikit air untuk mengembalikan kesadaran saya. Ya, saya merasa betul bahwa saat itu saya sudah dehidrasi. Hari sudah mulai gelap dan kekhawatiran Ase beralasan. Jalur savana sulit diprediksi jika sudah malam hari, meskipun berbekal headlight, beberapa kali saya hampir tersasar ke belokan-belokan yang dibuat pendaki sebelumnya untuk buang air besar. Tunggu, jika sudah ada tempat seperti ini, artinya kami sudah dekat. Ya, pukul 18:30 kami tiba di area perkemahan Segara Anakan. Saya langsung merebahkan diri di tenda sambil meluruskan kaki yang mulai keram. Makan malam sudah tersedia, kali ini sayuran dan lauk ayam akan menemani malam ini. Tambahan tuna kalengan juga membuat stamina saya kembali. Malam ini kami harus memulihkan diri karena besoknya kami akan mendaki tebing Plawangan Senaru dan mengakhiri pendakian di RTC.
Sungai dekat camp Segara Anakan

Esok harinya, kami diberi kesempatan hingga pukul 08:00 untuk menjelajahi sekitar, termasuk pemandian air panas alami di bawah, dekat dengan Segara Anakan. Saya lebih memilih menghemat tenaga dan melihat ikan-ikan yang berhasil dipancing oleh pendaki sekitar. Air danau Segara Anakan adalah tawar namun asam, karena mengandung belerang. Ikan yang hidup disini pun dagingnya berbau belerang, sehingga kebanyakan hanya dipancing lalu diikat di pinggir hingga mati. Sungguh biadab, kenapa kalau tidak mau dimakan, ya di-release lagi toh ikannya?. Pagi itu kami menyaksikan upacara bendera 17 Agustus gabungan yang diadakan di tanah lapang Segara Anakan. Sebenarnya saya ingin mengikutinya, namun pukul 09:00 kami harus sudah mulai mendaki pulang kalau tidak mau terlalu kemalaman. Ya, berangkat sepagi apapun disini kecuali para porter, pasti kemalaman di track Senaru nya.
Ikan mas yang dibiarkan mati setelah dipancing, tapi tidak untuk dimakan

Pengalaman Mistis Jalur Senaru

Pukul 09:00 kami berangkat, melewati sungai yang berasal dari danau Segara Anakan, lalu menyusuri tepian danau ke rute pendakian Plawangan Senaru. Heran juga saya bertemu dengan rombongan pe-sepeda downhill disini yang membopong sepedanya. Mau dipakai dimana Pak sepedanya?, lah wong jalannya mirip jalur panjat tebing begitu kok.. Kami akhirnya sampai di titik awal pendakian, 2,000 mdpl menuju 2,700 mdpl kembali. Plawangan Senaru terlihat di atas, terlihat dekat, cuma 700 meter tingginya. Namun jalan yang kami lalui umumnya ditempuh dalam 3 jam. Jalan konsisten menanjak seperti jalur turun Plawangan Sembalun ke Segara Anakan yang kami lalui kemarin, namun versi kebalikannya, kali ini menanjak. Kaki yang keram kemarin malam mulai terasa di awal-awal pendakian, sehingga indahnya pemandangan danau di belakang tidak mampu mengobati kegelisahan saya, apakah saya mampu mendaki hingga Plawangan Senaru. Namun pelan-pelan jalur ini berhasil kami lalui dan saya kembali menjadi rombongan terakhir. Kali ini cuma saya dan Adam.
Jalur menuju Plawangan Senaru
Dari Plawangan Senaru, kami bertemu Widi yang menunggu kami berdua dan mengatakan titik kumpul berikutnya di Pos 3. Kami akan makan siang terakhir bersama porter disana. Jalur turun ke Pos 3 benar-benar mirip turunan puncak Rinjani. Pasir yang sudah terlanjur gembur di atas landasan pasir yang memadat di bawahnya, membuat kami harus menjaga langkah dan keseimbangan jika tidak mau terpeleset dan jatuh. Menahan beban tubuh dan beban bawaan membuat paha dan betis menderita. Setelah melewati Pos 4, Widi yang dari tadi terlihat cepat sekali melibas turunan ini, memperhatikan kami yang turun dengan kesusahan. Widi akhirnya memberi tahukan rahasianya, yaitu melaju dengan zig-zag, supaya salah satu kaki bisa beristirahat. Ternyata benar, dengan melangkah turun secara zig-zag, pijakan menjadi mantap dan kaki bisa lurus untuk beristirahat. Saya mulai menguasai teknik turunan ini dan bahkan melaju lebih cepat meninggalkan Adam dan Widi. Kalau tahu begini saya tidak akan kesusahan saat turunan Plawangan Sembalun ke Segara Anakan dan Turunan puncak kemarin..
Jalan menuju Plawangan Senaru, yang menempel di belakang carrier saya adalah hydrobag

