Travelling

Exploring Indonesian's magnificent places is my passion

Mountain Bike

The most exercise I did during my free time

Photography

To capture the beauty of the places I've visited

Culinary

The other reason why I love to go traveling

Engineering

Because big dreams never come so easy

Moto-Adventure

Graze the road and enjoy the adventure from each and every miles

Tips Memotret Hewan Kesayangan

Memotret hewan kesayangan, baik peliharaan di rumah maupun di kebun binatang menurut saya sebenarnya cukup tricky. Alasan pertama adalah karena mereka tidak bisa diam dan cenderung bergerak, dan jika pemotretan kita menggunakan flash, dapat membuat hewan peliharaan kita trauma dan menghindar jika dibidik untuk difoto berikutnya, apalagi jika pengambilan pertama gagal. Di Saluran TV Animal Planet, kadang ada acara dimana sang pengisi acara dapat mengatur perilaku hewan peliharaan, apalagi profesi pengatur gaya hewan yang biasanya digunakan untuk pemotretan komersial. Namun bagi kita yang mungkin kurang akrab dengan hewan peliharaan atau pada hewan liar, mungkin bisa merepotkan. Berikut adalah tips pemotretan hewan peliharaan kesayangan menurut saya untuk mendapatkan hasil yang optimal:
Taking pictures of your beloved animals, from your pet to animals in zoo, are actually very tricky. The first reason is their movement, and if we are using speedlight, they might be traumatized and will be afraid for the next shot if your previous shots were failed. In Animal Planet TV program, there once a documentary of pet photographer in his job assisted by animal whisperer for commercial purpose. But if we don't have that ability, taking pictures of still pet/animal may be frustrating. Here are some tips for taking pictures of your beloved pet/animals
Kucing liar yang sering berkeliaran di kantor // Wild domestic cat that wandering around my office

1. Jika memungkinkan, ambil dalam keadaan naturalnya.
Kadang tingkah polah hewan yang lucu dan menggemaskanlah yang kita abadikan.
1. If possible, frame them in their natural behavior
Sometimes, their behavior will add a story behind our photos
2. Ambil dalam keadaan sedikit bergerak atau diam.
Jika akan mengambil foto peliharaan, buat agar dia diam pada posisi akan dibidik. Bisa dengan menggunakan makanan atau mainannya. Namun bukan artinya boleh dibius ya... hehehe
2. Make opportunity where they will stand still
Find any opportunities to take photos when they in still position to ensure the sharpness. We can frame them when they enjoying their meals or enjoying the toys. But don't anesthetize them,... lol
3. Fokus pada daerah pangkal hidung atau mata.
Orang-orang mengatakan mata adalah jendela hati, berlaku pula terhadap hewan. Apapun posisi mengambil foto pada hewan, jika bagian mata tidak tajam ataupun miss-focus, maka foto menjadi tidak "hidup"/tidak menarik. Kecuali memang ada bagian tertentu yang menjadi objeknya. Dan tentu saja, mata hewan tersebut melihat ke arah kamera.
3. Aim focus on or between their eyes
Wise word said eyes are the mind's window. This phrase is also applicable to animal. Any photos taken on animal, if their eyes are mis-focused, the photos will not be interesting, unless the intended object is specific part of the animal. And of course it will be better if your animal is looking straight at the camera.
4. Jika memungkinkan, ambil selevel mata hewan anda (eye level).
Ini artinya anda harus memposisikan kamera selevel mungkin dengan level mata hewan peliharaan anda. Karena pada posisi mata selevel memperlihatkan "personifikasi" atau kesetaraan seolah-olah bersikap manusiawi. Hal ini naluriah seperti halnya kita menasihati anak kecil, maka kita akan berjongkok selevel dengannya.
4. If possible, add perspective of eye level
It means that we shall place the camera at the same height with their eyes. This perspective will add personification perspective or equity or a sense of their behavior as human. This is natural as we tell our child, to get best effect, we shall look straight and lowering down our body to their level. The point of view higher from eye level will leave a sense of teaching, intimidating, or bossy.
5. Hindari flash.
Selain menghindari efek trauma pada hewan kesayangan anda, beberapa spesies hewan nokturnal atau yang matanya peka terhadap cahaya akan stress jika terkena flash. Kecuali untuk pemotretan studio yang didampingi pelatih/penata gaya hewan.
5. Avoid direct flash
For the purpose of avoid traumatized experience to our pet, some nocturnal species have greater sensitivity of light and flash surely will make them stressed.
6. Jika hewan berbulu, gunakan bukaan diafragma besar untuk menegaskan bulu-bulunya.
Efek backlighting atau cahaya belakang dan penggunaan bukaan diafragma besar dapat menegaskan kelembutan bulu hewan kesayangan. Sayangnya pada kamera saku digital ekonomis, bukaan diafragma tidak bisa diatur, namun penggunaan mode "macro" dapat mendekati pengaturan ini.
6. For furry animals, use widest aperture available to emphasize their furs.
Backlighting technique and the use of wide aperture will effectively emphasize our animal's furs. Unfortunately, this feature is not available in pocket/prosumer camera, but preset "macro" might create equal result.
7. Untuk hewan yang liar atau berbahaya/tidak bisa didekati, gunakan lensa telephoto.
Hasil foto yang sempurna tidak sebanding dengan keselamatan anda. Safety first!.
7. Use telephoto lens for dangerous or wild animal.
The great photo result is not worthy if compared with our safety. Safety first!
Anak harimau Bengala dihukum di dalam kotak karena memberontak saat sesi berfoto di Taman Safari Cisarua // Bengal white tiger cubs is placed in detention box due to its bad behavior during photoshoot in Safari Garden Zoo