Saya akhirnya sampai di Pos 3. Disini seharusnya ada sumber air namun karena musim kemarau, sumber airnya sangat jelek kualitasnya. Saya maklumi dan pendaki yang baru naik bercerita kalau di Pos 2 ada air terjun yang airnya bisa diminum. Beberapa kali kami melihat peserta lomba trail running internasional yang diikuti oleh atlit-atlit pelari trail yang hebat. Saya yakin pasti ada pos panitianya seperti Mas-mas yang kemarin ketemu di jalur turun dari puncak. Mungkin kami bisa meminta airnya sedikit. Di Pos 3 kami makan siang terakhir bersama porter untuk terakhir kalinya. Resminya, kontrak mereka habis di Pos 3 ini dan akan melaju duluan meninggalkan kami. Ase dan Mawar akan ikut rombongan Porter itu, sedangkan kami akan membagi 2 grup. Grup pertama adalah grup depan dan grup kedua adalah grup belakang. Kami harus berjalan dalam satu grup karena ini sudah pukul 15:00 dan kami akan berjalan malam hari melewati hutan yang lebat. Berbeda dengan jalur Sembalun yang didominasi oleh savana, jalur Senaru didominasi oleh hutan lebat. Saya ditunjuk oleh tim di grup belakang.

Berbekal ilmu baru menuruni jalur yang saya kuasai tadi, saya yang ditunjuk di grup belakang mulai merasa bahwa grup ini terlalu lambat. Bukan masalah jago-jagoan, namun dengan teknik turun yang diajarkan Widi tadi, dengan bergerak makin cepat, maka makin ringan beban ini terasa, terutama kaki yang bisa lurus saat menapak. Saya pun meminta izin untuk ikut rombongan depan dan tidak perlu waktu lama hingga saya menyusul dan menjadi yang terdepan. Grup ini pun mulai mengikuti kecepatan saya dan kami bergerak menjauhi grup belakang. Di grup depan ada Saya, Asmui, Widi, dan Rico. Di grup belakang ada Zicco, duo Wahyu, Sani, Adam, dan Mira. Benar saja, kami tiba di Pos 2 sudah pukul 17:00 dan bertemu pos panitia lomba trail running. Saya yang pandai merayu akhirnya kami mendapat masing-masing satu botol Pocari Sweat (itu juga karena hidung saya tiba-tiba mimisan parah, untung saya membawa kain kasa). Setelah mencapai pos panitia tadi, kami menunggu grup belakang dan mereka pun tiba. Sisa Pocari kami berikan ke mereka untuk dicicipi juga. Sebelum pos 2 tadi ada keluarga bule dan anak-anaknya yang memutuskan berkemah karena sudah kesorean. Sudah pukul 17:00 dan masih agak terang, sehingga kami memberanikan diri mengambil bekal air minum di air terjun di bawah. Sebenarnya sih yang turun adalah Rico dan Asmui. Sesudah itu kami membagi-bagi air yang didapat ke botol minum kami masing-masing. Agak keruh sih, tapi worthed kok dibawa, kalau-kalau dehidrasi lagi. Grup depan lalu berpamitan dengan grup belakang untuk melaju ke RTC. Di antara Pos 2 dan Pos 1, hari sudah petang, dan jalur mulai menjadi gelap. Kami merapatkan barisan dan mengurangi kecepatan.

Di tengah jalan, kami bertemu dengan pendaki dari tim Avtech, dua lelaki dan satu wanita berjilbab, dimana yang wanita sepertinya sedang mengalami masalah. Suasana sudah petang dan makin sunyi, suara binatang-binatang malam sudah mulai bersahut-sahutan. Wanita itu terdengar menangis terisak sambil setengah tersandar ke pohon, sedangkan teman-temannya mencoba menyadarkannya dengan menepuk-nepuk pundaknya. Tiba-tiba ketika kami lewat wanita itu berteriak sangat keras lalu bergumam dengan bahasa yang kami tidak mengerti, dia meronta-ronta, lalu berteriak. Saking keras teriakannya sampai suara binatang malam menghilang dan suasana menjadi sunyi total. Waduh, ada yang kesurupan lagi. Untung ada Mas Asmui, yang dengan sigap menyadarkan wanita itu sambil membacakan doa-doa. Agak berhasil tapi Mas Amsui bilang belum bisa "lepas" total, "susah" katanya. Kelihatan sih, wanita itu menjadi setengah sadar, dan untungnya masih bisa diajak berjalan turun. Carrier si wanita itu dibawa bergantian oleh kedua temannya, lalu diambil alih oleh Mas Widi. Mas Asmui menyuruh wanita itu terus membaca istigfar dan takbir, katanya kaki kanan melangkah istigfar, kaki kiri melangkah takbir. Tujuannya agar tidak diganggu lebih jauh dan menjaga dia tetap sadar. Di sela-sela membaca doa-doa itu si wanita yang berada di depan saya kadang mengeluarkan suara gumaman aneh lagi dan membuat saya takut. Saya meminta bertukar posisi dengan Rico, namun Rico sama takutnya dengan saya. Kata teman-temannya, wanita itu sedang menstruasi. Waduh, kalau tahu sedang menstruasi kenapa nekat jalan di hutan belantara malam-malam? Selain konon bisa diganggu makhluk halus, juga bisa tercium oleh binatang buas. Lalu Widi juga bercerita kalau Mira juga sedang menstruasi hari ini, tepatnya sore tadi di Pos 3. Waduh.. makin khawatir saya dengan grup belakang. Kami akan menghubungi mereka di gerbang Senaru. Selain peristiwa kerasukan pendaki Avtech itu, Rico juga sempat melihat "kembaran" saya saat menyusul saya setelah Pos 1. Dia menepuk bahu saya tiba-tiba sambil terengah-engah sambil mengatakan "lo ada dua". Saya langsung bilang jangan diceritakan disini, nanti saja waktu di Senggigi. Di Pos 1 juga saya merasakan keanehan karena pos yang bisa dipakai istirahat, namun Mas Asmui tiba-tiba seperti menyembunyikan sesuatu dan bilang lebih baik tidak istirahat disini. Katanya dia melihat sesuatu yang berterbangan, seperti kepala atau entahlah.

Akhirnya tepat pukul 21:00 kami sampai di Gerbang Senaru, dan disini ada warung.. iya warung!!. Tempat ini ramai pendaki dan saya pikir disinilah RTC. Air keruh dari air terjun tidak jadi saya minum, saya buang airnya di hydrobag saya di situ. Saya beli saja minuman isotonik dan ternyata warung itu hanya buka kalau ada musim pendakian saja. Yang menjual adalah kakek-kakek dan cucunya yang masih sepantaran SMP. Wanita itu bergabung dengan rombongannya dan mereka berterima kasih kepada grup kami. Saya cek hp, eh ada Sinyal!. Kami mencoba menghubungi Mira namun kami baru sadar kalau sinyal baru ada disini, jadi mungkin Mira masih jauh. Mudah-mudahan tidak terjadi apa-apa padanya. Saya menghubungi keluarga dan begitu pula Asmui dan Rico, untuk mengabarkan kami sudah sampai dengan selamat. Lalu kami menghubungi Ase, mengatakan kami sudah tiba di gerbang Rinjani. Ase baru saja sampai di RTC saat itu. Ternyata dari gerbang ke RTC harus berjalan kaki selama 30 menit. Untung jalannya sudah agak "normal", dimana jalan berupa makadam batu-batu besar. Begitu sampai di RTC, saya yang sudah kelaparan langsung membeli nasi uduk yang dijual oleh Pos RTC. Meskipun sudah dingin dan keras, nasi itu terasa nikmat sekali. Mungkin saya benar-benar kelaparan saat itu. Yang lain menunggu makan malam bersama nanti di Senggigi. Hal ini yang akan disesali oleh teman2 lainnya. Saya lalu ikut antri mandi di RTC, airnya dingin tapi setelah mandi, rasa capek langsung hilang. Kedinginan sehabis mandi, rombongan pendaki yang sedang duduk menunggu jemputannya memberikan kami seteguk air ketan, yaitu fermentasi ketan putih, ya ini ber-alkohol. Rasanya hangat dan saya menjaga diri agar tidak ketagihan. Cukup seteguk saja, sekedar berbasa-basi. Sekitar pukul 23:00 grup belakang tiba. Mereka tidak mendapat gangguan apapun namun mereka berjalan pelan karena memang sudah kelelahan. Setelah semua berkumpul, Ase memanggil mobil jemputan kami yang akan menjemput pukul 24:00.