Teknik Fotografi HDR

Teknik fotografi HDR atau (High Dynamic Range), sudah bukan hal yang asing lagi. Dikembangkan sejak zaman fotografi film dengan metode penggabungan negatif film, lalu berkembang metode seleksi tonal dengan dodging dan burning, lalu merambah ke teknologi kamera digital. Pada teknologi digital ini idenya adalah mengambil foto yang sama dengan beberapa eksposur lalu digabungkan menjadi satu foto (blending) baik secara manual dengan post-processing atau secara otomatis bawaan kamera atau program kamera. Kemampuan ini bahkan tidak hanya dimiliki oleh kamera canggih DSLR, namun juga kamera saku bahkan kamera bawaan ponsel pintar pun sudah dibekali kemampuan ini.
HDR or High Dynamic Range is a popular technique in post processing images taken by camera. It produces very high dynamic range of details. Established since analogue camera, HDR images was created by combining film negative then the new technique was developed by tones selection with dodging and burning technique during film development (from wikipedia). In digital era, the idea of this technique was developed by combining the same frame of photos in different exposure in post processing software of in-camera-processing algorithm. This ability is not only available in decent dslr, but also prosumer and pocket camera, even the smartphone

Pada post-processing atau rekayasa digital, dikenal juga metode pseudo-hdr, dimana foto eksposur tunggal bisa dibuat menjadi HDR dengan memisah-misahkannya menjadi beberapa eksposur lalu digabung kembali. Metode ini memiliki kelemahan, yaitu tidak bisa menyelamatkan kehilangan detail akibat clipping, atau menerjemahkan cahaya menjadi 100% putih atau 100% hitam akibat range kontras yang tidak dapat ditoleransi sensor kamera
In post-processing, there also pseudo-HDR technique where single image can be converted into HDR by separate editing the image into several images with different exposure then re-combined into HDR image.  This method has weakness, which is can not regain the detail from clipping, a weakness in digital photography, where high contras range will make the light image as plain white and dark image as plain black.