Selamat Tinggal Lombok

Sesuai perjanjian, kami dijemput pukul 24:00 kali ini menggunakan ELF. Barang-barang dinaikkan di atas ELF lalu semua tertidur pulas kecuali saya. Bagaimana tidak, jalanan yang sepi dan sopir yang kelihatannya mengantuk membuat saya menjadi was-was. Sekitar pukul 02:00 dini hari kami tiba di Senggigi. Sudah ada penginapan untuk kami bermalam disini. Posisinya tepat di depan pantai Senggigi. Namun sesuai itinerari, kami mendapat makan malam, maka Ase memutuskan kita makan pecel Ayam/lele saja karena tinggal itu yang buka jam segini. Yang lain pun sepertinya sudah terlalu mengantuk dan lelah untuk makan. Akhirnya makanan dibungkus, kami makan sambil setengah tertidur, lalu tidur.

Besok paginya, satu per satu dari kami mulai berpamitan. Sani akan menyebrang ke Gili Trawangan dimana keluarganya sedang berlibur. Mira dan Zico menyusul kemudian karena mereka akan menjelajah Lombok jalur darat ke Lombok Timur bersama Dani, anak asli Lombok (batal ke Tambora karena sudah tidak kuat, hehehe muluk-muluk sih rencananya), Ase dan beberapa kawan lainnya akan melalui jalur laut (Pelabuhan Lembar), pulang lewat jalur darat ke Jakarta. Sedangkan Adam akan pulang pagi itu ke Balikpapan. Saya, Wahyu (Aditya) dan Rico akan menjelajah pantai-pantai di Lombok selatan setelah mengantar teman-teman yang lewat Pelabuhan Lembar, soalnya atas saran Ase, kami menggunakan pesawat yang paling sore. Tujuan kami saat itu ke Pantai Selong Belanak, yah lumayan lama kami disana sambil menunggu sore. Pukul 15:00 kami berangkat menuju bandara Lombok. Malam itu kami kembali ke Jakarta dan berpisah di Soetta.
Menikmati sisa waktu di Lombok dengan pergi ke Pantai Selong Belanak

-selesai-
----------------------------------------------------------------------------------

Mengenai Gunung Rinjani
Gunung Rinjani sangat populer di kalangan pendaki internasional. Hal ini terlihat dari terawatnya jalur pendakian dan banyaknya operator pendakian professional yang sering dipakai pendaki mancanegara. Rute pendakian khas daratan Nusa Tenggara, yaitu savana, di jalur Sembalun, jalur pendakian puncak yang berada di bibir kawah yang sempit dan diapit jurang dalam di kanan-kiri, serta hutan yang rapat di jalur Senaru.

Menuju Kesana
Untuk menuju ke Rinjani banyak jalur awal pendakian yang bisa dituju, namun yang paling populer adalah Sembalun dan Senaru. Dari bandara Lombok, kedua tempat tersebut bisa dituju dengan mobil sewaan selama 3 jam. Sangat disarankan menginap terlebih dahulu di desa sekitar Sembalun atau Senaru agar bisa mulai pendakian di pagi hari. Hal ini untuk menghindari terik matahari di savana Sembalun yang menguras tenaga untuk ke Puncak.