Foto HDR yang baik, menurut saya, harus seperti prinsip awalnya, yaitu mempertahankan detail se-natural mungkin, meskipun banyak foto HDR di dunia maya, dimana kontras dan saturasi dibuat sangat ekstrim, sehingga foto tampak seperti lukisan. Namun yang pasti, pemilihan rentang eksposur harus tepat, karena jika kurang tepat, akan muncul seperti pendaran "glow" yang terlihat jelas di perbatasan dua kontras yang tinggi.
For me, good HDR images shall be based on the original purpose of HDR imaging, which is to preserve detail that is can not be captured by camera sensor due to high contrast. Nowadays the HDR images can be created surrealism-ly, painterly, even like an abstract painting. The good HDR shall be made with good selection of exposure range, because if it misfits, an obvious glowing area will be produced in borders of high contrast region.
Ekskavator tua di hari senja // Retired Escavator in the dawn

Penambang Belerang, Gas Vulkanik, Dan Danau Pelebur Baja

Saya teringat beberapa bulan lalu, saat penerbangan ke Bali dari Sidoarjo. Saat itu cuaca sangat cerah, dimana di penerbangan yang singkat tersebut, saya yang duduk di kursi dekat jendela, terus melacak daratan di bawah, untuk menguji kemampuan geografis saya. Sampai suatu ketika pandangan saya terpaku pada pemandangan satu gunung berbentuk kerucut sempurna dengan asap membumbung dari kawahnya yang berwarna merah menyala. Tidak jauh dari situ terdapat danau luas berwarna hijau tosca yang langsung saya kenali sebagai Kawah Ijen. Rasa penasaran itu saya bawa sampai ke hotel di Bali. Sambil tiduran di ranjang yang agak keras, saya mencari info mengenai gunung ini. Dari ketiga gunung yang mengapit Kawah Ijen, saya yakin 1,000% kalau gunung berpijar yang saya lihat dari atas pesawat adalah Gunung Raung.
I remembered a few months ago, during my flight to Bali from Sidoarjo. The sky was clear, while looking outside the airplane window,  I tracked the ground below and tested my own geography knowledge. Until one time I saw a summit, a perfect coned shape, with its incandescent crater releasing a large amount of smoke, but I don't know anything about this active volcano. Nearby, I saw a tosca green large lake with smokes from its corner, that I could directly recognized it as Ijen Crater. This curiosity still accompanied me to the hotel in Bali. While relaxing on the couch and browsing using hotel's wifi, I was looking for any information about that mount. From three mounts nearby Ijen Crater, 1,000% sure it was Raung Mount. Then I promised myself will took a closer look. I will visit Ijen Crater
Kawah Ijen // Ijen Crater Rim

Sudah tiga bulan lamanya dan akhirnya sekarang saya sedang berada di Kaki Gunung Ijen, tepatnya di Pos Paltuding, kantor yang menangani kegiatan tambang belerang sehari-hari. Sudah pukul 05:00 pagi, artinya kami sudah terlambat untuk menyaksikan si Api Biru "Blue Fire" Ijen. Perjalanan menanjak sejauh 3 km sudah menanti saya.
Three months later, I visited Merapi-Ijen Mount for Ijen Crater. It was 05:00 am. that I already missed the phenomenal blue fire. The 3 km ascending track was waiting to be conquered
Kawah Ijen // Ijen Crater

Waktu tempuh ke pinggir kawah rata-rata adalah 2 jam. Dan 2 jam berikutnya saya disuguhi pemandangan yang sangat indah, meskipun di baliknya terdapat pejuang-pejuang keluarga yang mempertaruhkan keselamatannya untuk menghidupi keluarganya. Membawa pikulan dua keranjang penuh bongkahan belerang kuning 300m di dasar kawah, lalu dilanjutkan dengan 1.5km ke pos pengumpul, bukan pekerjaan yang kebanyakan orang mampu melakukannya. Lapisan otot yang mengeras di bahu mereka memperlihatkan betapa keras hidup para penambang ini. Danau Kawah Ijen sendiri bersifat sangat asam, yaitu dengan pH sekitar 0.5, sudah kategori asam kuat. Sangat kecil kemungkinan selamat jika sampai tercebur ke danau tersebut. Karena itu ada batas-batas zona bahaya untuk menghindari bahaya terperosok ke dalam kawah. Untuk mendapat pendapatan lebih, para penambang membuat kerajinan dari batuan belerang murni. Namun di balik keindahannya, belerang adalah belerang. Selain berbau busuk, belerang murni sebenarnya beracun untuk tubuh, bahkan untuk sekedar terkena kulit. Untuk digunakan sebagai antiseptik saat mandi, sabun antiseptik pun memiliki kadar belerang yang kecil.
The time required to reach the crater rim is approximately 2 hours for most people. The scenery was beautiful but behind this beauty, there were many workers that risking their life to feed their family. They brought two basket full of pure solid sulfur from the crater below up to crater rim 300m ahead then down the sandy track 3 km to Paltuding gathering station. The hardened skin on their shoulder revealed how hard their work. The Lake itself is a pool of strong sulfuric acid with pH approximately 0.5. A miracle if someone accidentally get into the lake and survived. That is the reason the safety perimeter was deployed by the warning sign around the rim. The gas also poisonous if breathed directly and causing someone to lose consciousness. To get extra earnings, the miners sell the souvenir made from sulfur casts. Pure sulfur actually is poisonous and produce strong odor. That sulfur rock can't be used as antiseptic soap, because the use of sulfur in antiseptic soap is in a little concentration and scientifically measured
Beban penambang belerang // The load Sulfur miners carried

Mengenai Kawah Ijen
Kawah Ijen berada di antara Kabupaten Banyuwangi dan Bondowoso. Sebenarnya masuk kategori cagar alam, namun sudah dieksploitasi sebagai obyek wisata. Ventilasi gas vulkanik yang membawa belerang cair dari perut bumi, dialirkan ke kubangan lalu dibiarkan beku. Batuan belerang tersebut dipecahkan menjadi bongkahan-bongkahan untuk diangkut.
About Ijen Crater
Ijen Crater located between Banyuwangi and Bondowoso. It actually reserved as Natural Conservation, but has been long exploited as tourist attraction. Volcanic gas vent that brought sulfur gas from the earth are condensed and streamed to the pools. The liquid sulfur then solidified, crushed into small pieces, then carried to gathering station.
 Danau asam sulfat berwarna hijau tosca // The tosca greenish sulphuric acid lake
Turis asing yang berkunjung ke Kawah Ijen // Foreign visitor at Ijen Crater

Menuju Kesana
Jujur saja saya tertidur saat perjalanan ke tempat ini. Jadi saya belum bisa memberikan petunjuk arah menuju kesana.
How to get there
Honestly, I don't have any idea the route my driver used to get there. I slept along the trip.
Rombongan perjalanan (foto oleh Saleh Hamid) // Traveler Group (photo by Saleh Hamid)
Kerajinan dari bekuan sulfur cair // Handycraft made from liquid sulfur cast