Curug Lontar (Cilontar), Keindahan Air Terjun Tersembunyi Di Bogor

Seperti kebiasaan tahun-tahun sebelumnya, sehabis shalat Iedul Fitri di kediaman Ayah-Ibu saya di Kota Bogor, kami akan mengunjungi sanak saudara kami. Biasanya, dimulai dari yang dekat-dekat dahulu, dan sesuai kebiasaan sebelum-sebelumnya, seluruh keluarga besar akan berkumpul di daerah Leuwiliang, karena sebagian besar sanak saudara dan mendiang Kakek dan Nenek tinggal. Salah satunya, tinggal di daerah Curug Lebak Kaum, dekat PLTA Kracak, desa Kracak. Tulisan ini tidak akan menceritakan lebih jauh mengenai keluarga saya, melainkan mengenai tempat yang cukup indah di daerah tersebut, namun tidak pernah/kurang terpublikasikan, sehingga hanya dinikmati oleh warga dan keluarga sekitar saja. Kali ini saya akan mengupas mengenai Curug Lontar atau Cilontar. Curug adalah kata dalam Bahasa Sunda yang artinya “Air Terjun”. Jika berbicara wisata Air Terjun di Bogor, umumnya akan disebut Curug Luhur, Curug Seribu, Curug Nangka, Curug Cilember, Curug Bidadari, dll, namun nama Curug Lontar jarang sekali disebutkan. Cobalah untuk browsing mengenai Curug ini dan hasilnya sangat sedikit. Curug Lontar, merupakan satu dari banyak air terjun indah tersembunyi yang berada di sekitar Bogor.
It was my family's tradition, whenever after Ied al Fitr pray at my parents town in Bogor, we will visit our relatives. The sequence was the nearest first, and as usual, our family and relatives will be gathering at Leuwiliang, where our most relatives and family live including were my grand family. One of them lives at Curug Lebak Kaum, near Kracak hydro-power generation unit, Kracak village. This blog will not further explaining my family's tradition, instead, a place that is quietly beautiful but most people didn't know about, so only nearby people and their family who enjoy this place. The place is Curug Lontar or Curug Cilontar. Curug in Sundanese means waterfall. If we recalled waterfall in Bogor, most people will refer to Curug Luhur, Curug Seribu, Curug Nangka, Curug Cilember, Curug Bidadari, and other famous waterfall nearby. But Curug Lontar was rarely been recalled. Try to search this waterfall in web and you will find less results. But, as a local, Curug Cilontar is one of the most beautiful waterfalls in Bogor
Curug Cilontar // Cilontar waterfall
Curug Cilontar merupakan bagian dari sungai Cianten yang berasal dari Pegunungan Halimun-Salak. Sungai ini akan bersatu dengan cabang aliran sungai Cikaniki dan bersatu dengan aliran sungai besar Cisadane, yang terkenal setiap bulan Januari-Februari setiap tahunnya karena dimonitor status ketinggian airnya melalui pintu air Cisadane karena menyebabkan banjir di daerah Tangerang. Air terjun dengan ketinggian 35 meter ini selalu dialiri debit air yang cukup deras sepanjang tahun, sehingga sungai pembentuk air terjun ini digunakan untuk sumber pembangkit listrik tenaga air (PLTA) Kracak sejak Zaman Penjajahan Belanda sekitar tahun 1926. Jika dilihat dari foto udara/satelit, dua pipa besar berwarna kuning akan terlihat tergeletak memanjang di sekitar daerah ini menuju Gunung Bubut, bendungan yang digunakan untuk PLTA tersebut.
Curug Cilontar was a part of Cianten river which came from springs in Halimun-Salak Mountain. This river will unite with other small rivers and Cikaniki river as Cisadane river system, which is well known as the cause of flood in Tangerang city during January-February. This 35m height waterfall is regularly supplied by high flow of river water along the year, so the river is used as the power source of hydro power generation unit (PLTA) since the Dutch colonial era, exactly around 1926. In satellite/birdeye view, two large yellow pipes will be seen laid along the area toward Gunung Bubut, the dam used for the power generation unit
Pipa kuning besar mengalirkan air untuk pembangkit listrik // Large yellow pipes transporting water for power generation