Laguna Cantik Pulau Sempu

Pada trip backpacker kali ini, berawal dari ide seorang backpacker cewek di grup backpacker ke Sawarna untuk melakukan petualangan panjang Papuma, Ijen, Baluran, yang akhirnya Papuma dibatalkan karena kondisi cuaca, sehingga menjadi Sempu, Ijen, dan Baluran. Pulau Sempu menjadi tujuan pertama perjalanan ini, karena paling dekat dari stasiun Malang. Dari Jakarta kami berangkat menggunakan KA. Matarmaja kelas ekonomi, perjalanan melelahkan selama hampir 18 Jam sudah dilewati dengan duduk di kursi kereta yang keras. Saya tidak bisa tidur selama di perjalanan karena para penjual makanan dan minuman selalu menawarkan jualannya di dalam kereta yang penuh. Seorang backpacker asal Wonogiri mengatur penyewaan minibus ELF yang akan kami pakai dalam perjalanan ini. ELF tersebut parkir di depan Stasiun Kota Malang Baru, dan tidak menunggu lama sejak kereta tiba di Malang, kami langsung naik ke ELF dan menuju Pantai Sendang Biru.
In this backpacker trip, it was started by the idea from female backpacker from previous group to Sawarna to do the long trip to Papuma, Ijen, and Baluran, which then Papuma was cancelled due to weather condition, so the trip destination was changed to Sempu, Ijen, and Baluran. Sempu island will be our first destination because it was the closest distance amongst other destination from Malang Kota Baru train station. We got here using Matarmaja train economy class, an exhausting journey on train for about 18 hours sitting on the hard passenger's seat. I couldn't barely sleep at all, because of the food and drink seller offering their goods inside the crowded train. A backpacker from Wonogiri organize our transportation along the trip, which was minibus ELF. The ELF was parked in front of Malang Kota Baru train station's exit. Without any delay, we directly get in on the ELF and went straight to Sendang Biru beach.
Laguna Segara Anakan di Pulau Sempu // Segara Anakan Lagoon in Sempu Island
Kami sampai di Sendang Biru pada tengah siang hari. Sebagian dari kami langsung mencari kapal nelayan yang biasa mengantarkan wisatawan menyebrang ke Pulau Sempu. Sebagian lainnya pergi untuk Shalat Jumat dan menyiapkan Surat Izin Memasuki Kawasan Konservasi (SIMAKSI). Setelah selesai istirahat, sholat, dan makan siang, kami melanjutkan perjalanan menyebrang ke Pulau Sempu. Kami tidak membawa tenda karena kami merencanakan perjalanan pulang pergi. Tidak seperti pada tahun 2011 dimana saya dan beberapa rekan backpacker Sawarna memutuskan untuk menginap di Pulau Sempu dan tragisnya, kami terkepung badai dan gelombang tinggi sehingga kami terpaksa evakuasi ke daerah tinggi di Pulau Sempu pada tengah malam hari. Pada perjalanan ini, kami sudah melakukan perjanjian dengan pemilik kapal untuk menjemput kami sore nanti.
We arrived at noon at Sendang Biru. Some of us went searching fisherman's boat that usually picking up tourist to Sempu Island. Some others went for friday praying and then getting entrance permit into conservation area (SIMAKSI). After resting, praying, and taking our lunch, we continue our journey to Sempu Island. We didn't prepare to camp there overnight because we were planning return trip at Sempu. Unlike in 2011 where me and my fellow backpacker from Sawarna group decided to camp overnight at Sempu island which it turned to tragic evacuation in the midnight because of storm and huge waves. This time, we already made agreement with the boat owner to picked us at the afternoon.
Gelombang raksasa dan badai ketika saya mengunjungi Sempu di 2011, ketinggian hempasan ombak diperkirakan 50 meter // The huge waves and storm when I came to Sempu in 2011, The height of the splash approx. 50 meters

Tujuan target kami di Pulau Sempu adalah laguna-nya yang terletak di bagian paling selatan di Pulau ini. Laguna itu dinamakan Segara Anakan, nama yang sama dengan danau vulkanik di Gunung Rinjani. Untuk menuju kesana, diperlukan trekking selama 1.5 jam menyusuri bukit-bukit karang dan tanah lempung yang licin bila hujan. Waktu tempuh tersebut standar, diasumsikan istirahat secukupnya dan kondisi jalanan kering. Danau atau laguna tersebut akan terlihat indah saat hari cerah. Padahal pulau ini masuk kategori hutan lindung, namun tetap saja ada yang melakukan kemping dengan tidak mengindahkan peraturan di SIMAKSI, yaitu tidak merambah kayu-kayu untuk api unggun serta membawa kembali sampah ke Sendang Biru. Dengan mudahnya kami menemukan sampah disana dan beberapa tenda yang sudah didirikan beserta tumpukan kayu untuk api unggun. Ya sudahlah, akhirnya kami tiba di pasir pantai Laguna dan menikmati pemandangan. Saya dan sebagian lainnya mencoba untuk memanjat tebing tertinggi di sisi tembok pulau Sempu yang menghalau gelombang tinggi dari Samudera Hindia. Setelah menikmati pemandangan dari atas, kami bersiap-siap untuk kembali ke Sendang Biru.
The target destination at Sempu Island is its lagoon at the most southern part of this island. It named Segara Anakan Lagoon, the same name with the volcanic lake at Rinjani Mount. To get there, 1.5 hours trekking is required through sharp coral rocks and clay soil those very slippery if wet. The standard trekking duration of 1.5 hours will be attained if took enough rest and the track is not wet. The lake or the lagoon will be beautifully sighted in the clear weather. Although this Island belongs to conservation area, some irresponsible visitor camped here by violating the rules written on SIMAKSI, which notably are the ban of taking the branches for campfire and the rule to bring the garbage back to Sendang Biru. Well, we can't do nothing about it, so we enjoy the view of the lagoon at the sandy beach. Me and some others tried to climb the rocky hill at the outer side of Laguna wall, which separate the lagoon with the fierce waves from Indian Oceans. After we finished enjoying the sight from above, we prepare to return to Sendang Biru.
Pemandangan dari atas tebing // The view on top the cliff
Pemandangan tebing ke arah laut // The cliff view to the Oceans
Sisi dinding terluar yang berbatasan dengan Samudra Hindia // The outer side of the wall that directly aside with Indian Oceans

Tips : Jangan lupa membawa buah-buahan kesini karena akan sangat membantu dalam mengobati rasa haus dan memulihkan tenaga setelah trekking, terutama jika akan pergi bolak-balik.
Tips : Don't forget to bring some fruits here because it will help to re-hydration and recuperate the energy spent on trekking, moreover if the trip is round trip.
Apel Malang sangat cocok untuk dibawa sebagai bekal // Malang Apple is very suitable for the energy snack

Pura Luhur Panataran Tanah Lot

Kunjungan saya ke pura ini sebenarnya kebetulan, karena ada acara pernikahan rekan kantor saya di Surabaya. Daripada langsung pulang ke Jakarta setelah acara, saya merencanakan perjalanan ke Bali bersama adik saya, sekaligus pengalaman pertamanya naik pesawat. Saya menginap satu malam di Hotel Sinar 2 jika tidak salah, di Sidoarjo, dekat dengan Bandara Juanda. Adik saya dititipkan di hotel sementara saya menghadiri acara pernikahan. Kami berencana mengambil penerbangan pagi ke Bandara Ngurah Rai di Bali. Layanan antar jemput hotel mengantar kami ke Bandara untuk mengejar penerbangan tersebut.
My visit to this temple was actually during opportunity of my colleague's wedding in Surabaya. Despite of directly return to Jakarta after the ceremony, I planned to took the flight to Bali with my little brother, because it was his first time traveling with an airplane. I spend one night in Sidoarjo, in a hotel, Sinar Hotel 2 I recalled, near Juanda airport. I told my brother to rest there while I attended the wedding ceremony. The day after, we took the morning flight to Ngurah Rai Airport in Bali. The hotel shuttle service carried us to Juanda airport to catch the flight.

Ombak menghantam karang tempat Pura Tanah Lot // Sea waves hit the rock where lies Temple at Tanah Lot
Monumen bom bali // Bali bombing monument

Setibanya di Bali, kami menggunakan jasa Ojek untuk mengantar kami ke Hotel Sandat Inn di Legian, yang merupakan salah satu hotel budget disana. Alasan kami memilih ojek agar bisa melewati gang-gang sempit di Gang Poppies dan terhindar dari macet di Jalan Kuta dan Legian itu sendiri. Hotel tersebut sudah saya pesan beberapa hari sebelumnya dan merupakan kali ketiga saya menggunakan hotel itu untuk berlibur di Bali. Menurut saya, harga yang ditawarkan hotel tersebut sangat cocok di kantong dan dibandingkan dengan hotel bertarif sama di Gang Poppies, fasilitas di hotel itu lebih baik, yaitu kolam renang, wifi gratis yang sampai ke kolam renang dan kamar, parkir luas yang bisa untuk mobil dan motor (sesuatu yang tidak ditemukan di Gang Poppies), serta posisinya di hampir ujung Jalan Legian sehingga memudahkan jika harus mengejar pesawat atau pergi keluar tanpa harus mengikuti jalur Kuta dan Legian lagi. Kekurangannya, karena terletak di Jalan Legian yang terkenal dengan dunia malamnya, suara dentuman musik di malam hari tidak bisa dihindari. Tidak cocok untuk yang mencari ketenangan berlibur di Bali. Setelah sampai di hotel dan membereskan barang-barang bawaan di kamar, saya mencari motor sewaan untuk dipakai selama 2 hari. Kami rencananya hanya menginap semalam dan akan kembali ke Jakarta besoknya. Itinerari saya sederhana, hanya Tanah Lot di hari pertama lalu belanja oleh-oleh di hari kedua.
As we arrived in Bali, we use motorcycle taxi to carry us to Sandat Inn Hotel at Legian, one of the budget hotel available. The reason we choose motorcycle taxi was its ability to use shortcut route via Poppies lane thus avoid traffic at Kuta street and Legian street. The hotel had been booked a few days before and that was my third time using that hotel during vacation at Bali. In my opinion, that hotel has the best facilities amongst the same tarif of budget hotel around Poppies lane, which is swimming pool, free wifi that accessible up to pool and rooms, large parking area for cars and motorcycle (the one thing that hotels in Poppies lane didn't have), also its position near the end of Legian street, which easily accessible if we are in hurry to Airport or going around, where we don't have to drive through Kuta lanes and Legian street. The cons are its location at Legian street where known as nightlife heaven, the sound of bar and pub music are unavoidable. This place is not intended for the one vacation demanding Balinese serenity. Once we arrived at the Hotel and unpacking our backpacks, we find a motorcycle for rent for two days. Our plan was just spending two days one night here before return to Jakarta. Our itinerary was simple, which was Tanah Lot for the first day and Souvenir hunting for the second day.