Air terjun yang indah ini sayangnya sangat berbahaya jika digunakan untuk berenang. Air terjun ini jatuh ke kubangan luas, yang luasnya kira-kira 7,000 meter persegi dan memiliki kedalaman yang konon mencapai lebih dari 26 meter. Kubangan ini sudah menelan banyak korban pengunjung yang nekat berenang di dalamnya. Bahaya lainnya adalah banjir bandang yang dalam Bahasa Sunda disebut “Caah”. Air terjun yang cukup jernih sehingga berwarna hijau-biru tosca ini secara tiba-tiba akan berwarna coklat gelap karena adanya lumpur yang terbawa debit air yang jauh lebih besar dari normalnya. Pijakan-pijakan batu sungai  di sekitar air terjun akan tenggelam dan pengunjung yang kurang waspada bisa tersapu arus banjir tersebut. Banjir bandang ini disebabkan oleh kenaikan debit air di daerah hulu (Pegunungan Halimun-Salak) akibat hujan. Oleh karena itu, meskipun cuaca di sekitar air terjun sedang cerah, namun jika di daerah hulu terlihat mendung, sebaiknya segera kembali ke tepian dan kembali ke perkampungan di atasnya. 
This beautiful waterfall, unfortunately is dangerous for swimming. The water falls into large pool, which around 7,000 sq.m. large and has the depth more than 26 meters. This calm pool has strong turbulent current in the pool bed, which already took some unfortunate victims by pulling them into the depth. The other danger is sudden flood which local called it Caah. This greenish tosca waterfall will suddenly change color to dark brown and followed by huge larger amount of flood carrying mud, rocks, and trees. All big stone where we took our step will be drowned by this flood, and unfortunate victim usually has no chance to escape and swept away. So, for safety reason, if the upstream (Halimun-Salak Mountain) is seen to be rain/dark even very bright sunny at the waterfall, we shall imediately leave the waterfall and return to nearby villages

Akses menuju Curug Cilontar jika menggunakan mobil pribadi, dari pintu tol Bogor menuju arah Kampus IPB Dramaga, lalu ke arah Leuwiliang. Sekitar 500 meter setelah jembatan besar Sungai Cianten di Leuwiliang, belok kiri dan ikuti jalan utama pedesaan menuju daerah Curug. Mobil bisa diparkir di sekitar pangkalan “mobil odong-odong” Curug. Jika menggunakan GPS, koordinat Curug Lontar adalah 06°38’13” LS dan 106°38’18” BT. Jika menggunakan kendaraan umum, dari Stasiun Bogor, naik angkot 02/03 hijau ke Terminal Bubulak/Laladon, dilanjutkan naik angkot 05 biru Jurusan Leuwiliang/Jasinga, turun di pertigaan Kracak, lalu dilanjutkan naik mobil Odong-Odong jurusan Puraseda, turun di pangkalan desa Curug. Dari jalan desa, cukup bertanya pada penduduk sekitar jalan masuk ke arah Curug Cilontar, umumnya merupakan jalan pekarangan belakang rumah warga. Jalan turunan berupa tanah yang sangat licin bila turun hujan dan rawan longsor. Jarak jalan tanah menuju curug hanya sekitar 200 meter, namun kemiringan jalannya cukup menyulitkan. Sebaiknya membawa bekal makanan ringan dan air minum dari jalan desa karena tidak ada penjual makanan/minuman di sekitar air terjun. Di musim kemarau, kawanan monyet abu-abu dari hutan sekitar akan banyak berada di sekitar Curug Lontar. Jadi, jika sedang berkunjung ke daerah wisata Perkebunan teh Cianten, jangan lupa menepi sebentar untuk menikmati keindahan Curug Lontar/Cilontar.
Access to Curug Cilontar, if using own transport/rent, from Bogor exit Jagorawi highway, heading west to IPB Dramaga University, straight the main road to Leuwiliang. 500 meters after Cianten Bridge, turn left and follow main road to Curug. The car can be parked at nearby village. If using GPS, the coordinate of this waterfall is 06°38’13” S dan 106°38’18” E. In the case of using public transport, from Bogor train station, pick minivan no 02/03 green, to Bubulak/Laladon Terminal, then 05 blue to Leuwiliang/Jasinga. Ask to be dropped at Kracak junction, then followed by an Isuzu Elf to Puraseda/Cianten tea plantation fields, ask to be dropped at Curug. From village main road, we can ask the way to the waterfall to locals. The entry is the backyard of local's house. The path is slippery and has potential of landslide during rainy season. The distance to waterfall is just about 200 meters, but the slope will make a big challenge. It is recommended to bring own meals and drinks from above, because there will be no any stalls nearby the waterfall. Just a natural waterfall. In drought season, there will be many grey macaque monkeys from nearby forest. So if you are visiting Cianten tea plantation field, don't forget to pull over and enjoy the natural beauty of this waterfall