Suasana kolam Hotel Sandat // Swimming pool at Sandat Inn
A statue Sandat dancer in Bali Sandat Inn hotel // Patung penari Sandat di hotel Bali Sandat Inn
Pura Batu Bolong // Batu Bolong Temple

Perjalanan ke Tanah Lot sangat membingungkan jika kita menggunakan Google maps, percaya deh. Jalur yang paling mudah tapi jauh adalah lewat jalan utama Sunset Road dan kita akan menemukan penanda arah sepanjang perjalanan. Tapi jika mau tantangan, merasakan Bali lebih alami, dan lebih cepat lewat jalan pintas, maka jalan melewati desa dan persawahan adalah yang terbaik. Tapi kita harus mempersiapkan jalur alternatif karena jalur pedesaan kadang ditutup untuk upacara keagamaan. Saya mengalaminya berkali-kali karena jalan yang saya ingat saat dulu ke Tanah Lot mengikuti rombongan turis asing berkendara motor, ternyata ditutup. Saya sudah mencari jalur alternatif berkali-kali namun yang saya temui juga jalan ditutup. Metode yang paling efektif adalah lupakan GPS dan mulai bertanya pada penduduk lokal, dan metode ini berhasil, hehehe.
Journey to Tanah Lot is tricky if we used Google maps, trust me. The easy one is following sunset Road and you'll find the sign. But if we want shortcut, the road through villages and local's farms is the best. But we have to be prepare for finding another route if the road is blocked for a religious ceremony was held. I experienced this because I remember the route from my last visit to Tanah Lot, because I just followed a foreign tourist' motorcycle convoy. But when I tracked this route that time, the road was blocked. Silly me, so I have to diverted my route a lot of times and found another blockade. The most effective method was forget about GPS and start asking direction to locals, and that was worked, lol.
Peselancar di Tanah Lot // Surfer at Tanah Lot

Saat itu di Tanah Lot tidak terlalu dipenuhi pengunjung, namun tetap ramai. Mungkin karena hari kerja. Saya berkeliling dari Pura Luhur Panataran Tanah Lot, Pura Batu Bolong, lalu berlanjut ke ujung Barat dimana ada restoran di tepi Jurang yang dipersiapkan untuk acara Pernikahan. Saat itu juga saya bertemu artis Indonesia, yaitu Indra Bekty, namun karena saya tidak ngefans, saya acuhkan saja dia. Saya disana hingga sunset tenggelam dan pulang ke hotel pada malam hari. Menikmati sunset disana merupakan pengalaman yang sangat indah dan sangat merelaksasi pikiran.
Tanah Lot was not crowded that time but still a lot of visitor seen. Maybe it because that day is a normal working day. I wandered around Luhur Panataran Temple, Batu Bolong Temple, until the most west edge of this complex where a restaurant aside of cliff was being prepared for wedding ceremonial. I also saw Indonesian artist, Indra Bekty, but because I'm not a fan of him, I don't give any single attention. I was there until the sunset and return at night. Enjoying sunset here was a relaxing experience with the beautiful view there.
Matahari terbenam di Pura Luhur Panataran // Sunset at Luhur Panataran Temple